Erabaru.net. Roh Du terbang dan kemudian sampai di hadapan raja akherat.

Raja akherat bertanya, “Siapa namamu?”

Ilustrasi. Kredit: epochtimes.com

Du tidak menjawab.

Satu penjaga disana membentak Du, “Manusia bodoh, jawab! Cari masalah kamu? Berani tidak menjawab pertanyaan raja!”

Kemudian penjaga itu mencambuk Du berkali-kali, tapi tetap tidak ada satu suarapun yang keluar dari mulut Du.

Raja akherat berkata, “Saya tahu kamu tidak bisu, dengar, kamu ini sudah mati, kamu tidak perlu lagi mengikuti permainan bodoh pendeta Tao yang menyuruhmu diam, bagaimana dia bisa datang jika kamu sudah berada di akherat?”

Du tetap diam.

“Baiklah, sekali bodoh tetap bodoh, bawa dia dan buat supaya dia berbicara!” Kata raja akherat.

Penjaga disana membawa Du dan mulai menyiksanya, mereka menuangkan air mendidih ke mulut Du, mencambuknya, menusuknya dengan besi panas, menggilas kakinya di bawah roda, menyayat dagingnya, menuangkan minyak panas ke tubuhnya.

Ilustrasi. Kredit: epochtimes.com

Mereka menyiksanya dengan beragam cara, namun Du tetap diam.

Akhirnya dia dibawa kembali ke hadapan raja akherat.

“Masih tidak mau berbicara? Baiklah kalau begitu, sekarang kamu akan bereinkarnasi, tapi kamu akan reinkarnasi menjadi seorang wanita yang hidupnya penuh musibah!”

Du bereinkarnasi sebagai seorang wanita dalam sebuah keluarga yang miskin, tubuhnya lemah dan akibatnya dia sering terjatuh, dia juga sering mengalami kecelakaan kecil dan besar, selain itu dia juga kerap menderita penyakit, namun dalam semua penderitaan yang dia rasakan, Du masih ingat akan janjinya kepada sang orang tua pendeta Tao, jadi dia tidak sekalipun mengeluarkan suara, bahkan mengerang sedikitpun tidak.

Bukan hanya itu, saudara serta teman-temannya juga sering mengolok-oloknya, dan menghinanya karena berpikir bahwa dia adalah orang bisu. Walau dia sering mendapat ejekan, namun dia tidak pernah melawan ataupun membalas, dia hanya diam saja.

Akhirnya dia tumbuh dewasa, dan menjadi seorang wanita yang cantik. Seorang mahasiswa dari daerah yang sama bernama Lu Gui mendengar perihal kecantikan gadis bisu itu dan bermaksud memperistrinya, jadi dia mengirimkan seorang mak comblang untuk melamarnya.

Keluarga gadis itu menolak karena merasa bahwa anak gadisnya adalah seorang yang bisu, namun saat itu Lu Gui berkata, “Untuk menjadi seorang istri yang baik, seseorang tidak harus bisa berbicara. Dia akan menjadi contoh yang baik bagi perempuan yang terlalu banyak bicara.”

Akhirnya keluarga gadis itupun setuju dan Lu menikah dengan Du, mereka menjalani kehidupan suami istri yang harmonis, dan setelah beberapa tahun merekapun memiliki seorang anak.

Lu bermaksud ingin menyembuhkan ketidakmampuan berbicara yang dialami istrinya, dia lalu memanggil seorang tabib terkenal yang mampu menyembuhkan orang bisu.

Setelah diperiksa, tabib itu mengatakan bahwa istrinya baik-baik saja, seharusnya dia tidak bisu, sama sekali tidak ada masalah pada istrinya.

Lu merasa heran dan terus meminta Du untuk berbicara, namun Du tetap diam, akhirnya dengan marah, dan sambil menggendong bayi mereka, Lu berkata “Saya pernah tahu ada seorang menteri yang mempunyai seorang istri yang sangat membencinya, sampai istrinya tidak mau tersenyum ataupun berbicara sama sekali kepadanya. Kali ini kamu juga terus diam dan tidak mau berbicara kepada saya, apa guna rumah tangga kita jika sang istri terus saja membenci suaminya, apa artinya kehadiran buah hati kita ini?”

Kemudian Lu memegang satu kaki bayi mereka, dan membenturkan kepala bayi itu ke dinding batu dengan keras. Tengkorak bayi itu langsung hancur dan darah menyembur kencang dari kepalanya.

Cintanya kepada anaknya membuat Du lupa akan janjinya, dan diapun berteriak ketakutan.

Teriakan itu belum juga selesai, ketika tiba-tiba ruangan sekeliling berubah kembali menjadi aula megah, Du menemukan bahwa dirinya sedang duduk di depan sebuah panci besar.

Saat itu fajar mulai menyingsing.

Api di bawah panci perebusan tiba-tiba membesar dan menjulang tinggi ke atas, sampai menyentuh langit-langit bangunan, dan kemudian seluruh bangunan itu terbakar menjadi abu.

Ilustrasi. Kredit: facebook.com/taoistIching

Si orang tua datang kepadanya dan berkata, “Dasar bodoh! Lihat apa yang sudah kamu lakukan! kamu sudah mengacaukan pekerjaan saya, pekerjaan yang saya lakukan menjadi sia-sia!”

Orang tua itu menjambak rambut Du kemudian melemparkannya ke dalam sebuah guci air, dan api di bawah panci perebusanpun padam.

Dia berkata “kamu telah berhasil menaklukkan kesenangan, kemarahan, kesedihan, ketakutan, kebencian dan hasrat, hanya cinta yang belum mampu kamu taklukkan.”

Orang tua itu melanjutkan, “Jika tadi kamu tidak berteriak, ramuan obat saya sudah selesai dan kamu juga bisa hidup abadi. Hanya tinggal satu langkah saja, cukup satu langkah terakhir dan semua akan selesai. Bodoh sekali kamu!”

Du menyesal dan meminta untuk diberi kesempatan sekali lagi, dan berjanji bahwa selanjutnya dia tidak akan berbicara sedikitpun.

Namun orang tua itu mengatakan bahwa sudah tidak mungkin, sudah tidak ada lagi kesempatan kedua untuknya.

Ilustrasi. Kredit: techinasia.com

Orang tua itu kemudian menyuruh Du untuk pergi, Du kembali ke kota dan kembali menjalani kehidupan, sebagai seorang pengemis. (lpc/jul)

Sumber: pencerahansejati.com

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds