Alibaba Group Holding Ltd dari Tiongkok menurunkan proyeksi penjualan setahun penuh pada 2 November karena kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari perselisihan perdagangan AS-Tiongkok, dimana perusahaan tersebut mempertimbangkan akan menurunkan pendapatan menjelang musim penjualan paling tinggi.

Perusahaan publik yang memiliki nilai keuangan paling besar di Asia tersebut mengatakan akan memangkas proyeksi pendapatan setahun penuh menjadi antara 375 miliar dan 385 miliar yuan ($54,4-55,6 miliar), penurunan 4-6 persen, ketika pertumbuhan penjualan dalam bisnis perdagangan intinya untuk kuartal September melambat ke tingkat terendah sejak 2016.

Dalam percakapan telepon dengan para analis pada hari Jumat, para eksekutif mengatakan pembelian-pembelian sangat mahal dapat terkena dampak oleh ketidakpastian ekonomi dan bahwa mereka akan menunda upaya untuk menghasilkan lebih banyak uang pada beberapa aspek dari pasarnya dalam upaya untuk mempertahankan bisnis di platformnya.

“Mengingat kondisi makro-ekonomi yang mudah berubah saat ini, kami baru-baru ini memutuskan untuk tidak memonetisasi, dalam waktu dekat, peningkatan persediaan yang dihasilkan dari pertumbuhan para pengguna dan keterlibatan di pasar ritel Tiongkok kami,” kata Alibaba dalam sebuah pernyataan.

Saham perusahaan yang terdaftar di AS tersebut naik tipis 0,4 persen menjadi $151,81 pada waktu 13:46 GMT, namun turun lebih dari 12 persen tahun ini di tengah penjualan yang lebih luas dari saham teknologi Tiongkok yang juga mempengaruhi Baidu Inc dan Tencent Holdings Ltd.

Keputusan untuk mendapatkan pemasukan lebih sedikit dari platformnya datang menjelang Hari Lajang (Singles’ Day) acara penjualan besar tahunan Alibaba, yang memuncak pada 11 November dan tahun lalu menjaring lebih dari $25 miliar penjualan.

Alibaba bersaing dengan sengit untuk para pelanggan dan para pedagang selama acara tersebut, dan secara historis mencatat biaya pemasaran yang jauh lebih tinggi di sekitar acara tersebut, yang juga memakan penjualan dari kuartal pertama dan ketiga.

Menjelang acara tersebut, pertumbuhan penjualan di pasar ritel Tiongkok perusahaan pada kuartal ketiga melambat menjadi 37 persen, tingkat pertumbuhan terlemahnya di hari ke sebelas.

Perusahaan telah banyak berinvestasi dalam ritel offline dan e-commerce pedesaan dalam upaya untuk memenangkan pelanggan-pelanggan baru karena pasar perkotaan Tiongkok menunjukkan tanda-tanda kejenuhan.

Kira-kira 75 persen dari pengguna baru Alibaba pada kuartal terakhir berasal dari daerah-daerah yang belum dikembangkan, kata Chief Financial Officer Maggie Wu.

Para analis mengatakan dampak ketegangan perdagangan dan regulasi yang lebih ketat di Tiongkok, termasuk aturan baru tentang iklan dan keuangan online, akan terus membebani harga saham perusahaan tersebut untuk beberapa waktu.

Pada sebuah acara baru-baru ini, Ketua Jack Ma memperkirakan perang perdagangan dapat berlangsung 20 tahun, dan mengatakan perusahaan akan menyesuaikan rencana, termasuk membuang inisiatif untuk menciptakan satu juta pekerjaan di Amerika Serikat dengan membawa produsen AS ke platform tersebut.

Saham perusahaan juga melemah baru-baru ini di tengah berita bahwa Jack Ma, 54 tahun, akan pensiun tahun depan pada 10 September, menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada CEO saat ini, Daniel Zhang.

Ma, yang mendirikan Alibaba pada tahun 1999, telah menjadi salah satu orang terkaya di Tiongkok, dengan kekayaan bersih $36,6 miliar, menurut Forbes.

TUNTUTAN-TUNTUTAN POLITIK

Pensiun awal Ma tidak terduga bagi seorang wiraswasta di tingkat pencapaiannya di Tiongkok.

Pengunduran diri Ma terjadi pada saat Beijing sedang mencoba untuk mengendalikan perusahaan-perusahaan swasta. Pada bulan Juni, Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengamanatkan bahwa semua perusahaan yang terdaftar di negara tersebut harus membentuk organisasi Partai untuk karyawan-karyawannya.

Organisasi-organisasi ini sering kali dibentuk di tempat kerja untuk memantau para karyawan dan memastikan keputusan-keputusan di tempat kerja mengikuti garis Partai.

Karena banyak perusahaan terbesar Tiongkok telah memperluas portofolionya melalui investasi-investasi berisiko di luar negeri, PKT sedang menindak tegas arus keluar modal tersebut. Di bulan Desember 2017, Partai telah memerintahkan agar semua bisnis melaporkan investasi-investasi asing mereka kepada otoritas pusat.

Sementara itu, banyak pengusaha kaya di belakang konglomerat terbesar Tiongkok telah jatuh di babat rezim Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir.

Ye Jianming, mantan ketua CEFC China Energy, perusahaan energi swasta terbesar di Tiongkok, ditangkap pada bulan Mei dan juga sedang diselidiki karena kejahatan-kejahatan ekonomi. Aset-aset perusahaannya dibekukan untuk membayar kembali utangnya yang sangat besar.

Pengamat Tiongkok seperti Chen Pokong percaya bahwa Ma mungkin telah melihat nasibnya datang dan memilih untuk mengundurkan diri lebih awal untuk menghindarinya.

Sarjana Tiongkok Chen Xiaonong mengatakan kepada NTD yang berbasis di New York bahwa banyak pengusaha di Tiongkok mampu menjadi sukses melalui koneksi-koneksi politik dengan pejabat-pejabat Partai yang berkuasa. Namun jika rezim mulai menyelidiki para pejabat korup tersebut, para pengusaha yang terhubung dengan mereka juga akan dijerat. (ran)

($1 = 6,8925 yuan renminbi Tiongkok)

Rekomendasi video:

Kuatnya Intervensi Tiongkok pada Dunia Bisnis, Membuat Jack Ma Ingin Pensiun

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds