Erabaru.net. Seorang etnis Tionghoa yang bergelut di bidang teknologi tinggi di Amerika Serikat menuliskan kesan dan pesannya kepada Epoch Times, “Tidak ada salahnya Tiongkok mengembangkan teknologi tinggi, tetapi ia harus mematuhi norma yang berlaku di dunia internasional”.

Masih banyak etnis Tionghoa di seluruh dunia belum memahami mengapa pemerintah AS mengenakan “Tarif 301” terhadap program Made in

“Tarif 301” itu terkesan Amerika Serikat terlalu sombong dan bertindak sewenang-wenang dan berusaha mencegah Tiongkok berkembang. Ada kesalahpahaman terkait itu.

Made in China 2025 merupakan pedoman penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi Komunis Tiongkok di masa depan. Dengan tercapainya swasembada teknologi maka Tiongkok akan mampu untuk menempatkan diri di posisi terkemuka dunia dalam bidang teknologi canggih tertentu.

Tiongkok enggan menyebutkan bahwa program Made In China 2025 akan dicapai melalui cara “Beli” dan atau “Curi”. Itu menjadi alasan dasar mengapa AS melakukan “Penyidikan 301”.

Sumber yang berkecimpung di dunia IT (Information Technologi) mengatakan bahwa, di satu pihak Komunis Tiongkok menggunakan peraturan premanisme, mengharuskan perusahaan asing yang beroperasi di Tiongkok untuk berbagi teknologi milik mereka.

Selain itu, Tiongkok mengirim sejumlah spionase dibidang perdagangan dan teknologi untuk mencuri langsung dari perusahaan-perusahaan AS.

“Seribu satu cara mereka lakukan,” kata sumber itu.

Setelah menguasai teknologinya, Komunis Tiongkok menggunakan cara-cara seperti perang harga, membanting harga meskipun merugi demi merebut pasar dan menggeser pesaing keluar pasar. Ujungnya, Tiongkok akan memonopoli pasar, melakukan produksi massal terhadap jenis produk tertentu untuk mendistorsi kondisi operasional industri terkait.

“Menghadapi serangan dari kiri dan kanan, banyak perusahaan Amerika Serikat akhirnya memilih keluar dari pasar, melakukan PHK” kata sumber itu.

Akibatnya banyak etnis Tionghoa di Amerika Serikat juga menjadi korban. Dengan kata lain, Made In China 2025 juga merupakan program merebut ‘mangkuk nasi’ para etnis Tionghoa yang berkecimpung di industri teknologi tinggi.

Lalu, apa alasannya harus mendukung program itu?”

Sebelumnya, ada sejumlah media di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Komunis Tiongkok tidak mementingkan investasi, tapi hanya berkonsentrasi pada mendapat hasil tanpa usaha, mencuri teknologi dari Amerika Serikat, dan mengembangkannya.

Cara yang dilakukan termasuk memaksa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di Tiongkok mengalihkan teknologi sebagai ‘alat tukar’ akses pasar di Tiongkok. Mendorong perusahaan Tiongkok yang beroperasi di luar negeri untuk mengakuisisi perusahaan teknologi tinggi asing di luar negeri.

Komunis Tiongkok mencuri rahasia dagang melalui jaringan mata-mata, mencuri rahasia dagang milik perusahaan asing, membentuk front persatuan di luar negeri, mengembangkan Program Talenta Seribu untuk merekrut karyawan kunci perusahaan teknologi tinggi dari luar negeri.

New York Times melaporkan bahwa telah terbukti bahwa kemakmuran teknologi Komunis Tiongkok sebagian besar dibangun di atas pondasi teknologi yang diciptakan oleh Barat.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dalam sidang dengar pendapat di Kongres Amerika Serikat pada bulan Mei lalu, telah menyinggung soal Made In China 2025. Dia mengatakan jika program Komunis Tiongkok untuk tahun 2025 itu bersaing secara fair dengan negara lain, itu tidak masalah.

Melalui gelontoran dana subsidi sebesar USD. 300 miliar, Tiongkok berupaya mencegah pesaing masuk pasar, pengalihan paksa teknologi dan cara-cara lainnya, mengorbankan negara lain demi kepentingan sendiri, dan itu adalah masalah lain.

“Saya memiliki sebuah daftar, jika Anda mau, akan saya beli semuanya,” kata Robert menggambarkan rencana 2025 itu.

Robert mengambil contoh teknologi tinggi seperti robot, kendaraan energi baru, dan alat transportasi berkecepatan tinggi yang baru muncul di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir. Namun sekarang Komunis Tiongkok mengatakan bahwa mereka siap untuk menginvestasikan jutaan dolar untuk mendapatkan sumber daya. Sesuai dengan daftar rencana mendapatkan teknologi, jelas tercermin bahwa Tiongkok berambisi untuk menjadi pemimpin di bidang itu melalui sarana ekonomi.

“Kategori-kategori ini secara eksplisit adalah teknologi yang mereka ingin dapatkan dari kami, tentu saja saya merekomendasikan pengusutan 301 yang difokuskan pada isi dari daftar itu,” kata Robert Lighthizer. (sin/rpg)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular