Erabaru.net. Setiap orangtua pasti ingin melihat anak mereka senang dan gembira selama masa kanak-kanak serta mendapatkan pendidikan yang baik dan sempurna. Tetapi seorang ayah mengungkapkan kekecewaan dan kesedihannya ketika dia melihat anaknya menghabiskan waktu setiap hari hanya mengerjakan pekerjaan sekolah sampai larut malam dan kadang-kadang sampai dini hari.

Hati seorang ayah yang bekerja sebagai fotografer merasa sangat sakit setiap kali dia melihat putranya tidak berhenti menulis dan menyelesaikan pekerjaan sekolah setiap hari. Setelah menyelesaikan tugasnya dan mengirimnya ke sekolah, dia diberi lebih banyak pekerjaan oleh guru untuk disiapkan sekali lagi. Proses siklus kehidupan yang melelahkan bagi seorang anak. Untuk waktu yang panjang, anak-anak ini tidak mendapatkan istirahat yang cukup.

Ilustrasi. (Internet)

Fotografer bernama Lin ini mengatakan dia tidak pernah berpikir dan bermaksud menjadikan putranya seorang sarjana atau guru referensi di masa depan. Dia berkata,: “Saya tidak pernah peduli tentang hasil pelajaran atau prestasinya di sekolah. Saya hanya berharap anak saya tumbuh dengan bahagia. “

Namun, masa kehidupan yang bahagia di sekolah pada awalnya sangat bagus, telah berubah setelah 4 tahun kemudian. Putra Lin terus dibebani tugas menyelesaikan sekolah sampai dini hari. Ibunya terbangun jam 3 pagi dan hatinya menjadi sedih dan pilu ketika dia melihat putranya tidur mendekap di atas meja.

(Foto: Synersteel)

Lin, yang masih sabar, telah bertemu seorang guru di sekolah putranya untuk memecahkan masalah ini. Namun, sekolah merespon dan alasan bahwa jika siswa kurang peduli dengan tugas sekolah, maka ‘tekanan di sekolah menengah pasti lebih besar’. Ini telah membuat Lin yang tidak pernah peduli dengan persaingan di sekolah anaknya, merasa sangat kecewa.

Lin harus menyuarakan keberatannya terhadap sistem pendidikan yang sangat membebani ini. Praktek pendidikan yang tidak hanya menyita waktu siswa dengan keluarga mereka tetapi juga telah menyimpang nilai-nilai dan perasaan anak-anak ini untuk kehidupan yang senang dan bahagia.

Sampai Lin tidak bisa lagi menahan amarahnya dan berbicara dengan istri dan putranya. Lin bertanya kepada putranya, :”Apakah kamu bisa menyelesaikan pekerjaan sekolah hari ini?” Anak laki-lakinya menggelengkan kepala, dan Lin terus mengambil buku pelajaran dan merobeknya.

Lin mengatakan lagi kepada anaknya, : “Ayah merobek buku teks ini, dan beritahu guru kamu, ‘Ayah saya yang merobek buku teks’.” Lin juga memberitahu istrinya tentang perpindahan sekolah anak mereka.

Keesokan harinya, seorang guru sekolah mengirim pesan singkat yang mengatakan,: “Bagaimana mendidik seorang anak dapat didiskusikan, tetapi pekerjaan dari sekolah yang berutang masih harus diselesaikan dan diserahkan.”

Lin, yang sangat kecewa dengan pesanan, berkata,: “Sekolah telah berputu asa dengan anak saya, jadi saya harus putus dengan sekolah ini.” Lin juga menambahkan nama kepala sekolah sebagai teman di Facebook, dan dia melihat posting Lin telah merobek buku teks, tetapi kepala sekolah juga ‘tidak bisa berbuat apa-apa’.

Lin memberitahu kita bagaimana mendidik anak-anak dengan cara yang berhasil. Putranya dapat naik kendaraan sendiri dari Xinzhu ke Taipei, dan bahkan ke Taidong untuk menemukan ayahnya. Putrinya yang di sekolah menengah baik memasak makanan yang lezat sebagai makanan keluarga.

Lin mengeluh dan khawatir tentang sistem pendidikan saat ini yang menekankan pentingnya ujian dan prestasi, dan tidak lagi memikirkan apa pendidikan yang sebenarnya. Keterampilan anak-anak mempelajari makna kehidupan dan kreativitas untuk berpikir telah dihapus oleh buku teks di sekolah.(yant)

Sumber: erabaru.my

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds