Erabaru.net. Pada masa Tiga Kerajaan di Tiongkok, hiduplah seorang pria bernama Pan Zhang, sejak kecil dia suka menolong orang lain, dan dia bercita-cita untuk menjadi seorang tabib.

Sejak remaja, dia mulai mempelajari ilmu ketabiban dari seorang tabib handal, dan setelah dewasa, akhirnya dia telah berhasil mempelajari semua ilmu ketabiban yang dikuasai gurunya.

Saat itu, Tiongkok sedang berada dalam masa peperangan, tiga raja utama, yakni Liu Bei dari Shu, Cao Cao dari Wei, dan Sun Quan dari Wu, sedang terus menerus berperang, dengan ambisi yang sama yaitu untuk menyatukan Tiongkok.

Pan berpikir, bahwa dia akan bisa menolong lebih banyak orang jika dia menjadi tabib perang, maka diapun bergabung dengan kerajaan Shu, dan bertugas sebagai tabib perang.

Ilustrasi. Kredit: sangbee.com

Ketika pertempuran terjadi, siang malam Pan akan merawat semua tentara yang terluka akibat perang.
Setelah satu periode waktu, Pan mulai menyadari satu hal, yaitu, tidak peduli berapa banyak tentara yang berhasil dia sembuhkan, tentara itu kemudian akan kembali pergi berperang, dan kemudian akan kembali ke markas dalam keadaan terluka ataupun tidak bernyawa.

Setelah melihat skenario yang terus berulang, akhirnya Pan jatuh mental. Dia bertanya kepada dirinya sendiri: “Jika ilmu yang saya miliki berguna, jika obat saya bisa memberi kesembuhan, lalu mengapa mereka semua harus kembali dalam keadaan terluka atau mati. Apa artinya semua usaha yang saya lakukan selama ini. Untuk apa saya melakukan semua ini?”

Diapun berhenti menjadi tabib perang dan pergi ke gunung untuk mencari nasihat dari orang bijak disana.
Pan pergi ke puncak gunung dan menemui seorang pertapa, pertapa itu meminta Pan untuk tinggal beberapa waktu dengannya, sambil mempelajari apa arti kehidupan.

Satu bulan kemudian, Pan turun gunung dan kembali menjadi tabib perang, kali ini dia bahkan bekerja dan berusaha menyembuhkan para tentara dengan lebih giat lagi.

Dia telah menemukan jawaban atas pertanyaannya, yaitu: “Karena saya adalah seorang tabib.”

Seringkali mungkin, kita merasa lelah menjalani rutinitas ataupun mengemban tanggung jawab yang harus kita lakukan setiap hari. Jika Anda suatu hari bertanya, “Mengapa saya harus mengemban tanggung jawab sebesar ini?” Ingatlah bahwa ada alasan Tuhan memberi Anda tanggung jawab tersebut, Anda terpilih untuk mengemban tanggung jawab sebesar itu, karena Anda mampu.

Jadi jangan pernah mengeluh dan mari kita jalani skenario berujung indah, yang telah Tuhan atur untuk kita semua. (lpc/jul)

Sumber: pencerahansejati.com

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds