Li Muyang-Epochtimes.com

KTT G20 di Argentina yang belakangan ini kurang mendapatkan perhatikan dunia bisnis tiba-tiba menyita banyak perhatian masyarakat.

Ini sepenuhnya karena perubahan sikap Amerika Serikat dan Tiongkok, Trump dan Xi Jinping kedua “teman baik” telah tidak saling berkomunikasi selama setengah tahun karena konflik perdagangan antara kedua negara.

Kedua belah pihak kini telah mengkonfirmasikan bahwa mereka akan saling bertemu selama KTT G20  pada 30 November – 1 Desember 2018 mendatang.

Trump cukup optimis tentang hal ini, dan Beijing juga menantikannya.

Trump : Tiongkok sangat ingin memperoleh kesepakatan

Presiden Trump kepada media pada 2 November 2018 mengkonfirmasi bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok telah melakukan pembicaraan yang baik dan membuat kemajuan besar dalam kesepakatan mengatasi permasalahan.

Trump dalam percakapannya dengan Xi Jinping merasakan bahwa kedua belah pihak sangat berharap untuk mencapai kesepakatan.

“Saya pikir kita akan mencapai kesepakatan dengan Tiongkok. Saya pikir ini akan menjadi perjanjian yang sangat adil untuk semua orang, tetapi itu akan menjadi kesepakatan yang baik bagi Amerika Serikat,” kata Trump.

Trump menggunakan isilah sangat berharap untuk menggambarkan ekspektasi Beijing mengenai pembicaraan puncak antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Ia sendiri juga merasa sangat optimis dengan kesempatan tersebut.

Jadi kesepakatan apa yang nantinya akan dicapai oleh kedua belah pihak, sehingga mampu memberikan harapan “gencatan senjata” kepada kedua negara yang sedang berperang dagang ?

“Saya berpendapat bahwa kita dapat membawa kesepakatan yang baik bagi negara ini dan memberikan kesepakatan yang tepat untuk mereka,”  kata Trump.

“Jika kita untuk pertama kalinya dalam sejarah mampu membuat Tiongkok rela membuka gerbang, bertindak adil dalam perdagangan internasional. Saya bersedia melakukannya meskipun seharusnya itu dilaksanakan oleh presiden sebelumnya namun tidak terlaksana,”  tambah Trump.

Tak lama setelah pembicaraan lewat sambungan telepon antara Trump dan Xi Jinping,  Ketua Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan di sebuah forum bisnis kecil bahwa pertemuan Trump dengan Xi nanti akan menjadi pembicaraan yang “sangat formal”, dan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton sedang dalam perancangan untuk itu.

Agenda yang relevan telah dibahas secara bersama oleh kedua belah pihak, termasuk acara jamuan makan malam dan lain sebagainya yang terkait.

Larry Kudlow mengatakan bahwa Trump dalam sebuah kesempatan wawancara baru-baru ini mengatakan : “jika AS dan Tiongkok dapat mencapai kesepakatan, perjanjian yang memuaskan yang akan menguntungkan kedua belah pihak, maka pengenaan tarif akan dihapus”.

Namun VOA News dalam laporannya menegaskan bahwa masalah yang dianggap serius oleh AS sebagaimana yang disampaikan Larry Kudlow tersebut termasuk penyelesaian masalah pencurian kekayaan intelektual, transfer teknologi paksa, komposisi kepemilikan yang tidak memadai, tarif tinggi pada komoditas dan pasokan industri, cybersecurity dan lainnya.

Jika demikian, AS mungkin telah mencapai beberapa kemajuan di bidang-bidang ini. Artinya bahwa Trump mungkin telah mendapatkan semacam janji konsesi dari pihak Beijing sewaktu melakukan percakapan lewat sambungan telepon, sehingga Trump pun mengatakan bahwa perjanjian baik itu akan membuat tarif impor dibatalkan.

Dengan kata lain, dalam permasalahan tersebut Beijing telah membuat janji konsesi besar kepada pihak Washington, sehingga AS bersedia mengubah keputusannya.

Memang sedikit janggal, Tiongkok pernah berkomentar bahwa pihaknya menolak untuk menandatangani kontrak di bawah tangan, tetapi sekarang ia sebagai pihak yang bersedia mengalah justru menunjukkan antusiasnya untuk menyelesaikan konflik, mengapa bisa begini ?

Media Inggris ‘Financial Times’ mengatakan bahwa Amerika Serikat telah memberikan tekanan besar kepada Tiongkok komunis lewat aspek ekonomi dan militer, menyebabkan Tiongkok mengalami pukulan di mana-mana, menyebabkan Beijing mau tidak mau mengambil keputusan mengalah dan ingin mencapai kesepakatan dengan AS.

Pertumbuhan ekonomian Tiongkok mengalami penurunan drastis sejak konflik perdagangan

Sejak perang dagang meletus pada 6 Juli lalu, data ekonomi Tiongkok menunjukkan penurunan yang dramatis. Trump mengatakan bahwa pihak Tiongkok menyadari bahwa jika mereka tidak berhasil menyesuaikan tuntutan AS, AS akan mengenakan kenaikan tarif impor.

Trump juga percaya bahwa pengenaan tarif impor terhadap komoditas Tiongkok senilai USD. 250 miliar  ini sangat efektif, dan AS masih memiliki peluang untuk mengenakan tarif atas seluruh komoditas impor dari Tiongkok yang belum diusulkan kenaikannya.

Secara khusus Trump menunjukkan : “Sejak perang dagang kami kobarkan, ekonomi Tiongkok menunjukkan kejatuhannya”.

Semua orang tahu bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) pada indeks sentimen makroekonomi Tiongkok bulan lalu telah mencapai titik terendah baru selama 2 tahun terakhir.

 The Financial Times menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Tiongkok saat ini mengalami situasi yang cukup serius, dan kepercayaan masyarakat dan khususnya pengusaha  terus menurun.

Volume ekonomi Tiongkok dan ketahanannya dalam menghadapi perang dagang jangka pendek tampaknya tidak bermasalah, tetapi dalam jangka menengah dan panjang, kerusakan yang akan dialami ekonomi Tiongkok akan bertambah menonjol.

Artikel tersebut menunjukkan bahwa apakah itu modal asing atau modal asal Tiongkok, baik itu perusahaan milik negara atau perusahaan swasta, untuk menghindari risiko tarif tinggi, mereka telah mempercepat transfer rantai industri ke negara lain.

Ini akan mengarah pada pengosongan manufaktur di beberapa wilayah Tiongkok, termasuk kerugian yang terkait dalam investasi, output, pajak, lapangan kerja, konsumsi, ekspor dan lainnya.

Kondisi ekonomi yang buruk dan harapan-harapan perkembangannya telah mendorong Beijing untuk mengakui bahwa tekanan ke bawah terhadap pertumbuhan ekonomi sangat besar dan lingkungan ekonomi telah mengalami perubahan.

Menurut banyak ekonom, situasi sebenarnya yang sedang terjadi di lapangan jauh lebih serius daripada situasi resmi yang digambarkan pemerintah, padahal “musim dingin ekonomi” sesungguhnya masih belum muncul.

Tiongkok perlu melakukan perubahan dalam sistem

Yang lebih penting adalah hubungan AS – Tiongkok sedang berada di persimpangan jalan, dan konflik perdagangan telah menimbulkan gesekan di berbagai tingkatan di Amerika Serikat dan Tiongkok.

Financial Times mengatakan bahwa ada indikasi konflik perdagangan telah meningkat menjadi peperangan diplomatik, keuangan, intelijen, ilmiah dan teknologi serta militer.

Di antara semua friksi, bentrokan militer mungkin merupakan hal yang paling membuat Beijing sakit kepala.

Seperti yang kita ketahui bahwa militer adalah penstabil, batu pemberat dan garis penghenti kerugian dalam hubungan internasional.

Namun belum lama ini, di Laut Tiongkok Selatan, kapal perang Amerika Serikat dan Tiongkok nyaris ‘berkontak fisik’, karena jarak kedua kapal perang hanya 41 meter.

Wakil Presiden AS Pence dalam pidatonya awal bulan lalu menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan terintimidasi oleh tindakan agresif dari kapal perang Tiongkok, AS tidak akan mundur, dan akan terus bertindak di mana saja dalam hukum internasional demi kepentingan nasional.

Dengan kata lain, Amerika Serikat telah mengeluarkan peringatan keras kepada Tiongkok komunis yang ingin “terlalu berdekatan” sehingga sulit untuk menjamin tidak terjadi “letupan senjata”. Financial Times mengatakan bahwa ketika hal itu terjadi dan kedua belah pihak akan memposisikan diri sebagai musuh strategis, dan mungkin akan muncul lingkaran setan sehingga saling membalas serangan.

Partai Komunis Tiongkok yang sudah kehilangan daya untuk berperang, mungkin dapat runtuh dalam “bentrokan  terakhir” dengan Amerika Serikat.

“Salah satu dari kita akan menjadi hegemon dalam 20 atau 30 tahun perang ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok”. Demikian pernyataan mantan kepala ahli strategi Gedung Putih Steve Bannon.

Mungkin karena berbagai pertimbangan, Beijing harus membuat konsesi, memutuskan untuk mengalah.

Radio Free Asia memberitakan bahwa jika Tiongkok dan Amerika Serikat benar-benar bisa mencapai kesepakatan, Tiongkok harus membuat perubahan struktural, tetapi perubahan struktural tersebut adalah ancaman bagi sistem Partai Komunis Tiongkok.

Namun, jika Tiongkok tidak membuat perubahan struktural, itu akan sulit bertahan lama meskipun sepintas kesepakatan seolah sudah tercapai. (Sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds