Bersamaan akan berlangsungnya pemilihan lokal di Taiwan yang hanya sebulan lagi, pulau yang diperintah sendiri tersebut sedang dihadapkan dengan masalah campur tangan Beijing dalam pemilihan umum tersebut.

Leu Weng-jong, direktur jenderal biro investigasi Kementerian Kehakiman Taiwan, mengatakan bahwa departemennya telah mengumpulkan informasi intelijen tentang sekitar 33 kasus Beijing membantu kandidat-kandidat politik Taiwan yang mencalonkan diri untuk pemilihan yang akan berlangsung, menurut Kantor Berita Pusat Taiwan.

Kursi-kursi untuk pemilihan tersebut termasuk walikota lokal, hakim daerah, legislator, serta kantor-kantor publik tingkat desa dan kota.

Saat memberi kesaksian di hadapan parlemen Taiwan, yang dikenal sebagai Legislatif Yuan, pada sidang 22 Oktober, Leu menjelaskan bahwa undang-undang yang ada di pulau tersebut yang mengatur donasi politik dan hubungan antara Taiwan dan Tiongkok mencegah para warga atau organisasi-organisasi Tiongkok daratan menyumbang untuk kandidat-kandidat politik Taiwan.

Dia menambahkan bahwa sebagian besar kasus yang diketahui termasuk keterlibatan Beijing dalam menghindari hukum-hukum tersebut dengan membayar konstituen-konstituen politisi untuk melakukan perjalanan ke Tiongkok, semua biaya dibayar, atau memberikan sumbangan-sumbangan politik secara tidak langsung.

Salah satu contoh sumbangan politik tidak langsung adalah Beijing melakukan pembayaran kepada pengusaha Taiwan yang bekerja di Tiongkok, yang kemudian memberikan uang tersebut kepada kandidat-kandidat politik.

Taktik umum lainnya oleh Beijing adalah menggunakan kelompok-kelompok politik Taiwan yang menganjurkan hubungan persahabatan dengan Tiongkok untuk mempengaruhi opini publik demi mendukung para kandidat politik pro-Beijing.

Leu menambahkan bahwa empat kasus telah dikirim ke jaksa lokal di Taipei dan tiga kabupaten: Changhua, Yunlin, dan Pingtung.

Ketika ditanya oleh legislator William Tseng tentang apakah intelijen yang dikumpulkan tersebut menunjukkan keterlibatan oleh lembaga-lembaga atau badan-badan pemerintah Beijing, Liu menjawab, “Anda bisa mengatakan itu.”

Pada persidangan tersebut, legislator Lu Shyh-fang menunjukkan bahwa pada 22 Oktober, ada 1.628 kasus suap yang khusus terkait dengan siklus pemilu mendatang, mengutip data dari Kementerian Kehakiman. Lu menambahkan bahwa akan sulit untuk menentukan apakah kasus-kasus ini terhubung dengan Beijing.

Perdana Menteri Taiwan William Lai, yang mengepalai kabinet negara, menegaskan pernyataan Leu, saat berbicara di Legislatif Yuan pada 23 Oktober. Dia mengatakan tentang Beijing sedang menggunakan uang untuk mempengaruhi pemilihan yang akan datang di Taiwan, menurut surat kabar harian Taiwan, Liberty Times.

Setelah perang sipil Tiongkok pada tahun 1949, anggota Kuomintang mundur ke Taiwan setelah kekalahan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sejak itu, Tiongkok daratan telah berada di bawah kekuasaan satu partai otoriter, sementara pulau Taiwan telah berubah menjadi demokrasi penuh dengan pemilihan presiden langsung pertamanya yang diadakan pada tahun 1996.

Hubungan antara keduanya penuh dengan ketegangan, karena Beijing menganggap Taiwan provinsi pemberontak yang harus bersatu kembali dengan daratan satu hari, dengan kekuatan militer jika diperlukan.

Tujuan utama Tiongkok untuk campur tangan dalam pemilihan Taiwan adalah menjadikan kandidat-kandidat pro-Beijing memenangkan pemilihan. Begitu calon-calon ini menjadi pejabat publik, Beijing yakin mereka lebih memungkinkan untuk mengikuti agendanya, seperti mendorong kerjasama ekonomi dan budaya lintas-selat, dan menghindari “masalah” politik seperti mengadvokasi kemerdekaan resmi Taiwan.

Klaim-klaim tentang ikut campur dalam pemilihan di Taiwan datang pada saat ketika Tiongkok telah disebut karena berusaha mempengaruhi pemilihan paruh waktu AS yang akan datang. Wakil Presiden AS Mike Pence, dalam sebuah pidato di think tank (lembaga riset) Hudson Institute pada 4 Oktober, mengatakan bahwa, “Tiongkok telah memulai upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mempengaruhi opini-opini publik Amerika, pemilihan 2018, dan suasana yang mengarah ke pemilihan presiden 2020.”

Dia menambahkan, “Terus terang, kepemimpinan Presiden Trump sedang bekerja, dan Tiongkok menginginkan presiden Amerika yang berbeda.”

Namun, kepentingan Tiongkok di Taiwan jauh melampaui sekadar pemilihan. Leu, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Liberty Times yang diterbitkan pada 22 Oktober, mengatakan bahwa biro tersebut telah menyelidiki total 52 kasus mata-mata yang melibatkan Tiongkok dalam lima tahun terakhir.

Leu menjelaskan bahwa mereka melibatkan mata-mata Tiongkok yang beroperasi di Taiwan; warga negara Taiwan yang telah direkrut oleh Beijing; atau orang-orang Tiongkok daratan datang ke Taiwan untuk tujuan mengembangkan kelompok-kelompok yang mudah digunakan Beijing. Satu kasus tertentu, kata Leu, melibatkan seorang pensiunan pejabat militer Taiwan yang bekerja di kantor komunikasi Departemen Pertahanan Nasional, Bian Peng.

Pada bulan Mei, Peng dituduh melanggar undang-undang keamanan nasional Taiwan; jaksa di New Taipei City mengatakan dia diduga memberikan informasi militer Taiwan kepada militer Tiongkok.

Setelah direkrut oleh seorang pejabat militer Tiongkok dengan nama Wang pada tahun 2015, Peng mengatur pertemuan di Tiongkok akhir tahun itu antara pejabat militer Tiongkok dan seorang rekan pensiunan pejabat angkatan udara Taiwan bernama Fan. Selama pertemuan tersebut, para pejabat Tiongkok bertanya kepada Fan tentang bagaimana kekuatan udara Taiwan dibentuk, termasuk informasi tentang waktu yang dibutuhkan jet-jet tempur Taiwan untuk mengisi bahan bakar dan mempersenjatai kembali. Fan tidak membagikan informasi dan sebaliknya memberi tahu Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan tentang Peng setelah kembali ke Taiwan.

Di bawah perintah dari pejabat-pejabat militer Tiongkok, Peng juga telah mengunduh (download) laporan-laporan militer yang disusun oleh Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan, dan menyerahkan laporan tersebut kepada pejabat Tiongkok. (ran)

Rekomendasi video:

Trump Isyaratkan Mata Mata PKT Merajalela di Amerika Serikat

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds