Militer Tiongkok mulai memamerkan pesawat terbarunya di pameran udara terbesar di negara tersebut, Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional Tiongkok ke-12, dari 6 November hingga 11 November tahun ini. Namun para ahli militer yang mengamati peristiwa tersebut mencatat banyak kelemahan di dalam apa yang dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan.

Pameran di kota Zhuhai, di Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, menampilkan pesawat tempur modern yang dirancang Tiongkok dan kemampuan-kemampuannya, khususnya generasi kelima J-20 pesawat tempur siluman dan pengontrol vektor pendorong jet pada J-10B, pesawat tempur ringan multi peran.

J-20, dirancang oleh Chengdu Aerospace Corporation, adalah fokus dari pameran dirgantara tersebut, menjadi jet tempur pribumi generasi kelima Tiongkok.

Pesawat militer generasi kelima, di antaranya adalah F-22 Raptor Amerika dan F-35 Lightning II, serta Sukhoi Su-57 buatan Rusia, dicirikan oleh tipuannya dan kemampuan supercruise, atau terbang dengan kecepatan supersonik tanpa menggunakan komponen afterburner.

J-20 melakukan penerbangan perdananya pada 11 Januari 2011, dan secara resmi diperlihatkan pada pameran terakhir pada tahun 2016. Ia bergabung dengan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat pada Maret 2017 dan ditugaskan untuk unit tempur pada bulan Februari.

Tiga J-20 telah tampil dalam pameran dirgantara pada 6 November, dengan waktu penerbangan enam menit. Pengamat telah mencatat banyak kesamaan dengan American F-22, yang pertama kali terbang pada tahun 1997 dan bergabung dengan Angkatan Udara AS pada tahun 2005.

Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional Tiongkok ke-12
Pesawat tempur siluman J-20 Tiongkok tampil di Airshow Tiongkok 2018 di Zhuhai, provinsi Guangdong Tiongkok selatan pada tanggal 6 November 2018. (Wang Zhao / AFP / Getty Images)

Harry Kazianis, direktur studi pertahanan di Center for the National Interest AS, mengatakan kepada CNBC pada tahun 2017, “Apa yang Beijing sangat pandai adalah menargetkan kontraktor-kontraktor pertahanan AS, masuk ke sistem komputer mereka melalui berbagai jenis cara, pada pokoknya, cyberwarfare (peperangan komputer, sistem kontrol online dan jaringan, yang berkaitan dengan ancaman serangan cyber, spionase dan sabotase) dan mencuri desain-desain dari beberapa aset militer terbaik Amerika.”

Pada bulan Maret 2016, Departemen Kehakiman AS mengeluarkan dakwaan di mana Su Bin, seorang warga negara Tiongkok mengaku bersalah berpartisipasi dalam konspirasi selama bertahun-tahun untuk meretas jaringan komputer kontraktor pertahanan utama AS, mencuri data militer dan data ekspor sensitif yang dikontrol, dan mengirim data yang dicuri tersebut ke Tiongkok. Beberapa data tersebu terkait dengan F-22 dan F-35, menurut laporan media.

Kelemahan utama J-20, seperti pesawat militer Tiongkok lainnya, terletak pada mesinnya ketika pabrikan lokal berjuang untuk menguasai teknologi. Pada bulan September, mesin WS-15 yang dipasang di J-20 dilaporkan telah diperbaiki, namun “masalah kecil” tetap ada. Sebuah laporan oleh National Interest menunjukkan bahwa J-20 tidak dapat mempertahankan kualitas silumannya dengan kecepatan supersonik.

Pesawat tempur J-10B yang lebih tua juga ditampilkan di Zhuhai, dengan perhatian khusus yang diberikan kepada kemampuan kontrol vektor dorongnya. Pesawat tersebut menunjukkan teknologi ini dengan tiga jenis manuver, termasuk manuver Pugachev’s Cobra, manuver Herbst (J-turn), dan manuver daun jatuh.

pameran dirgantara airshow internasional
Jet-jet tempur J-10 dari Tim Aerobatic Bayi Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat melakukan pertunjukan di Airshow Tiongkok 2018 di Zhuhai di Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan pada 7 November 2018. (Wang Zhao / AFP / Getty Images)

Dalam manuver daun jatuh, pesawat menghentikan pergerakan di tengah penerbangan, dan saat jatuh, membuat putaran. Stabilisator melawan kekuatan arah, memungkinkan pilot berputar ke arah yang berlawanan, seperti daun.

Ming Pao dari Hong Kong mengutip Wong Dung, ketua Asosiasi Militer Internasional Makau, yang mengatakan bahwa kemampuan pengendalian vektor dorong sangat penting dalam manuver canggih dan rumit, karena mereka membantu dalam perubahan arah dan posisi yang cepat. Tetapi teknologi ini memiliki persyaratan material yang tinggi, atau jet mungkin terbakar saat berada di udara.

Wong mengatakan bahwa untuk alasan yang masih belum jelas, J-10B hanya berubah satu kali dalam manuver daun jatuh, namun Sukhoi Su-35 yang dirancang oleh Rusia, yang diimpor Tiongkok pada tahun 2017, dapat melakukannya beberapa kali.

Menurut Wong, teknologi kedirgantaraan Tiongkok tertinggal lebih dari 20 tahun di belakang Amerika Serikat dan Rusia.

Tiongkok telah berusaha menutup celah tersebut dengan menggunakan transfer teknologi secara paksa, serta spionase.

Pada 30 Oktober, Departemen Kehakiman AS mengumumkan telah menjatuhi hukuman 10 warga negara Tiongkok karena bersekongkol untuk mencuri teknologi penerbangan dari pemasok mesin pesawat CFM International, perusahaan patungan antara America GE Aviation dengan French Safran Aircraft Engines.

Pada 10 Oktober, otoritas Belgia mengekstradisi seorang perwira intelijen Tiongkok ke Amerika Serikat. Dia dituduh berusaha mencuri kekayaan intelektual yang terkait dengan mesin-mesin jet. (ran)

Rekomendasi video:

FBI Incar Peserta Program Spionase “Talenta Seribu” Tiongkok

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds