Tanggal 12 hingga 14 Oktober lalu, IMF dan Bank Dunia (WB) menghelat rapat tahunannya di Bali. Berbeda dengan sebelumnya, perwakilan Tiongkok menuai kritik dari para peserta rapat lainnya, lebih banyak orang mendukung sikap Amerika Serikat, dan menghimbau organisasi internasional serta semua negara agar bersama-sama hadapi perilaku dagang tidak adil oleh PKT(Partai Komunis Tiongkok).

Reuters memberitakan, tiga hari pertama Presiden Trump dilantik Januari 2017 lalu, pemimpin negara Tiongkok Xi Jinping menyampaikan pidatonya pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, mendeskripsikan Beijing sebagai “pembela globalisasi”, suatu upaya untuk meredakan kekhawatiran masyarakat terhadap paham proteksionisme perdagangan.

Tapi belum genap dua tahun, sinar gemerlap PKT di pentas internasional itu sudah memudar, lebih banyak lagi organisasi internasional dan negara yang secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap Trump yang telah memberlakukan bea masuk yang sifatnya menghukum terhadap produk dari RRT, menandai benar adanya perilaku dagang tidak adil PKT, serta beranggapan bahwa perdagangan dan investasi Beijing wajib menaati peraturan internasional.

Mantan direktur Institute of International Finance yakni Charles Dallara baru-baru ini pada rapat tahunan IMF & WB tahun 2018 mengatakan, “Menurut saya saat ini negara Barat rata-rata memiliki pandangan yang sama, yakni PKT dalam hal tertentu telah memanfaatkan sistem (ekonomi dagang internasional) ini.”

Tidak hanya pemerintahan Trump, pada organisasi internasional juga muncul inisiatif untuk merestrukturisasi sistem ekonomi dagang internasional ini.

Presiden IMF Christine Lagarde pada rapat tersebut mengatakan, “Ini (restrukturisasi organisasi ekonomi dagang internasional) menandakan perlu dipertimbangkan efek terdistorsi yang timbul akibat subsidi negara, memperbaiki penegakan hukum bagi kekayaan intelektual, dan mengambil tindakan untuk memastikan persaingan yang efektif, serta menghindari dominasi pemerintah yang terlalu berlebihan terhadap pasar.”

Walaupun Christine Lagarde (IMF) tidak menyebut nama PKT, tapi dari seluruh masalah yang disebutkannya, adalah perilaku dagang tidak adil PKT yang kerap dituduh pemerintah Trump.

Komisaris urusan moneter ekonomi Eropa yakni Pierre Moscovici secara langsung mengecam RRT pada ajang rapat tersebut, dan menyatakan, “Kita mutlak harus menyelesaikan masalah kelebihan kapasitas dari PKT ini, tidak ada orang yang akan menyangkal eksistensi dari permasalahan ini, ini harus diselesaikan.”

Ia menyatakan, Presiden Trump menganggap PKT telah cukup lama memanfaatkan organisasi internasional, dan orang Amerika yang mengambil tindakan terhadap hal ini sangat sedikit, ‘Sekarang sudah waktunya untuk mengambil tindakan, dan Beijing perlu menyesuaikan kembali perilakunya dalam ranah perdagangan, urusan internasional, militer dan juga politik’.

Selain kebijakan ekonomi dagang RRT yang bersifat merampas, pada rapat tahunan IMF-WB tersebut program “One Belt One Road” yang diprakarsai PKT juga menuai tudingan.

Peserta rapat mengkritik program tersebut telah menimbulkan masalah hutang, bagaimana negara kecil berunding secara efektif dengan Beijing, serta di tengah perang dagang AS-RRT yang belum mereda, bagaimana PKT akan melanjutkan program tersebut dan lain sebagainya.

Menkeu AS: Makin Banyak Sekutu Pahami Kebijakan Dagang Trump

Rapat tahunan IMF-WB tahun lalu, Menkeu AS Steven Mnuchin kenyang didera berbagai kritik dan komentar akibat kebijakan bea masuk yang diterapkan Trump, tahun ini di Bali Mnuchin telah berhasil menyibakkan kabut tebal tersebut, dan terlihat lebih percaya diri.

Mnuchin mengatakan, sekutu AS sebelumnya memandang kebijakan dagang Trump tersebut sebagai paham proteksionisme, tapi sekarang mereka semakin mengerti prinsip “perdagangan yang bebas, adil dan saling menguntungkan” yang diprakarsai oleh Trump.

Baru-baru ini AS dan Korsel telah merampungkan kesepakatan perdagangan bebas AS-Korsel, dengan Meksiko dan Kanada juga telah menetapkan kesepakatan dagang Amerika Utara (USMCA) yang baru, serta akan segera merundingkan kesepakatan dagang dengan Uni Eropa dan juga Jepang.

Pemerintahan Trump tengah berupaya menciptakan suatu aliansi sekutu, mereformasi peraturan dagang seluruh dunia, dan mematahkan berbagai perilaku tidak adil PKT seperti memaksa peralihan teknologi dan lain-lain.

Mnuchin berkata, “Ini bukan aliansi untuk menekan Beijing, melainkan aliansi negara yang sepaham, yang semua anggotanya telah mengalami masalah dengan RRT yang sangat mirip.”

Pertemuan Trump-Xi Apakah Akan Dihelat Pada KTT G20 Masih Tanda Tanya

Terhadap perang dagang AS-RRT yang kian hari kian sengit, berbagai kalangan menantikan pada ajang KTT G20 yang diikuti oleh 20 negara yang akan digelar di Argentina bulan November mendatang tersebut, Trump dan Xi Jinping akan berdialog.

Namun Mnuchin mengungkapkan pada Reuters, terselenggaranya pertemuan Trump dan Xi itu harus melihat apakah PKT telah mengambil langkah perbaikan kongkrit atau tidak.

 “Ini tidak hanya sekedar dialog, mereka (PKT) harus mewujudkan janji yang bermakna dan membangun suatu hubungan dagang baru yang seimbang. Mereka (PKT) harus melakukan reformasi struktural, agar dapat menyeimbangkan hubungan ini, dan bukannya membeli lebih banyak kacang kedelai dan gas alam Amerika.”

Bulan lalu Trump memutuskan kembali memberlakukan bea masuk terhadap produk RRT senilai USD 200 milyar dan menyatakan jika PKT membalasnya, ia akan kembali memberlakukan bea masuk yang lebih besar lagi. Setelah itu PKT langsung membalas dengan memberlakukan bea masuk terhadap produk AS senilai USD 60 milyar.

 “Bea masuk telah menimbulkan dampak yang sangat besar.” Trump berkata pada Fox, “Ekonomi mereka (PKT) telah merosot drastis. Kalau saya mau, saya bisa melakukan lebih banyak.”

 “Saya tidak mau berbuat seperti itu, tapi mereka (PKT) harus datang ke meja perundingan. PKT mau berunding, tapi saya tidak merasa mereka sudah siap.”

Konsultan keamanan nasional AS John Bolton pada Kamis (11/10) lalu saat diwawancara dalam acara Hugh Hewitt Show berkata, pemerintahan Trump memandang PKT sebagai “masalah besar abad ini”, dan sikap keras Trump terhadap PKT telah membuat Beijing merasa ‘kebingungan’, karena ‘mereka sama sekali tidak pernah menghadapi seorang presiden AS yang begitu keras’. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular