Dr. Xie Tian

Situasi politik dan ekonomi di tengah masyarakat daratan Tiongkok saat ini sangat membingungkan; berbagai konflik dan bentrok masyarakat yang terjadi sangat sengit dan kompleks, moralitas telah merosot jauh, masyarakat dipenuhi kekacauan. Tapi di saat yang sama masyarakat juga mendapati, kelompok pejabat PKT dari atas sampai ke bawah, justru semakin senang disanjung dan dipuji di tengah ketakutan akan akhir zaman, juga memuji diri sendiri dan terlena di dalamnya, menggandrungi berbagai jabatan dan gelar yang diberikan, tidak pernah puas dengan berbagai gelar seperti ketua tim, pimpinan, pionir, juru mudi, yang terhormat dan lain-lain.

Realitanya, secara keseluruhan masyarakat Tiongkok termasuk lingkungan komunitas etnis Tionghoa di luar negeri, banyak juga orang yang memiliki kesukaan seperti ini, terobsesi dengan gelar pemimpin, direktur, ketua dan berbagai gelar lainnya yang pada dasarnya tidak masuk hitungan jabatan.

Berbagai macam psikologis masyarakat tersimpul ke satu titik, yakni masalah kualitas dan kepribadian manusia itu sendiri.

Dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi sosial adalah mengapa manusia sangat senang disanjung, mengapa manusia suka menyanjung orang lain, ini adalah suatu permasalahan yang klasik.

Manusia sangat suka disanjung, mungkin karena ada akibat langsung. Misalnya seseorang di posisi pemimpin, atau posisi yang bisa membuat keputusan yang berpengaruh dan menyangkut banyak orang, serta di sekitarnya terdapat banyak orang yang pintar memuji, mahir membaca situasi dan pandai melicinkan, atau memiliki tim pemikir, penasihat, maka yang bersangkutan ini jika memiliki karakteristik suka disanjung, maka akan bermakna realita yang lebih besar, akan mendatangkan kesulitan bahkan bencana bagi negara dan bangsanya.

Di dalam perang dagang AS-RRT masyarakat telah melihat, sejumlah pengikut dan sastrawan Dinasti Merah secara berlebihan memuji dan menyanjung terlalu tinggi, menyebabkan para pembuat kebijakan penuh keyakinan (yang keliru) sehingga melakukan kesalahan, pada akhirnya si penjilat dan yang dijilat kedua-duanya mencoreng mukanya sendiri.

Terlepas pujian dan sanjungan ini merupakan penyebab utama terjadinya kesalahan pada sebuah kebijakan, namun membuat seseorang menjadi optimis secara buta, terperosok ke dalam jebakan arogansinya, kehilangan kemampuan membuat keputusan yang benar, semua itu adalah hal yang sangat disayangkan dan sangat buruk akibatnya.

Dari sudut pandang ilmu semantik, sanjungan yang terdistorsi dengan pujian yang tulus, pemuliaan dengan pemujian, serta sikap hormat berlebihan, menjilat, memiliki keterkaitan yang sangat besar.

Kalimat yang sama di mata dan telinga orang yang berbeda dan di bawah faktor lingkungan yang berbeda, pada kalimat awal dan akhir yang berbeda, sangat mungkin akan mengandung makna yang berbeda, interpretasi yang berbeda, bahkan penjelasan yang bisa saling berseberangan.

Terdapat banyak riset dalam ilmu psikologi terkait pujian, pemuliaan, serta sanjungan, penghormatan dan menjilat.

Banyak akademisi juga meneliti kosa kata indah yang berlebihan, termasuk yang berasal dari lubuk hati atau terucap spontan, apakah bermanfaat bagi orang lain, bagi organisasi, atau bagi masyarakat; atau pujian yang terdistorsi dilihat secara umum, akan menimbulkan keburukan seperti apa bagi masyarakat.

Bahkan ada juga yang meneliti bagaimana seseorang seharusnya menyanjung orang lain, atau bagaimana menolak sanjungan orang lain dan lain sebagainya. Tentunya, dari sudut pandang melampaui persepsi sekuler, dari sudut pandang kultivasi ortodoks, bagaimana seharusnya menyikapi sanjungan itu? Ini adalah topik lain yang menarik.

Dr. Guy Winch dari AS adalah seorang psikolog klinis, dalam risetnya ia telah menemukan, tidak setiap orang menyukai kata-kata sanjungan atau pujian, ada orang yang bahkan sangat membenci sanjungan dan pujian. Bahkan, kekuatan dari harga diri seseorang (self-esteem, Red.) mungkin akan berdampak pada kemampuannya saat menerima sanjungan atau pujian.

Yang dimaksud dengan “harga diri”, di mata orang-orang yang berkultivasi, hanyalah semacam keterikatan/kemelekatan hati, semacam kelemahan dan kekurangan, yang dapat mengakibatkan perubahan manusia terhadap dunia di luarnya, dan penilaian terhadap dirinya sendiri juga akan mengalami kekeliruan penilaian dan penempatan diri.

Mayoritas orang suka mendengar kata sanjungan atau kata-kata indah yang berlebihan, tapi sebagian orang akan menggerutu saat mendengar pujian, bahkan ada yang secara terang-terangan membenci semua itu.

Faktor apakah yang menentukan seseorang menyukai pujian atau tidak, ataukah saat pertama kali mendengar pujian akan merasa antipati?

Dr. Winch berpendapat, reaksi manusia terhadap pujian adalah refleksi kekuatan harga diri seseorang, juga menentukan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai yang sesungguhnya.

Jika orang ini tidak begitu memandang tinggi diri sendiri, harga dirinya tidak begitu kuat, ia mungkin akan merasa sanjungan membuatnya tidak nyaman, karena berbeda sangat jauh dengan pandangan dirinya.

Orang-orang di tengah masyarakat normal akan kerap menilai dan memprediksi pemahaman terhadap dirinya sendiri, entah dari sisi positif atau negatif, seperti kaum bijak Tiongkok kuno dengan “setiap hari 3 kali merenungi diri”.

Banyak di antara kita yang meninggalkan rumah untuk studi di perguruan tinggi pernah memiliki pengalaman tinggal di asrama, seorang mahasiswa Tiongkok mendapati, jika teman sekamar menilai negatif dan bersikap tidak baik padanya, maka pada semester baru saat ada pilihan mengganti kawan sekamar, apakah Anda akan bertahan dengan teman sekamar itu atau berharap menggantikannya dengan orang lain?

Mayoritas orang Tiongkok mungkin akan memilih menggantikan dengan orang lain. Tapi suatu riset di kalangan mahasiswa AS didapati, banyak mahasiswa AS memilih akan bertahan dengan teman sekamar ini dan tidak menggantikannya; terutama bagi mahasiswa yang merasa dirinya tidak begitu baik dan rendah diri.

Dengan kata lain saat kita merasa diri kita tidak begitu baik, mendengar pujian orang lain akan membuat kita merasa tidak nyaman, karena pujian itu berbeda dengan keyakinan kita. Di tengah masyarakat Barat, manusianya lebih tulus, tidak begitu jauh dari karakter alam semesta, sikap mereka sepertinya berbeda dengan orang Tiongkok.

Sebagai contoh, bagi orang Amerika, jika seseorang merasa dirinya tidak begitu menarik, tetapi mendengar ada yang menyanjungnya sangat memikat dan didambakan orang, maka orang itu akan merinding, akan merasa sanjungan itu tidak tulus. Jika seseorang merasa dirinya tidak begitu pintar, tapi mendengar sanjungan mengatakan dirinya sangat cerdas dan cemerlang, orang itu akan merasa dilecehkan, dan tidak akan dianggap sebagai pujian. Jika seseorang meyakini dirinya tidak memiliki kemampuan untuk sukses, tapi ada sanjungan yang mengatakan dirinya sangat hebat dan masa depan cerah, maka orang itu akan merasa itu adalah suatu sindiran halus, agar dirinya menjadi putus asa dan tidak ada harapan lagi.

Riset Dr. Winch juga mendapati, tingkat reaksi seseorang terhadap sanjungan dan pujian, juga terkait dengan latar belakang budaya, ideologi dan konsep moral suatu bangsa. Bagi sebagian masyarakat dengan latar belakang budaya tertentu, memuji anak boleh-boleh saja, tapi memuji orang dewasa tidak begitu tepat; bagi masyarakat budaya lain mungkin justru sebaliknya.

Bagi orang yang memiliki harga diri tinggi, yang memandang dirinya lebih tinggi, seperti banyak kalangan masyarakat kelas atas di Barat dan kaum arus utama, dilihat dari sudut pandang mereka, sanjungan dan pujian bagi mereka pada dasarnya setara dengan menjilat. Bagi mereka, menerima sanjungan sama sekali bukan menerima pujian dan motivasi, melainkan merasa direndahkan atau merasa telah dicemooh!

Kelompok masyarakat di daratan Tiongkok, mulai dari rakyat biasa sampai pejabat dan kalangan atas, apakah juga begitu? Atau justru sebaliknya? (SUD/WHS/asr)

Bersambung

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds