WASHINGTON – Membuka front baru dalam perdagangan dan perselisihan teknologinya dengan Tiongkok, pemerintahan Trump pada 29 Oktober mengambil tindakan untuk menghentikan ekspor komponen, perangkat lunak, dan barang teknologi AS untuk pembuat semikonduktor yang didukung negara Tiongkok

Departemen Perdagangan mengatakan telah menempatkan Fujian Jinhua Integrated Circuit Co., Ltd pada daftar entitas yang tidak dapat membeli produk-produk tersebut dari perusahaan-perusahaan AS, menyebut “potensi risiko serius” bahwa kapasitas chip memori baru perusahaan Tiongkok tersebut akan mengancam kelangsungan hidup para pemasok Amerika seperti chip untuk sistem-sistem militer.

Dikatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Fujian Jinhua “menimbulkan risiko serius untuk terlibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.”

Tindakan ini mirip dengan langkah Departemen Perdagangan yang hampir menempatkan perusahaan peralatan telekomunikasi Tiongkok ZTE Corp keluar dari bisnis awal tahun ini dengan memutus jalur dari para pemasok AS.

ZTE, yang telah gagal mematuhi ketentuan setelah melanggar sanksi-sanksi yang diberlakukan untuk Iran dan Korea Utara, telah diizinkan untuk melanjutkan pembelian produk AS setelah penyelesaian masalah yang telah direvisi dan pembayaran denda $1 miliar.

Tindakan terhadap Fujian Jinhua kemungkinan akan memicu ketegangan baru antara Beijing dengan Washington karena perusahaan tersebut berada di jantung program “Made in China 2025” untuk mengembangkan industri teknologi tinggi baru.

Rejim Tiongkok memberikan tekanan besar pada perusahaan Tiongkok untuk meningkatkan produksi domestik teknologi inti, dengan tujuan mencapai swasembada dan mendominasi rantai pasokan global pada tahun 2025.

Dua ekonomi teratas dunia tersebut sudah melancarkan perang tarif besar atas sengketa perdagangan mereka, dengan tarif-tarif bea masuk AS di tempatkan untuk barang-barang Tiongkok senilai $250 miliar dan bea Tiongkok senilai $110 miliar untuk barang-barang AS.

Fujian Jinhua, yang memulai pabrik chip baru senilai $5,7 miliar di Provinsi Fujian, terkait dengan tuduhan pemerintahan Trump bahwa Tiongkok secara sistematis telah mencuri dan memaksa transfer teknologi Amerika.

Dalam beberapa tahun terakhir, rezim Tiongkok telah berusaha untuk mewujudkan ambisi ekonominya dengan mencuri kekayaan intelektual, memaksa transfer teknologi sebagai pertukaran untuk akses pasar, mensubsidi perusahaan-perusahaan Tiongkok, dan membeli perusahaan-perusahan asing untuk mendapatkan teknologi-teknologi rahasia.

Fujian Jinhua dan mitra Taiwan United Microelectronics Corporation dituduh Desember lalu oleh pembuat chip memori AS Micron Technology telah mencuri desain chip Micron, sebuah kasus yang masih berlangsung di pengadilan California.

Menurut laporan-laporan media, pembuat chip Amerika tersebut telah mengetahui dirinya menjadi target setelah menolak tawaran akuisisi. Fujian Jinhua dan mitra Taiwannya berkolaborasi untuk memikat karyawan Micron untuk mencuri rahasia-rahasia perusahaan, kata Micron.

Tidak segera jelas apa efek tindakan Departemen Perdagangan terhadap operasi-operasi Fujian Jinhua.

Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pabrik baru perusahaan Tiongkok tersebut kemungkinan adalah penerima manfaat dari “teknologi asal AS” dan produksi tambahannya akan mengancam kelangsungan jangka panjang para pembuat chip AS.

“Ketika sebuah perusahaan asing terlibat dalam aktivitas yang bertentangan dengan kepentingan keamanan nasional kita, kita akan mengambil tindakan kuat untuk melindungi keamanan nasional kita,” katanya. “Menempatkan [Fujian] Jinhua pada Daftar Entitas akan membatasi kemampuannya untuk mengancam rantai pasokan komponen penting dalam sistem militer kita.” (ran)

Rekomendasi video:

Etnis Tionghoa Rantau Mengapa Tidak Mendukung Made in China 2025

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds