Lin Xiaoran – Epochtimes.com dari Palo Alto, San Francisco Bay Area

Festival Film PBB (UN Association Film Festival) yang menyoroti masalah HAM, lingkungan hidup, pengungsi dan lain sebagainya tengah digelar di San Francisco Bay Area.

Hari Minggu (21/10) lalu di sore hari, festival film di Mitchell Community Center di Palo Alto menayangkan film berjudul “Letter from Masanjia” yang disutradarai oleh sutradara Kanada bernama Leon Lee (Li Yunxiang),  penonton yang menyaksikan film pada terharu dan meneteskan air mata, mengatakan ini adalah film yang paling layak ditonton pada festival film kali ini.

Leon Lee juga hadir di lokasi penayangan, untuk melayani sesi tanya-jawab dengan para penonton. “Saya ingin memberitahu seluruh dunia, di Tiongkok terdapat jutaan orang yang mengalami penindasan serupa. Tapi pada akhirnya kebenaran akan mengalahkan kejahatan.”

Saat tokoh utama dalam kisah ini yang bernama Yi Sun tampil di depan kamera mengucapkan beberapa kalimat, gedung aula Mitchell Community Center penuh derai air mata. Usai film ditayangkan, lampu perlahan dinyalakan, luapan perasaan penonton belum juga hilang.

“Saya sangat sedih”, seorang penonton wanita etnis Tionghoa bernama Betty Shi bersama teman khusus datang untuk menyaksikan film, sambil menangis dia berkata, “Di dalam kamp kerja paksa Yi Sun telah mengalami banyak penderitaan, tapi akhirnya berhasil lolos. Saya merasa sedih bagi keluarganya, semoga mereka dapat terlepas dari kesedihan ini.”

Film dokumenter “Letter from Masanjia” ditayangkan pada Festival Film PBB, penonton terharu dan meneteskan air mata. (Lin Xiaoran/Epoch Times)

 “Letter from Masanjia” mengisahkan tentang seorang gadis asal Oregon, Amerika Serikat, bernama Julie Keith yang secara tidak sengaja menemukan sepucuk surat meminta pertolongan di dalam produk hiasan Halloween yang dibelinya.

Di dalam surat tersebut secara detil memaparkan berbagai siksaan yang dialami oleh tawanan yang disekap di dalam Kamp Kerja Paksa Masanjia dan fakta bahwa para tawanan diperbudak untuk memproduksi hiasan yang diekspor.

BACA JUGA : Penulis Surat Minta Tolong dari Masanjia, Muncul di Luar Negeri

Julie yang berhati mulia itu menyadari keseriusan masalah ini dan mempublikasikannya pada umum, segera hal tersebut diberitakan oleh CNN dan berbagai media massa arus utama lainnya serta menarik perhatian masyarakat internasional.

Tokoh utama penulis surat itu adalah seorang praktisi Falun Gong bernama Yi Sun, waktu itu ia telah dibebaskan 2 tahun.

(Lin Xiaoran/Epoch Times)

Suatu hari lewat piranti lunak menembus firewall ia secara tak sengaja mendapati, tuntutan yang ditulisnya dengan penuh darah dan air mata di dalam kamp kerja paksa akhirnya menimbulkan efek yang seharusnya, yakni mengungkap sisi kejahatan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dilakukan di dalam kamp kerja paksa.

Penonton bernama Mercedes Roman menyatakan, akhirnya dia mengerti mengapa produk-produk buatan RRT yang dijual di Walmart dan supermarket lainnya begitu murah, dia berkata, “Ternyata di baliknya adalah banyak budak-pekerja yang dipaksa bekerja siang dan malam, kita seharusnya memikirkan kembali kebijakan perdagangan dengan Beijing.”

Setelah peristiwa surat meminta pertolongan itu diberitakan secara luas, sutradara Leon Lee pun menempuh berbagai cara untuk menghubungi Yi Sun, dan mengemukakan idenya untuk mendokumentasikan peristiwa itu dalam bentuk film.

BACA JUGA : Semoga Semua Orang Menyaksikan Film ‘Letter From Masanjia’

Yi Sun tidak hanya mengijinkan, bahkan memutuskan dirinya akan kembali ke Masanjia untuk merekam kondisi sebenarnya yang terjadi di sana, dengan berbekal keahliannya melukis yang ditekuni sejak kecil, ia melukis kembali pemandangan penyiksaan dan lain sebagainya yang terjadi di dalam kamp kerja paksa itu.

Leon Lee pernah meraih penghargaan prestasi budaya dari stasiun TV ABC Amerika juga penghargaan Peabody karena mengungkap kejahatan PKT merampas organ tubuh praktisi Falun Gong dalam keadaan hidup-hidup dengan film dokumenternya yang berjudul “Human Harvest”. Falun Gong (juga dikenal sebagai Falun Dafa) adalah sebuah latihan spiritual yang didasarkan pada prinsip universal Sejati, Baik, dan Sabar, serta memiliki lima perangkat latihan yang lembut, termasuk meditasi.

 Menurut Leon, yang berbeda dengan “Letter from Masanjia” adalah, sebagai praktisi film amatir, tokoh utama merekam kehidupan sehari-hari dirinya sendiri, membawa penonton memahami perjuangan batin yang dialaminya bersama istrinya.

(Lin Xiaoran/Epoch Times)

Walaupun banyak pengambilan gambar yang tidak begitu indah, tapi di baliknya adalah kristalisasi dari perjuangannya sendiri, “Jika dia sendiri tidak memiliki keberanian dan keyakinan ini, maka tidak akan ada film ini,” ujar Leon.

Dalam film itu Yi Sun terpaksa harus melarikan diri secara terpisah dengan istrinya ke Indonesia, Keith tidak mempedulikan jarak yang begitu jauh itu terbang ke Indonesia untuk mencari Yi Sun.

Penonton bernama Dawn Kwan menyatakan, adegan ini sangat mengharukan. Dia berkata, “Saat ia (Yi Sun) menceritakan penyiksaan keji yang terjadi di dalam kamp kerja paksa, tentang berbagai penderitaan yang dialaminya dengan istrinya, ia sama sekali tidak menangis, tapi saat berpisah dengan Keith, Yi Sun menangis begitu sedih. PKT mengatakan praktisi Falun Gong adalah orang jahat berdarah dingin. Tapi Yi Sun begitu elegan, seperti seorang intelek, sangat berpendidikan, setelah mengalami begitu banyak kejadian ia masih begitu tegar.”

BACA JUGA : Bloody Harvest: Laporan Mengejutkan Tentang Tragedi Berdarah Praktisi Falun Gong yang Dibunuh Demi Organ Tubuhnya

Penonton yang bernama Zhou Xiaoying berkata, “Masyarakat berpikiran negatif terhadap Falun Gong, semua itu adalah karena propaganda pemerintah, saya berharap rakyat Tiongkok kelak memiliki pemikiran yang independent, terhadap apa yang baik, dan apa yang buruk!”

Leon Lee mengatakan, surat minta tolong Yi Sun menimbulkan efek mengubah sejarah, karena dengan terungkapnya surat ini, sistem kamp kerja paksa yang telah diterapkan puluhan tahun oleh PKT akhirnya dihapuskan.

Saat ini, film dokumenter “Letter from Masanjia” tengah ditayangkan secara keliling di seluruh dunia, bagi yang tertarik bisa menyaksikannya lewat internet, juga bisa disaksikan lewat iTunes. (SUD/WHS/asr)

(klik: http://www.letterfrommasanjia.com/

Share

Video Popular