Tang Hao

Ingin memprediksi wajah masa depan masyarakat luar negeri dengan Tiongkok ? Dua video yang ditayangkan baru-baru ini, cukup memberi petunjuk berarti.

Video pertama dari Amerika. Seorang karyawan pembersih keturunan Afrika di sebuah sekolah dasar Negara Bagian Alabama AS, tiba-tiba menerima pemberitahuan dari guru sekolah, bahwa dalam sekolah telah terjadi peristiwa buruk yang memerlukan bantuannya untuk segera dibersihkan. Maka ia pun bergegas ke TKP, namun yang terlihat adalah ratusan murid SD yang secara bersamaan meneriakkan : ”Surprise!”.

Ternyata adalah penyampaian rasa terima kasih dari para murid dan guru sekolah kepada karyawan pembersih yang telah bekerja dengan susah payah, untuk itu mereka khusus merancang sebuah kejutan.

Kemudian anak-anak beramai-ramai menyampaikan hadiah dan kartu nama. Sang karyawan pembersih pun meneteskan airmata lantaran sangat terharu.

Di masyarakat bebas negara Barat, sejak kecil anak-anak sudah mulai dididik memahami tentang “balas budi” dan berterima-kasih kepada semua orang disekeliling mereka yang diam-diam mengabdi demi kehidupan orang lain, tidak pandang kerabat atau handai-taulan.

Selain itu, juga perlu mengerti “respek”  terhadap orang lain, tidak memandang status sosial, ras, kaya atau miskin dan pekerjaannya. Asalkan rajin dan bekerja dengan sungguh hati maka patut dihormati.

Disanalah telah terwujud nasehat para pendiri negara Amerika Serikat kepada generasi berikut, tentang “Setiap orang setara dalam kehidupan”, semua memiliki hak hidup, hak kebebasan dan hak untuk memperoleh kebahagiaan yang diberikan oleh Sang Pencipta.  

Anak-anak juga diajarkan, harus memahami di setiap kesempatan untuk memiliki kepedulian, berbuat kebajikan, membalas kebaikan atau menolong orang lain. Karena masyarakat merupakan satu kesatuan, setiap orang merupakan sebuah partikel dari kesatuan tubuh masyarakat.  Hanya ketika setiap partikel merapat menyatu dengan erat dan saling membantu demi orang lain, kesatuan tubuh baru dapat diperkuat, setiap partikel baru dapat memperoleh kedamaian dan kebahagiaan, inilah konsep nilai tradisional “setiap orang demi saya, dan saya demi setiap orang”.

Lagipula, banyak guru dan orang tua murid juga mengajarkan anaknya, hari ini kamu telah membantu orang lain, mungkin saja pada suatu hari kamu mengalami kesulitan, orang lain juga akan datang membantumu.

Pendidikan kehidupan yang demikian, sepintas terdengar biasa-biasa saja, namun didalamnya telah tersirat prinsip langit tentang sirkulasi sebab-akibat yang terdapat dalam kepercayaan tradisional, yaitu “buruk-baik pasti ada imbalannya” dan “menanam sebab baik akan mendapatkan buah hasil kebaikan.”

Oleh sebab itu, membalas budi, menghormati, saling membantu, kasih sayang dan niat baik, hampir selalu terwujud dalam ucapan dan perilaku sehari-hari sebagian besar orang Amerika. Masyarakat yang sedemikian rupa memercayai dan mempertahankan nilai tradisional, kelak pasti akan tentram, damai dan kuat.

Ada sebuah video lain dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Sebuah truk besar yang penuh dengan muatan buah jeruk, telah mengalami kecelakan beruntun, kepala truk mengalami rusak berat hingga ringsek.

Ketika itu banyak orang dewasa membawa anaknya khusus datang ke lokasi kecelakaan. Bukan untuk melakukan pertolongan pada korban kecelakaan, namun mereka memanjat keatas truk untuk mencuri jeruk, seakan-akan telah memperoleh “penghasilan diluar dugaan”.

Lebih ironis lagi adalah, tidak sedikit dari anak-anak itu masih mengenakan syal merah pionir muda dari Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Rekaman kejadian yang memprihatinkan itu, justru mencerminkan fenomena umum yang kacau dalam masyarakat RRT sekarang ini lantaran telah terjadi kemerosotan etika dan moral.

Mengapa wajah masyarakat dan kepribadian rakyat Amerika dan RRT begitu berbeda bagai langit dan bumi?

Apakah kebudayaan tradisional Tiongkok tidak sebaik kebudayaan tradisional Barat? Ataukah bangsa Asia tidak seunggul orang Barat?

Jelas bukan demikian. Semua ini adalah bencana kemanusiaan akibat perbuatan partai komunis sendiri. Sebelum PKT merebut kekuasaan dari tangan Republik Tiongkok (ROC yang kini memerintah di pulau Taiwan sejak 1949).

Masyarakat Tiongkok tradisional sangat mengutamakan pendidikan anak balita, terutama pendidikan dasar etika dan moral, banyak orang tua mendidik dengan memberi penjelasan dan teladan dari perilaku sehari-hari, mewariskan 5.000 tahun etika dan nilai tradisioal dari bangsa Tionghoa.

 “Pada awalnya semua manusia pada dasarnya berkarakter baik (Rén zhī chū, xìng běnshàn. 人之初,性本善。)”, demikian yang diajarkan dari “Kitab 3 Huruf (Sān zì jīng三字經)” buku pelajaran untuk anak-anak tradisional Tionghoa yang tidak pernah pudar dalam sejarah.

Selain menjelaskan “sifat hakiki manusia adalah baik”, juga membimbing orang semenjak kecil untuk menaati prinsip “kasih – keadilan – sopan santun – kebajikan – integritas” dan “langit, bumi dan manusia menyatu”, dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam menyelesaikan pekerjaan, mampu mempersatukan keluarga maka negara pun akan makmur, juga membimbing orang melakukan kultivasi hati dan perbaikan karakter diri sendiri, hingga suatu saat kembali ketempat asalnya yang sejati.

Namun sejak PKT merebut kekuasaan pada tahun 1949, dimulai dari pemutusan kepercayaan orang Tionghoa terhadap Tuhan, dengan menggembar-gemborkan teori ateisme, tidak mempercayai prinsip langit tentang “perbuatan baik dan jahat ada imbalannya”, sehingga moral masayakat anjlok dan suka berperilaku sewenang-wenang.

Selain itu peristiwa “revolusi kebudayaan (1966-1976)” yang memusnahkan kebudayaan tradisional dan peninggalan sejarah, mengakibatkan orang Tionghoa dari materi hingga spiritual secara total telah terputus akarnya dengan tradisi kebudayaan.

Ditambah lagi melalui serentetan penindasan dengan kekerasan, pembantaian berdarah, propaganda cuci otak, memaksa orang hanya mempercayai partai komunis, salah kaprah dalam mengkultuskan roh jahat komunis bak seorang Dewa.    

 “Tidak ada lagi Partai Komunis, baru dapat terlahir Tiongkok Baru; tidak ada lagi Partai Komunis, Tiongkok baru ada harapan; tidak ada lagi Partai Komunis, rakyat Tiongkok yang berkeadilan dan bajik pasti dapat menciptakan kembali kemuliaannya dalam sejarah.”

Demikian bunyi kata penutup dalam buku “9 Komentar Tentang Partai Komunis” tidak hanya telah menunjukkan sumber akar beracun yang mencelakakan Tiongkok dan yang telah membuat Tiongkok tidak lagi tangguh dan tidak lagi dihormati, sebaliknya juga telah menunjukkan jalan menuju revitalisasi kebangkitan sejati Tiongkok. (TYS/WHS/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds