Chen Simin

Pemeringkat glolbal Standard & Poor merilis laporan pada 16 Oktober lalu, menilai akumulasi hutang pemerintah daerah RRT mungkin telah mencapai angka RMB 40 trilyun, bahkan mungkin lebih. Juli lalu Bloomberg menerbitkan artikel yang menyebutkan, efek dari perang dagang AS-RRT akan mengarahkan krisis hutang RRT ke ambang akan meledak.

Hingga saat ini, pemerintah Beijing belum mengumumkan skala hutang tersembunyi di daerah. Akan tetapi berbagai kalangan memperkirakan dari sudut pandang subyek hutang, jalur pembiayaan dan lain sebagainya, lalu membandingkannya dengan institusi internasional, estimasi dalam negeri berskala lebih tinggi. Analisa berpendapat, kondisi sesungguhnya mungkin dalam tempo 10 tahun pun tidak akan bisa diselesaikan.

Mungkin ada yang akan bertanya-tanya, negara Eropa dan AS juga memiliki masalah hutang, mengapa hanya Beijing yang begitu disoroti yang ada kemungkinan akan terjadi ledakan krisis?

Jawaban dari pakar ekonomi adalah, dalam hal memperkirakan krisis hutang, ‘kecepatan akumulasi hutang’ memiliki indikasi lebih kuat daripada ‘skala hutang’.

Maka secara skala hutang PKT jauh melampaui negara-negara pasar berkembang lainnya, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah kecepatan akumulasi hutangnya.

 ‘Kecepatan akumulasi hutang’ secara sederhana dapat diibaratkan dengan ‘terus menerus meminjam hutang baru untuk membayar hutang yang lama’, dengan data sekarang sebagai contoh, dari obligasi perusahaan yang diterbitkan Beijing tahun 2015, sebanyak 44% adalah untuk membayar hutang lama. Bukan untuk meningkatkan produktivitas yang mendatangkan keuntungan, terjerumus di dalam lingkaran setan gali lubang tutup lubang, dan di antaranya didominasi oleh perusahaan pusat dan perusahaan negara. Salah satu contoh paling umum adalah China Railway yang melepaskan diri dari Kementerian Kereta Api Tiongkok.

mata uang yuan cina tiongkok terhadap dolar amerika
Seorang teller bank Tiongkok bersiap menghitung setumpuk dolar AS bersama dengan tumpukan uang kertas 100 yuan Tiongkok di sebuah bank di Hefei, Provinsi Anhui, Tiongkok pada tanggal 9 Maret 2010. (STR / AFP / Getty Images)

Seperti diketahui, Kementerian Kereta Api adalah perusahaan negara yang diperlakukan istimewa, ia merupakan sebuah kerajaan independen yang memiliki sistem hukum tersendiri, dituding sebagai taman bunga milik Jiang Zemin untuk “mengumpulkan harta”, karena korup menyebabkan hutangnya menumpuk, sebelum Kongres Nasional ke-18 PKT juga sempat terlibat dalam konflik tingkat tinggi.

Tahun 2013 pasca Kongres Nasional ke-18 itu, mantan Menteri Kemen KA Liu Zhijun divonis hukuman mati (dengan masa penangguhan 2 tahun) akibat terlibat korupsi, Kemen KA di-delisting dari bursa efek, dan China Railway pun didirikan.

Januari 2017, dalam rapat kerja China Railway dikemukakan, akan meneliti kemungkinan mengalihkan hutang perusahaan menjadi saham.

Sebelumnya di tahun 2012 Kemen KA telah dikenal dengan sebutan ‘Departemen Penimbun Hutang’, setelah tahun 2013 hutang China Railway terus bertambah, lalu berapa jumlah hutangnya sampai saat ini?

Menurut data yang dipublikasi, di tahun 2016 hutang China Raiway telah mencapai RMB 4,72 triliun dan dibandingkan dengan tahun 2015 hutang tersebut telah bertambah sebesar RMB 600 milyar.

Suatu perusahaan pusat RRT dalam setahun menambah hutang RMB 600 milyar, dan akumulasi hutang mencapai hampir RMB 5 triliun, ini dianggap perusahaan yang tiada duanya di dunia, karena jika terjadi di negara lain, sudah sejak dulu perusahaan diumumkan pailit.

Mengapa China Railway bisa tidak pailit? Walaupun pendapatannya terus merosot, namun secara pembukuan perusahaan itu masih “menguntungkan”, tahun 2016 keuntungan China Raiway setelah pajak adalah RMB 1,076 milyar atau naik 58% dari tahun 2015 yang hanya RMB 681 juta.

Di balik angka pembukuan seperti ini hanya ada dua hal: subsidi sosial dari pemerintah, atau pajak pendapatan negatif (pengurangan pajak) yang dikembalikan sehingga menjadi keuntungan.

Tidak pailitnya China Railway, selain mengandalkan manipulasi keuntungan, hutang baru bayar hutang lama juga sangat mencolok, menurut nara sumber, hutang China Railway di akhir tahun 2016 yang mencapai RMB 4,72 trilyun itu, pembayaran bunga hanya RMB 75,2 milyar. Jika dibagi dengan total hutang di akhir tahun 2015, berarti biaya modal China Railway adalah kurang dari 2%. Biaya modal yang sedemikian rendahnya, inilah yang menyebabkan China Raiway tidak gentar terus berhutang lagi untuk membayar hutang lama.

Dan dari total hutang China Raiway sebesar RMB 4,72 trilyun itu, sebesar RMB 3,95 trilyun di antaranya adalah hutang jangka panjang, antara lain pinjaman dari dalam negeri sebesar RMB 3,77 trilyun yang berarti lebih dari 90% yang dipinjam itu berasal dari bank milik negara.

Pinjaman dalam negeri adalah hutang dalam negeri, perusahaan pusat dikuasai oleh PKT, demikian pula bank milik negara, kebijakan utama dalam menyelesaikan beban hutang suatu perusahaan negara adalah “hutang dialihkan menjadi saham”.

Tanggal 3 Januari 2017, rapat kerja China Railway mengemukakan akan melakukan penelitian secara aktif untuk mengalihkan hutang perusahaan menjadi saham. Begitu hutang diubah menjadi saham, hutang China Railway di bank akan menjadi saham, setelah memiliki saham maka bank akan berubah dari debitur menjadi pemegang saham. Dengan demikian, maka kredit macet di bank akan hilang, begitu pula dengan beban hutang pada perusahaan pusat tersebut akan hilang semuanya.

Menkeu RRT Liu Kun “dengan penuh percaya diri” pernah menyatakan, beban hutang daerah dikendalikan dengan efektif, diperkirakan dalam tempo 5 hingga 10 tahun dapat habis dibebankan.

Sebenarnya berapa pun beban hutang entah 40 triliun ataupun 400 trilyun, 99% di antaranya adalah hutang dalam negeri, hanya bisa “dialihkan menjadi saham”.

Namun hutang beralih menjadi saham bukan berarti lenyap tak berbekas, melainkan akan dilemparkan ke bursa saham lewat perusahaan yang telah go public, lalu beban tersebut ditanggung oleh rakyat yang memiliki saham tersebut.

Uang di dalam bank adalah milik seluruh warga yang menabung, juga ditanggung oleh seluruh warga. Dengan demikian krisis hutang PKT akan memicu kemarahan 1,3 milyar warga.

Hutang harus dibayar adalah hal yang wajib, sekarang PKT hanya dalam kondisi mengulur, terus mengulur waktu, sampai akhirnya tidak bisa diulur lagi, maka seluruh rakyat Tiongkok akan membuat perhitungan dengannya. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds