Erabaru.net. Komunis Membantai dengan Brutal – Kejahatan Menembus Kubah Semesta adalah judul dari Bab 3 dari Buku Tujuan Terakhir dari Paham Komunis yang diterbitkan oleh Editorial 9 Komentar Partai Komunis Tiongkok.

Berikut isi pengantar Bab 3 dari Buku Tujuan Terakhir dari Paham Komunis :

Pengantar: roh jahat komunis membunuh di sepanjang perjalanannya

Berbicara tentang partai komunis, kesan paling utama dari orang-orang adalah sebuah kata: “membunuh”. Pembunuhan oleh partai komunis, kebanyakan terjadi pada masa damai, setidaknya juga berada dalam wilayah kekuasaan sendiri.

Gerakan Pembersihan yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah membunuh 100 ribu Tentara Merah, kemudian Gerakan Penyuluhan (zheng feng) Yan’an dan Reformasi Lahan Mengganyang Tuan Tanah, terus hingga serangkaian gerakan pembersihan politik setelah tahun 1949, telah membunuh manusia seolah tak terhitung jumlahnya.

Apakah perang, ataupun tirani di dalam sejarah, semuanya juga pertama-tama memiliki musuh terlebih dahulu barulah membunuh. Namun partai komunis bertindak sebaliknya, demi membunuh maka mencari permusuhan, jika tidak ada musuh juga harus menciptakan musuh untuk dibunuh.

Partai komunis mengapa kecanduan membunuh? Karena “membunuh” adalah langkah strategis bagi tujuan terakhir roh jahat komunis untuk menebar medan teror di dunia manusia. Partai komunis menganggap “membunuh” sebagai sebuah cabang “pengetahuan” dan sejenis “ilmu seni”, membuat “pembunuhan” telah mencapai puncaknya.

Bagaimanakah cara Partai komunis membunuh? Membunuh dengan pisau, membunuh dengan mangkuk nasi, membunuh dengan opini publik.

Membunuh dengan pisau, sudah tidak perlu dibahas lagi, bagi PKT yang percaya bahwa “kekuatan politik berasal dari laras senapan”, itu sudah merupakan ilmu khusus andalannya.

Apa itu “membunuh dengan mangkuk nasi”? Yaitu adalah menahan mangkuk nasi seseorang, jika tidak tunduk maka tidak diberi makan. Ada begitu banyak kaum intelektual, dengan menggunakan mangkuk nasi, telah dipaksa bertekuk lutut oleh partai komunis.

Pada tahap awal pemerintahan (setelah 1949) mereka membunuh secara demonstratif. Dalam Peristiwa Pembantaian Tiananmen 1989 mereka membunuh secara semi terbuka meskipun pasca kejadian telah disangkal sendiri dengan keras. Ketika di tahun 1999 terjadi penindasan terhadap Falun Gong, mereka tidak lagi membunuh secara terbuka, perampasan organ secara hidup-hidup berskala besar yang terungkap setelahnya, jelas adalah membunuh secara diam-diam yang tertutup sangat rapat. (Getty Images)

Orang terpelajar di Tiongkok, sejak dahulu kala, semuanya membicarakan integritas dan tidak tergoda oleh keuntungan. Pada zaman dahulu, setelah tidak menjabat, kebanyakan orang masih dapat mencari nafkah.

Dalam kisah kuno “tidak mematahkan pinggang demi nasi lima dou (berat lima dou = 3,6 Kg, ungkapan ini bermakna orang yang bermartabat)” diceritakan Tao Yuanming (sastrawan zaman Dinasti Jin) yang tidak tahan dengan hinaan pejabat korup, masih dapat dengan kepala tegak menyerahkan stempel pejabat, pergi menjalani kehidupan di pedesaan yang santai dan bebas. PKT telah mengendalikan semua sumber daya sosial yang ada, jika tidak diberikan mangkuk nasi, maka manusia hanya dapat menemui jalan buntu.

Membunuh dengan opini publik, juga merupakan satu karakteristik istimewa partai komunis. Karena telah mengendalikan seluruh media opini publik, jika ingin menumbangkan siapa, maka segera ditumbangkan; siapa saja dituduh sebagai orang jahat, maka orang itu adalah jahat; siapa saja dituduh berdosa sepanjang hidupnya, maka orang itu berdosa sepanjang hidupnya.

Yang ingin dibunuh partai komunis itu apa? Partai komunis ingin Bertarung dengan Langit, Bertarung dengan Bumi, Bertarung dengan Manusia, karena itu adalah demi membunuh Langit – membunuh Bumi – membunuh Manusia.

Membunuh Langit—-menggunakan panji “Ateisme” untuk membunuh kepercayaan terhadap Dewa dan Buddha, demi memuluskan jalan “Ateisme”;

Membunuh Bumi—-menggunakan dalih mengubah bentuk gunung dan sungai untuk menaklukkan alam, merusak lingkungan, serta mempraktikkan “Tak Kenal Takut” dari “Ateisme” yang menganggap tiada Fa [Hukum] dan tiada Langit.

Membunuh Manusia—-membunuh sesama anggota partai, membersihkan anggota yang tidak dapat memenuhi tuntutan kejahatan partai, untuk mengintensifkan penempaan sifat jahat partai; membunuh dengan sasaran kaum elit, membunuh orang-orang yang menjadi penghalang dalam implementasi rencana roh jahat, termasuk kalangan elit masyarakat selaku pewaris kebudayaan; membantai sesuka hati tanpa tujuan, menggerakkan massa melawan massa, demi tujuan membangun dan mempertahankan situasi teror yang ganas.

Membunuh, ada beberapa tujuan utama. Pertama adalah untuk memusnahkan musuh-musuh yang dihasilkan; Kedua adalah agar tangan sang pembunuh bergelimang darah, dan bersama-sama partai melakukan dosa, setelah memiliki dosa asal, tiada pilihan lain selain sehati dengan partai komunis, dan menjadi alat pembunuh dari partai komunis; ketiga adalah untuk membangun lingkungan teror berwarna merah, dan mengintimidasi semua manusia. Semua “Membunuh” ini, adalah demi membuka jalan untuk merusak kebudayaan – menghancurkan moralitas.

Pembantaian yang dilakukan partai komunis khusus terhadap para penganut agama dan kaum intelektual, adalah sengaja diciptakan untuk memutus kebudayaan, memutus tuntas hubungan antara generasi berikutnya dengan kepercayaan maupun Kebudayaan Tradisional. Ini adalah bagian yang sangat penting dari rencana membuat umat manusia rusak dan melangkah menuju kemusnahan terakhir – namun seringkali bagian ini diabaikan oleh manusia.

Membunuh itu — ingin membunuh sampai kapan?

Pembunuhan partai komunis yang dilakukan secara terbuka, tidak hanya menggunakan teror saja untuk menekan dan membelokkan tulang punggung manusia, masih harus menggunakan Ketakutan yang timbul menjelang dibunuh — meresap ke dalam darah manusia, yang berubah menjadi gen teror, dan generasi demi generasi terus diwariskan.

Jika sudah membunuh hingga tahap ini, maka partai komunis akan berubah dari membunuh secara terbuka menjadi membunuh secara diam-diam.

“Reformasi Lahan” “Menekan Kontrarevolusioner” “Tiga Anti” “Lima Anti” “Revolusi Kebudayaan”, itu adalah membunuh secara terbuka, bahkan memanggil massa untuk menyaksikan, tepatnya adalah ingin membunuh agar dilihat banyak orang. “4 Juni 1989” [sering juga disebut pembantaian Tiananmen] adalah membunuh secara semi terbuka, setelah kejadian — disangkal dengan keras.

Setelah tiba tahun 1999 — menganiaya Falun Gong, ini sudah tidak membunuh secara terbuka, pengambilan organ secara hidup-hidup skala besar yang terungkap setelahnya, itu semuanya adalah membunuh secara diam-diam yang tertutup sangat rapat.

Sejarah dari partai komunis, tepatnya adalah sejarah pembunuhan manusia. Jika ingin “Ateisme” dibubuhkan ke dalam bumi pertiwi bangsa Tionghoa, ingin bangsa Huaxia [nama kuno dari Tiongkok] berubah menjadi bangsa yang “Tiada Fa [Hukum] dan Tiada Langit”, serta ingin menghancurkan Kebudayaan Hasil Warisan Dewa di Tiongkok, maka tanpa “membunuh” untuk memuluskan jalan, adalah sama sekali tidak dapat terlaksana.

Soviet Rusia Sebagai Pra Pertunjukan

Demi memusnahkan umat manusia, roh jahat komunis pertama-tama harus memusnahkan Kebudayaan bangsa Tionghoa.

 

( Keterangan gambar di atas : Negara Uni Soviet yang belum lama berdiri telah mengexpor revolusinya dan Tiongkok adalah titikfokusnya. Melalui Mikhail Borodin (ke 2 dari kiri) membuat Kuomintang yang waktu itu masih dipimpin oleh Dr Sun Yat Sen menerima kebijakan “Aliansi denganRusia – Toleransi dengan PKT”. Setelah Dr Sun wafat jenderal Chiang Kaishek (ke 2 dari kanan) menyadari penyusupan pihak komumis ke dalam tubuh Kuomintang (partainasionalis) dan menganulir kerjasama tersebut. Foto dibuatpada 1927. sumber ; Wikipedia)

“Roh jahat” telah memilih tetangga dekat Tiongkok, menggunakan geografi dan populasi dari negara besar Uni Soviet untuk melakukan percobaan.

Uni Soviet terletak sangat dekat dengan Tiongkok, dapat menjadi tenaga yang baik sekali untuk mendukung ekonomi – militer serta politik regional Tiongkok; juga karena Uni Soviet memiliki wilayah yang luas – populasi yang besar, barulah dapat lolos dari negara-negara Eropa yang baru saja berdiri dan juga serangan dari Jerman saat Perang Dunia ke II, dengan demikian paham komunis barulah dapat bertahan di tengah ancaman kematian.

Uni Soviet baru saja berdiri, dengan mudahnya menggunakan kekuatan nasionalnya untuk melakukan “Ekspor Revolusi”. Ia menjadikan Tiongkok sebagai titik fokus dari Ekspor Revolusi, mengirim Grigori Voitinsky ke Tiongkok untuk mendirikan kelompok komunis, lalu melalui Mikhail Borodin — Kuomintang menerima kebijakan “Front Persatuan Pertama [Aliansi dengan Rusia atau komunis Tiongkok di saat awal]”, menggunakan partai komunis Tiongkok merasuk ke dalam tubuh Kuomintang dan tumbuh dewasa dengan cepat.

Uni Soviet baru didirikan saja sudah melakukan percobaan membunuh manusia menggunakan kekerasan — menciptakan teror dengan sebutan Komite Pembersihan Seluruh Rusia, yang disingkat dengan Cheka. Vladimir Lenin yang percaya bahwa “Kediktatoran adalah kekuasaan yang secara langsung dilandasi kekerasan dan tidak dibatasi oleh hukum apa pun”, telah mempercayakan kewenangan kepada Cheka untuk membunuh orang sesuka hati tanpa perlu diadili.

Riset menunjukkan bahwa, dari tahun 1917 hingga 1922, jumlah manusia yang secara langsung digantung mati dan dieksekusi tembak oleh Cheka — mencapai jutaan orang. Hanya tahun 1921 itu saja, kelaparan yang diciptakan oleh partai komunis Soviet telah menewaskan sekitar 5 juta orang.

Satu lagi percobaan utama Uni Soviet, adalah dengan kekerasan mendirikan situasi di mana ajaran sesat komunis menyatukan kolong Langit dengan “Ateisme” sebagai landasan. Sedangkan ideologi yang lain, tidak peduli apakah itu agama ataupun kebudayaan tradisional — sedang dalam barisan menuju kemusnahan.

Setelah merampok kekuasaan pada tahun 1917, Vladimir Lenin segera mengeluarkan jurusnya secara besar-besaran, mulai menggunakan kekerasan – menindas dan menyerang agama Ortodoks maupun kepercayaan Ortodoks, untuk merusak kebudayaan, memaksa manusia dunia rusak moralitasnya sehingga jauh meninggalkan Tuhan. Ini juga merupakan percobaan yang dilakukan demi merusak Kebudayaan Tiongkok.

Vladimir Lenin di satu sisi terus mempromosikan Ateisme, “Di dalam teori sosialisme ilmiah dan praktiknya, Ateisme adalah satu bagian dari Marxisme yang tak perlu diragukan dan tak bisa dipisahkan”.

Dari tahun 1917 sejak hari pertama Bolshevik memegang tampuk kekuasaan, telah menetapkan perusakan kebudayaan – pemusnahan kepercayaan kepada Tuhan dengan menggunakan kekerasan sebagai satu-satunya tujuan utama dari revolusinya.

Setelah Vladimir Lenin meninggal, Joseph Stalin mengikuti langkah-langkahnya, dan pada tahun 1930an dimulailah Pembersihan Besar-besaran [Great Purge], selain orang-orang di dalam partai komunis, kaum intelektual dan para pengikut agama berada dalam barisan pembersihan.

Joseph Stalin pernah mendeklarasikan ke seluruh dunia akan merealisasikan “Rencana Lima Tahun Ateisme”, pada saat menyelesaikan rencana ini, gereja terakhir akan ditutup, pastor terakhir akan dimusnahkan, bumi pertiwi Uni Soviet akan berubah menjadi “Lahan Subur Ateisme Paham Komunis”, jejak agama tidak dapat lagi ditemukan.

Menurut perkiraan konservatif, dalam kampanye “Pembersihan Besar-besaran [Great Purge]”, pastor yang dianiaya hingga meninggal mencapai 42.000 orang. Hingga tahun 1939, seluruh Uni Soviet hanya tersisa seratus lebih gereja dari seluruh Gereja Ortodoks Timur yang terbuka untuk umum, padahal sebelum Revolusi Oktober jumlahnya ada 40.437 gereja. Gereja dan biara [Abbey] dari Gereja Ortodoks Timur yang ditutup mencapai 98%. Pada masa periode ini, semakin banyak kaum elit kebudayaan – kaum intelektual yang dihukum, atau dikirim ke kamp konsentrasi Gulag, atau juga ditembak mati.

Sejak kematian Joseph Stalin hingga Uni Soviet runtuh tercerai-berai, rezim partai komunis Soviet tetap melanjutkan serangan ke berbagai kalangan kaum elit kebudayaan dan agama. Novelis – sejarawan Rusia yang terkenal Aleksandr Solzhenitsyn memperkirakan, Joseph Stalin secara keseluruhan telah menyebabkan kematian tidak wajar sebanyak 60 juta orang.

Karena Tiongkok merupakan panggung pertunjukan besar dari umat manusia selama lima ribu tahun, perang besar antara yang Lurus dan yang Jahat di dunia manusia akan dipentaskan untuk terakhir kalinya di Tiongkok, oleh karena itu peran percobaan yang dimainkan oleh rezim komunis Uni Soviet setelahnya hilang bagai asap di udara, runtuh berguguran, dan kelompok paham komunis yang pernah membuat kekacauan dalam satu periode juga akhirnya tercerai-berai. (WHS/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds