Erabaru.net. Akhirnya setelah lima tahun berlalu, semua uangnya kembali ludes tak bersisa, dan Du kembali menjadi gelandangan dan kembali mengemis.

Saat mengemis di suatu malam, dia melihat di kejauhan, ada orang yang sedang berjalan, ketika orang itu semakin dekat, dalam cahaya api temaram malam, dia tahu bahwa itu adalah seorang pria tua, dan yang lebih mengejutkan, itu adalah pria tua yang sama yang telah memberinya uang sebanyak dua kali.

Ilustrasi. Kredit: videezy.com

Du merasa malu dan buru-buru berbalik badan dan berlari pergi. Tak disangka, orang tua itu mengejarnya, orang tua itu berhasil mengejarnya dan menepuk pundaknya, “Hei! Anak muda, kenapa lari?”

Du berhenti berlari dan sedikit heran karena merasa bahwa dia sudah berlari cukup cepat namun masih bisa dikejar oleh orang tua tersebut. Du tidak menjawab dan hanya menunduk malu.

Orang tua itu berkata, “Loh, kamu kan… kenapa kamu jadi pengemis lagi?” Orang tua itu ternyata mengenali Du.

Du menceritakan semuanya dan dia mengatakan bahwa alasan dia lari adalah karena dia merasa sangat malu.

Orang tua itu akhirnya berkata, “Saya akan membantumu mendapatkan kesempatan sekali lagi, kalau kamu masih tidak berubah, kamu benar-benar tidak punya harapan, besok datanglah ke tempat kita pernah bertemu dulu!”

Du ragu, namun juga berpikir bahwa ini adalah harapan terakhir baginya, maka diapun datang. Ternyata disitu, orang tua tersebut memberinya uang 1 milyar!

Ilustrasi. Kredit: gephardtdaily.com

Du berpikir, “Saya telah menjalani hidup yang tak bermoral, boros dan malas, semua harta saya bahkan sudah habis, keluarga saya berantakan, bahkan saudara saya juga tidak mau membantu, kini di depan saya berdiri seorang tua yang telah tiga kali memberi saya uang yang begitu banyak, bagaimana bisa saya membalasnya?”

Kemudian Du berkata kepada orang tua itu, “Dengan uang sebanyak ini, saya bisa menyelesaikan semua masalah duniawi saya, bahkan merubah nasib saudara-saudara saya yang miskin dan menunaikan semua kewajiban saya terhadap keluarga. Saya benar-benar berhutang budi kepada Anda. Setelah urusan saya selesai, saya akan melakukan apa saja yang Anda minta.”

“Bagus, itulah yang saya inginkan.” Kata orang tua tersebut. “Setelah kamu menyelesaikan semua urusanmu, pada tanggal lima belas bulan tujuh tahun depan, temuilah saya di bawah pohon jintan kembar, di depan kuil Tao!” Du-pun mengangguk tanda mengerti.

Dengan uang yang dia miliki, Du mulai membayar semua hutang yang masih belum dia bayar, kemudian membelikan rumah dan ladang untuk semua saudara-saudaranya, membiayai sekolah keponakan-keponakannya, membeli tanah khusus untuk pemakaman keluarga dan memindahkan makam anggota-anggota keluarga yang terpisah ke tanah pemakaman tersebut.

Dia merenovasi rumah, juga memberikan uang yang sangat banyak kepada istri serta mertuanya, memastikan mereka tidak akan pernah mengalami kekurangan uang.

Dia juga menemui orang-orang yang punya masalah dengannya, dan berdamai dengan mereka.

Ilustrasi. Kredit: pdhotspot.com

Du membangun jalan dan jembatan. Dia membayarkan biaya pengobatan untuk orang-orang yang sakit, membelikan makanan, membelikan ladang, terus sampai semua uangnya habis.

Tanpa disadari saat uangnya habis, saat itu sudah tanggal empat belas bulan tujuh, dan dia ingat untuk menemui pria tua yang pernah membantunya, besok di tanggal lima belas bulan tujuh.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Du pergi ke tempat yang telah ditentukan, dia melihat orang tua itu sedang bernyanyi di bawah pohon jintan yang rindang.

Ilustrasi. Kredit: daoistgate.com

Orang tua itu bertanya, “Kamu sudah datang, bagaimana dengan semua urusan duniawimu?”

“Semua sudah beres, semua hutang saya sudah lunas, saya sudah berdamai dengan semua musuh saya, saya sudah meninggalkan uang yang sangat banyak untuk keluarga saya, memastikan mereka tidak akan kekurangan uang.” Jawabnya.

“Baguslah kalau begitu, sekarang mari kita berangkat!” Kata orang tua tersebut.

Ilustrasi. Kredit: vocationsvancouver.ca

Setelah itu mereka berdua sama-sama mendaki Gunung Hua, menuju Puncak Yuntai.

Mereka terus mendaki, setelah cukup lama mendaki, akhirnya tibalah mereka di puncak, disana ada sebuah bangunan megah yang indah, itu jelas bukan bangunan biasa, di atasnya ada awan yang menjuntai, selain itu ada banyak burung bangau dan phoenix yang berterbangan.

Orang tua itu mengajaknya masuk, di dalam aula utama, ada sebuah panci besar yang tingginya sekitar tiga meter, di dalamnya ada berbagai macam obat yang sedang direbus. Api berwarna keunguan ada di bawahnya, memanaskan panci tersebut. Di sekeliling panci terdapat patung ajaib, Perawan Giok, Naga Hijau dan Harimau Putih.

Saat itu matahari sudah hampir terbenam, orang tua itu tiba-tiba berubah menjadi seorang tua dengan jubah pendeta Tao, dia memberi Du tiga buah pil dan secangkir arak, kemudian dia berkata, “Kamu duduklah di tengah sini, di depan panci, dan berjanjilah untuk tidak mengatakan apa-apa, apapun yang terjadi, apapun yang kamu lihat, dewa, iblis, binatang, setan, neraka yang menakutkan, apapun itu, kamu harus tetap diam, mengerti?”

Du mengangguk tanda mengerti

“Bahkan sekalipun kamu melihat orang yang kamu sayangi menderita, atau melihat orang yang kamu benci menghinamu, kamu harus berjanji untuk tetap diam, karena semua itu hanyalah ilusi, mengerti?”

Du sekali lagi mengangguk.

“Satu lagi, apapun yang terjadi, kamu tidak boleh beranjak dari tempat dudukmu. Dan semua ini harus kamu lakukan, sampai nanti saya kembali, mengerti?”

Du mengangguk kembali.

“Bagus, sekarang duduklah dan ingat janjimu untuk tetap diam walau apapun yang terjadi, sampai nanti saya kembali!”

Kemudian orang tua itu menghilang, meninggalkan Du duduk sendirian disana. (lpc/jul)

BERSAMBUNG KE BAGIAN -3

Sumber: pencerahansejati.com

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds