Erabaru.net. Kota Pompeii di Romawi adalah sebuah kota mewah yang dilengkapi dengan banyak vila yang megah, kuil-kuil, gedung-gedung pertunjukan, arena belajar, gedung-gedung pengadilan, dan juga tempat-tempat ibadah. Dalam waktu hanya satu hari, kota tersebut tertutup oleh lautan lava.

“Nikmati saja hidup saat ini karena hari esok tidak pernah bisa diduga,” adalah prinsip yang dipegang oleh para penduduk kota Pompeii, yang dengan jelas menunjukkan pemikiran hedonistik mereka.

Bencana seringkali datang saat moralitas umat manusia telah sangat rusak.

Last Day of Pompeii karya Karl Bryullov, 1833. (Wikipedia)

“The Last Day of Pompeii” (Hari Terakhir Kota Pompeii) adalah mahakarya yang dilukis oleh seniman Rusia, Karl Pavlovich Bryullov pada tahun 1833.

Menutupi wilayah seluas lebih dari 323 kaki persegi (30 meter persegi), mahakarya yang dibuat oleh Bryullov pertama kali dipamerkan di Roma. Karya itu dipajang di Akademi Seni Murni milik Kaisar sebagai contoh yang luar biasa bagi seluruh seniman yang sedang belajar. Kini, karya tersebut ada di museum Rusia, di Saint Petersburg.

Karl Bryullov. (Public Domain)

Lukisan itu menggambarkan letusan gunung Vesuvius yang terjadi tiba-tiba, badai petir yang mengerikan, gempa bumi, runtuhnya bangunan-bangunan, situasi horor yang tidak terduga, serta tangisan para manusia di hadapan kematian.

Para penduduk kota Pompeei, yang sebelumnya hidup dalam nafsu, keserakahan, kekejaman, seks bebas, dan pemujaan terhadap para dewa palsu, akhirnya harus menghadapi bencana pemusnahan.

Di bagian tengah dari lukisan tersebut, adalah seorang wanita dengan baju yang longgar dan ada banyak sekali harta di sekelilingnya, mengirimkan pesan bahwa keserakahan adalah salah satu penyebab peristiwa tragis yang dialami seseorang.

(Wikimedia Common)

Seorang wanita yang berlutut dengan satu kaki dengan dua orang putri di sisinya, memandang ke langit, berharap untuk bantuan dari langit.

Seorang pendeta sedang melihat ke arah patung dewa-dewa Pagan yang dia sembah. Diselimuti oleh kegelapan, dia membawa sebuah obor, mungkin itu adalah sebuah pesan bahwa kegelapan yang tidak dapat dihindarkan akan menunggu mereka yang menyembah dewa-dewa palsu.

(Wikimedia Common)

Seorang pendeta lain, mengenakan jubah putih yang terang, menutupi kepalanya dalam upaya untuk menyelamatkan diri, namun tetap dikutuk sama seperti yang lain.

(Wikimedia Common)

Seorang pemuda sedang memeluk jasad istrinya. Hidup atau mati sudah tidak penting lagi baginya; dia telah kehilangan keinginan untuk hidup dan menunggu kematian sebagai penyelamatnya.

(Wikimedia Common)

Walaupun bahaya besar sedang terjadi, dua orang putra sedang membopong Ayah mereka, yang sedang mengangkat tangannya ke langit untuk memohon pengampunan.

(Wikimedia Common)

Dalam adegan lain, seorang anak sedang berusaha membantu Ibunya untuk bangkit dari tanah—sebuah tampilan yang jelas akan bakti kepada orangtua.

(Wikimedia Common)

Dalam situasi yang paling buruk sekalipun, rasa ingin menolong masih ada.

Akhirnya, dalam seluruh tampilan yang mengerikan, sang pelukis menunjukkan kepada kita sebuah tragedi, yang mengingatkan kita untuk menempatkan diri kita di dalam lukisan, serta untuk menjaga moralitas kita setiap saat dan dimana saja.

Lokasi kota Pompeii. Kredit: Wikipedia.

Sisa-sisa peninggalan kota Pompeii menunjukkan adanya 100 bar dan 25 rumah bordil yang beroperasi disana, sementara hanya ada 20.000 jiwa yang tinggal di kota tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa seks bebas yang terang-terangan, serta kegemaran untuk bermabuk-mabukan adalah hal biasa bagi para penduduk di kota itu.

Sisa-sisa bangunan kota Pompeii. Kredit: Pixabay
Sisa-sisa bangunan di Pompeii, Italia. (Wikimedia Common)

Kota Pompeii yang makmur terkubur oleh debu dari letusan gunung Vesuvius pada tanggal 24 Agustus 79. Sisa-sisa peninggalan kota tersebut telah menjadi sebuah museum hidup. Apa yang terjadi disitu telah dianggap sebagai sebuah contoh pelajaran yang mendalam bagi manusia, akan kemarahan Tuhan.

“Garden of the Fugitives”. Para korban letusan gunung Vesuvius yang telah menjadi fosil. Kredit: Wikipedia

Kehidupan yang foya-foya, penuh nafsu dan kekejaman akan mendatangkan bencana. Satu-satunya harapan bagi umat manusia untuk terhindar dari bencana pemusnahan adalah untuk menjaga standar moralitas mereka, mempertahankan kebaikan, dan mempunyai keyakinan yang tulus kepada Tuhan. (jul)

Sumber: thebl.com

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds