Brasilia – Presiden Brasil yang baru terpilih, Jair Bolsonaro, mengatakan bahwa dia akan memindahkan kedutaan besar Brazil di Israel ke Yerusalem. Dia akan mengikuti jejak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Bolsonaro membuat janji untuk memindahkan kedutaan Brasil di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem pada bulan Agustus, menurut laporan JTA. Setelah Amerika Serikat memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem, sejumlah negara lain mengikutinya, termasuk Guatemala.

Bolsonaro juga mengatakan dia akan menutup kedutaan Palestina di Brasil. Keputusan yang menghasilkan catatan, bahwa Palestina bukanlah sebuah negara.

“Apakah Palestina sebuah negara? Palestina bukan negara, jadi tidak boleh ada kedutaan di sini,” kata Bolsonaro.

“Anda tidak bernegosiasi dengan teroris,” tambahnya, mengacu pada kondisi dimana sebagian besar wilayah Palestina dikendalikan oleh kelompok teroris, Hamas.

Politisi berusia 63 tahun itu telah berbicara sangat banyak tentang Israel selama masa kampanyenya. Dia sempat mengatakan pada satu kesempatan bahwa perjalanan internasional pertamanya nanti sebagai presiden adalah ke negara Timur Tengah.

“Bolsonaro menonjol di antara banyak kandidat untuk memasukkan Negara Israel dalam pidato-pidato utama yang dia buat selama kampanye,” kata konsul kehormatan Israel di Rio, Osias Wurman, kepada JTA. “Dia adalah pencinta rakyat dan Negara Israel.”

Melawan Sosialisme
Putranya, Eduardo Bolsonaro, dianggap sebagai salah satu suara yang paling berpengaruh dalam tim kampanye ayahnya. Dia mengatakan kepada Bloomberg pada Agustus 2018, bahwa Brasil harus memutuskan hubungan dengan pemerintah sosialis Venezuela dan menjauhkan diri dari Iran, yang mendukung beberapa kelompok teror. Sebaliknya Brasil harus semakin dekat dengan Israel.

“Anda harus bermain keras dengan Venezuela. Ini akan menjadi perubahan 180 derajat dalam hubungan dengan Venezuela. Posisi Pro-Iran? Itu akan berubah,” ujar Eduardo.

Tentang memindahkan kedutaan di Israel ke Yerusalem, dia menambahkan, “Kami sangat bersimpati dengan gagasan itu. Pihak kami menentang Hamas, Hezbollah, negara Islam.”

Bolsonaro, yang akan mengambil alih Istana pada 1 Januari 2019, memperoleh 56 persen suara melawan 44 persen suara untuk Fernando Haddad yang berhaluan kiri.

“Kami tidak dapat terus menggoda sosialisme, komunisme, populisme, dan ekstremisme kiri. Kami akan mengubah nasib Brasil,” kata Bolsonaro dalam pidato kemenangan.

Anggota parlemen konservatif itu mengatakan bahwa dia akan memerintah sesuai dengan Alkitab dan konstitusi negara.

Berbicara dengan Trump
Bolsonaro dipastikan sudah menghubungi dan berbicara dengan Presiden AS, Donald Trump, setelah terpilih.

“Dua Presiden memiliki rencana untuk bekerja sama,” kata Trump, yang juga menjadi lawan vokal sosialisme dan komunisme.

“Memiliki percakapan yang sangat baik dengan Presiden Brasil yang baru terpilih, Jair Bolsonaro, yang memenangkan kompetisinya dengan selisih besar,” kata presiden Trump melalui Twitter.

“Kami sepakat bahwa Brasil dan Amerika Serikat akan bekerja sama secara erat pada sektor Perdagangan, Militer, dan lainnya! Seruan yang sangat baik, semoga dia selamat!”

Bolsonaro sebelumnya mengatakan kepada The Epoch Times bahwa dia mengagumi banyak hal tentang pemerintahan Trump, termasuk persatuan, patriotisme, dan pandangan Trump tentang Tuhan dan keluarga. Dia mengatakan bahwa nilai-nilai itu tidak diikuti ataupun diterapkan di Brasil.” (ZACHARY STIEBER/NTD.tv/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds