Washington DC – Teleskop ruang angkasa milik NASA, Kepler, resmi dipensiunkan. Pesawat antariksa tanpa awak yang menjadi cangkang teleskop tersebut kehabisan energi setelah menjalankan misi selama 9,5 tahun.

Sepanjang misinya, Kepler berhasil mendeteksi ribuan planet di luar tata surya kita. Penemuannya mendorong pencarian dunia asing yang masif, yang mungkin saja menjadi tempat kehidupan alien dan jenis makhluk hidup lainnya.

“Teleskop itu masih mengorbit matahari pada posisi sejauh 94 juta mil dari Bumi. Teleskop itu akan melayang semakin jauh dari planet Bumi, ketika para insinyur misi mematikan pemancar radio,” kata rilis badan antariksa Amerika Serikat itu, pada Selasa (30/10/2018) lalu.

Teleskop itu memetakan berbagai keragaman planet yang berada di galaksi Bima Sakti kita, dengan temuan yang menunjukkan bahwa sistem bintang yang jauh dihuni dengan miliaran planet. Kepler bahkan membantu menemukan bulan pertama yang berada di luar tata surya kita.

Teleskop Kepler menemukan lebih dari 2.600 dari sekitar 3.800 exoplanet. Itu adalah istilah untuk planet-planet di luar tata surya kita. Ribuan planet itu didokumentasikan dalam dua dekade terakhir.

Sistem pemosisiannya rusak pada tahun 2013 sekitar empat tahun setelah peluncurannya. Meskipun para ilmuwan akhirnya menemukan cara agar teleskop tetap beroperasi. Teleskop itu, sekarang kehabisan bahan bakar yang diperlukan untuk operasi lebih lanjut, yang mengarah ke masa masa pensiunnya.

“Meskipun ini mungkin peristiwa yang menyedihkan, kami sama sekali tidak merasa tidak senang dengan kinerja mesin yang luar biasa ini. Hasil penerbangan Kepler selama 9,5 tahun, bahkan lebih dari dua kali lipat dari target awal,” Charlie Sobeck, insinyur sistem proyek di NASA, Ames Research Center di California, mengatakan kepada wartawan melalui panggilan konferensi.

Kepler digantikan oleh teleskop baru NASA, Exitlanet Survey Satellite, atau TESS, yang diluncurkan pada bulan April. TESS adalah misi dua tahun, bernilai 337 juta dolar AS atau sekitar 5,1 triliun rupiah.

NASA meluncurkan teleskop Kepler pada 6 Maret 2009, untuk mempelajari apakah planet-planet mirip Bumi yang mungkin menyimpan kehidupan adalah umum atau langka di sistem bintang lain. Selama misinya, Kepler menemukan 2.681 planet yang telah dikonfirmasi dan 2.899 kandidat planet lainnya, sehingga mencapai angka 5.580. Angka itu termasuk sekitar 50 benda langit yang mungkin memiliki ukuran dan suhu yang sama dengan Bumi.

“Pada dasarnya, Kepler membuka gerbang untuk eksplorasi kosmos oleh manusia,” William Borucki, kepala penyelidik Kepler yang kini sudah pensiun, mengatakan pada wartawan.

Borucki menggambarkan exoplanet favoritnya, yang terletak lebih dari 600 tahun cahaya dari Bumi dan pertama kali ditemukan oleh teleskop pada tahun 2009, bernama Kepler 22B. Ini adalah kemungkinan ‘dunia berisi air’ dengan ukuran mirip Bumi yang mungkin tertutup oleh lautan dan dengan atmosfer berbasis air. Air dianggap sebagai bahan utama untuk kehidupan.

Data Kepler juga memberikan cara baru untuk menilai apakah planet memiliki permukaan yang padat, seperti Bumi dan Mars, atau gas, seperti Jupiter dan Saturnus. Perbedaan ini membantu para ilmuwan membidik planet-planet potensial seperti Bumi dan lebih baik peluang untuk menemukan kehidupan.

Kepler menggunakan metode deteksi yang disebut fotometri transit, yang mencari secara berkala, dips berulang dalam cahaya tampak bintang yang disebabkan oleh planet yang lewat, atau transit, di depan mereka. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Video Pilihan :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds