Amerika Serikat sedang mempertimbangkan operasi baru untuk mengirim kapal perang melalui Selat Taiwan, pejabat AS mengatakan kepada Reuters, sebuah misi yang bertujuan memastikan jalur bebas melalui jalur perairan strategis tersebut namun berisiko meningkatkan ketegangan dengan rezim Tiongkok.

Angkatan Laut AS melakukan misi serupa di perairan internasional di selat tersebut pada bulan Juli dan tindakan pengulangan apa pun akan terlihat di Taiwan sebagai ungkapan dukungan baru oleh pemerintah Presiden AS, Donald Trump.

Militer AS menolak berkomentar serta pejabat-pejabat AS yang membahas pertimbangan-pertimbangan tersebut, dimanan belum pernah dilaporkan sebelumnya, melakukannya dengan syarat anonim. Mereka tidak membahas penentuan waktu yang memungkinkan untuk setiap pengiriman baru melalui selat tersebut.

Tiongkok memandang Taiwan sebagai provinsi yang tersesat dan telah meningkatkan tekanan untuk menegaskan kedaulatannya atas pulau tersebut. Telah menimbulkan kekhawatiran atas kebijakan AS terhadap Taiwan dalam pembicaraan minggu ini dengan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis di Singapura.

Bahkan ketika Washington mempertimbangkan arahan pengiriman baru melalui selat tersebut, telah mencoba untuk menjelaskan ke Beijing bahwa kebijakannya terhadap Taiwan tidak berubah.

Mattis menyampaikan pesan itu kepada Menteri Pertahanan Tiongkok Wei Fenghe secara pribadi pada 18 Oktober, di sela-sela forum keamanan Asia.

“Menteri Wei mengungkit Taiwan dan khawatir tentang kebijakan kita. Sekretaris telah meyakinkan Menteri Wei bahwa kita belum mengubah kebijakan kita tentang Taiwan, kebijakan kita tentang Tiongkok,” kata Randall Schriver, asisten menteri pertahanan AS yang membantu memandu kebijakan Pentagon di Asia.

Washington tidak memiliki hubungan formal dengan Taiwan tetapi terikat oleh hukum untuk membantunya mempertahankan diri dan merupakan sumber persenjataan utama pulau tersebut. Pentagon mengatakan Washington telah menjual ke Taiwan lebih dari $15 miliar dalam persenjataan sejak tahun 2010.

TITIK NYALA AMERIKA – TIONGKOK

Taiwan hanyalah salah satu dari sejumlah besar titik nyala dalam hubungan AS-Tiongkok, yang juga termasuk perang dagang yang sengit, sanksi-sanksi AS, dan cara menangani militer rezim Tiongkok yang semakin menunjukkan kekuatan di Laut China Selatan.

Mattis mengatakan kepada Wei pada hari Kamis bahwa dua ekonomi terbesar dunia diperlukan untuk memperdalam hubungan militer tingkat tinggi sehingga dapat menavigasi ketegangan dan mengendalikan risiko konflik karena kecerobohan atau kelalaian.

Beberapa pejabat AS dan mantan pejabat AS mengatakan bahwa pengiriman-pengiriman kapal perang AS di Selat Taiwan masih terlalu jarang dan menyebutkan bahwa kapal induk AS tidak transit di Selat Taiwan sejak tahun 2007, selama pemerintahan George W. Bush.

Ketika dua kapal perang AS terakhir, kedua kapal perusak, berlayar melalui Selat Taiwan pada bulan Juli, itu adalah operasi pertama dalam waktu sekitar satu tahun.

Beijing, yang tidak pernah meninggalkan penggunaan kekuatan untuk membawa Taiwan di bawah kontrolnya, telah menanggapi dengan marah pada pengiriman bulan Juli, menuduh Amerika Serikat mengancam stabilitas di perairan strategis tersebut.

Ia juga telah melihat tawaran-tawaran AS terhadap Taiwan sebagai kekhawatiran mendadak, termasuk pembukaan kedutaan de fakto baru di Taiwan dan pengesahan undang-undang Taiwan Travel Act, yang mendorong para pejabat AS untuk mengunjungi pulau tersebut.

Para ahli militer mengatakan keseimbangan kekuatan antara Taiwan dan Tiongkok telah berubah secara meyakinkan dalam mendukung Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, dan rezim Tiongkok dapat dengan mudah menenggelamkan pulau tersebut jika pasukan AS tidak segera datang memberi bantuan untuk Taiwan.

Rezim Tiongkok juga telah menakut-nakuti Taiwan dengan meningkatkan latihan militer tahun ini, termasuk pesawat pengebom dan pesawat militer lainnya di sekitar pulau tersebut dan mengirim kapal induknya melalui Selat Taiwan yang memisahkannya dari Taiwan.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan pekan lalu bahwa pulau itu akan meningkatkan anggaran pertahanannya setiap tahun untuk memastikannya dapat mempertahankan kedaulatannya, termasuk melanjutkan pembangunan domestik pesawat pelatihan lanjutan dan kapal selam.

“Pada saat ini, intimidasi dan tekanan diplomatik Tiongkok tidak hanya melukai hubungan antara kedua belah pihak tetapi juga secara serius menantang stabilitas damai di Selat Taiwan,” katanya dalam pidato Hari Nasional di Taipei pada 10 Oktober.

Pernyataannya datang menjelang pemilihan lokal di pulau tersebut pada akhir November yang dilihat sebagai penunjuk arah untuk kinerja partai di bawah kepemimpinannya dalam pemilihan presiden pada tahun 2020. (ran)

Rekomendasi video: 

FBI Incar Peserta Program Spionase “Talenta Seribu” Tiongkok

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds