Yan Dan

Selama dua hari (10/10), situs internet Tiongkok memuat artikel: “Beberapa tahun terakhir ini Tokyo selalu menduduki posisi sebagai kota dengan populasi nomor satu dunia, namun posisi tersebut kini mulai goyah”. Karena survei terbaru dari Inggris menyebutkan, “Penduduk ibukota Indonesia di Jakarta akan menembus angka 35,6 juta jiwa pada tahun 2030 dan melampaui Tokyo sebagai peringkat satu yang baru”.

Belum lagi, bagi Jakarta untuk bisa melampaui Tokyo dalam hal jumlah penduduk baru akan terwujud 12 tahun lagi (2030), selama ini apakah akan ada perubahan, siapa pun tidak bisa memastikan; seandainya analisa dan perkiraan ini menjadi kenyataan, apakah Jakarta bisa dibandingkan dengan Tokyo?

Sebenarnya, antar kota jika dibandingkan, populasi padat justru adalah kelemahan. Siapa yang mampu mengatasi kelemahan ini, membuat perkembangan kota dan kehidupan warga tidak terpengaruh, baru bisa menunjukkan keunggulan kota tersebut.

Dilihat dari ranking Tokyo pada “Kota Layak Huni Dunia”, Tokyo tidak hanya mengatasi kelemahannya, bahkan membuat penduduk dalam jumlah besar yang hidup di dalamnya bisa memiliki kualitas hidup yang tinggi.

Dalam “Ranking Kota Layak Huni Dunia 2018” yang juga dirilis oleh instansi berwenang di Inggris menunjukkan bahwa, Tokyo yang “berpenduduk nomor satu dunia” menduduki posisi ke-7. Sementara dalam survey di atas disebutkan kota besar di Jepang yang “paling parah masalah penuaan usia penduduknya” yakni kota Osaka, bahkan melampaui Tokyo, menduduki posisi ketiga.

Jika dibandingkan, dari semua 140 kota yang ikut dinilai Jakarta berada di posisi ke-119. Bisa dilihat, Jakarta yang skala penduduknya terus membengkak telah mencapai tahap yang tidak layak huni.

Menurut data dari “Buku Statistik Tahunan Kota-Kota di Tiongkok” tahun 2016, baik kota yang berpenduduk terbanyak seperti Chongqing (29.07 juta jiwa), maupun kota paling makmur seperti Shanghai (24,18 juta jiwa) dan Beijing (21,73 juta jiwa), jumlah penduduk masih jauh di bawah kota Tokyo (37 juta jiwa). Tapi jika dilihat dari “Ranking Kota Layak Huni”, baik Beijing maupun Shanghai jauh tertinggal yakni di posisi 75 dan 81, sementara kota Chongqing malah tidak masuk dalam daftar. Hanya membandingkan 5 indikator “kota layak huni” saja yakni “stabilitas, layanan kesehatan dan pengobatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, dan infrastruktur”, Jepang dan RRT perbedaannya sangat mencolok.

Pertama-tama, satu parameter penting untuk menilai stabilitas masyarakat adalah “Koefisien Gini”. Angka Koefisien Gini di RRT yang “10 tahun silam telah melampaui ambang batas 0,4 yang diakui secara internasional, di kemudian hari masih terus menanjak naik”, sedangkan di Jepang Koefisien Gini adalah “sekitar 0,28” yang merupakan “salah satu negara dimana kesenjangan pendapatannya paling kecil dan merupakan negara paling adil di dunia”.

Bicara soal “layanan kesehatan dan pengobatan”, standar kesehatan dan pengobatan di Jepang menduduki posisi nomor satu dunia, rata-rata usia penduduknya juga nomor satu di dunia. Sebenarnya dari pemberitaan oleh media massa RRT “makin banyak kaum berduit Tiongkok lebih suka ‘wisata medis’ berobat ke Jepang” sudah bisa diketahui fakta ini.

Narasumber mengungkapkan, “Dibandingkan dengan pengobatan di dalam negeri, warga Tiongkok lebih yakin pada Jepang, beranggapan tingkat akurasi pemeriksaan medis di Jepang sangat tinggi”; “dikabarkan kanker yang tidak terdeteksi di Tiongkok, saat diperiksa di Jepang bisa terdeteksi”; “dalam hal pengobatan kanker, metode pengobatan tercanggih seperti terapi sinar radiasi Proton, di Jepang bahkan lebih murah”.

Turis Tiongkok yang pernah mengalaminya juga mengatakan, “Sumber daya pengobatan medis di Jepang jauh lebih maju dibandingkan di Tiongkok, teknologinya juga lebih maju”; “pelayanan juga lebih baik”.

Kini, tidak sedikit warga Tiongkok menyusupi celah pada sistem pengobatan di Jepang, saat ke Jepang dan setelah berobat, langsung melarikan diri dan tidak membayar biaya pengobatan.

Jika di RRT, bahkan berpikir seperti itu pun tidak berani. Warga yang tidak mempunyai uang untuk berobat di rumah sakit besar di Beijing dan Shanghai tidak sedikit yang ditolak masuk. Dibandingkan dengan rumah sakit di Jepang, RRT tidak hanya kalah dalam hal teknik, biaya dan juga pelayanan, bahkan termasuk juga kalah dalam hal moralitas dan etika dokter.

Bicara soal “lingkungan”, di Jepang baik di desa maupun di kota, tingkat kebersihannya sejak dulu telah diakui dunia.

Di internet ada artikel mengatakan “Jepang sangat indah, udaranya bersih, air minum dan makanannya sangat aman dan alami”, merupakan “salah satu negara yang paling rendah polusinya di dunia”. “Mengurangi sampah dan memproses limbah adalah kesadaran rakyat Jepang sendiri” hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi; yang lebih berharga lagi adalah “Jepang yang wilayahnya kecil walaupun berpenduduk 127 juta jiwa, tapi tingkat cakupan hutannya mencapai 64%”. Intinya, “pertumbuhan ekonomi Jepang dicapai dengan tidak mengorbankan lingkungan dan tidak menguras lingkungan”.

Membandingkan pendidikan antara RRT dengan Jepang, harus membandingkan “hasil pendidikan” dan “kualitas warga” lebih dahulu. “Perguruan tinggi di Jepang, tanpa menghitung bidang ilmu sosial, telah membina 20 orang ilmuwan peraih Hadiah Nobel, sejak tahun 2001 sampai sekarang, setiap tahunnya setidaknya bertahan bisa meraih satu Hadiah Nobel”. Sementara kualitas warga Jepang, sepertinya akan membuat malu warga RRT.

Orang Jepang yang mewarisi kebudayaan Konfusius sangat “mengedepankan sopan santun, kepercayaan, taat pada peraturan, bertanggung jawab dan yang sudah bagus terus ditingkatkan lebih bagus lagi”; orang Jepang “selalu membawa kantong plastik saat keluar rumah, memilah sampahnya sesuai tempatnya, polisi di jalanan tidak banyak, tapi semua orang tertib.

Jika dibahas, penyakit yang paling dikritik di sebuah kota besar adalah kemacetan lalu lintas. Tapi, membandingkan Tokyo dengan Beijing tidak sulit mendapati, kendaraan bermotor di Tokyo 3 juta unit lebih banyak daripada di Beijing, tapi “pada jam pergi dan pulang kerja pada dasarnya tidak macet”, “tidak ada yang sembarangan membunyikan klakson atau berganti jalur sembarangan, juga tidak ada pembatasan dengan nomor polisi kendaraan, kamera lalu lintas juga sangat sedikit”.

Bagaimana dengan Beijing? “Kamera tersebar ibarat jaring, namun kemacetan tetap terjadi. Bagi yang pernah ke Tokyo mayoritas akan terkesima dengan jaringan transportasi umum yang sangat maju, tingkat kemajuannya jauh melampaui Beijing dan Shanghai”.

Tokyo yang berpenduduk nomor satu terbanyak, kini menjadi salah satu kota yang paling layak huni, ini adalah hal yang tidak mudah. Kehormatan seperti ini sepenuhnya berkat negara yang menopangnya yakni Jepang, yang juga meraih sejumlah penghargaan seperti “salah satu negara paling bersih di dunia”, “salah satu negara yang tingkat keamanannya terbaik di dunia”, “salah satu negara dengan kualitas makanan teraman di dunia”, “salah satu negara yang memiliki kualitas dan moralitas warga tertinggi di dunia” dan lain sebagainya.

Selain semua “salah satu” tersebut, Jepang juga memiliki banyak “nomor satu”. Seperti, jumlah hak cipta teknologi inti, jumlah perusahaan tipe inovatif dunia, kualitas hidup terbaik, standar pengembangan energi hijau… … semuanya di posisi nomor satu dunia. Selain itu, kapal induk pertama, CD dan DVD pertama, kamera video pertama, LCD TV pertama, komputer elektronik pertama, laptop pertama … … semua itu juga merupakan hasil ciptaan Jepang.

Jika dibandingkan, Tiongkok di bawah kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) juga mempunyai banyak “nomor satu” di dunia.

Seperti, rasio harga rumah dengan pendapatan rumah tangga tahunan nomor satu di dunia, jumlah birokrat Dinasti Merah PKT nomor satu dunia, biaya administrasi nomor satu dunia dan minimnya biaya pendidikan nomor satu dunia.

Bahkan, jumlah produk palsu buatan RRT nomor satu di dunia, tingkat penderita kanker nomor satu di dunia, kematian akibat kecelakaan lalu lintas nomor satu di dunia;. Parahnya lagi, produksi dan export pestisida nomor satu di dunia, hengkangnya konglomerat dari Tiongkok nomor satu di dunia, dan lain sebagainya. Tiongkok yang seperti ini, entah kapan baru bisa melampaui Jepang? (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular