Pengumuman terbaru tentang larangan ekspor oleh Departemen Perdagangan AS terhadap pembuat chip Tiongkok Fujian Jinhua telah memicu spekulasi bahwa perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok lainnya mungkin akan segera menghadapi hukuman yang sama, menurut laporan media Jepang.

Otoritas AS menyatakan pada 29 Oktober bahwa Fujian Jinhua akan dilarang membeli komponen-komponen chip, perangkat lunak, dan barang-barang teknologi AS. Pembatasan tersebut mirip dengan tindakan yang diambil terhadap raksasa telekomunikasi Tiongkok ZTE awal tahun ini.

Lebih dari 10 perusahaan Tiongkok telah diidentifikasi dalam laporan kongres April 2018 sebagai “tunduk pada risiko kontrol ekspor”, yang berarti bahwa Amerika Serikat dapat menerapkan larangan pada mereka, kata harian bisnis Jepang, Nikkei, dalam artikel 2 November.

Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS-Tiongkok, komite kongres yang mengawasi masalah ekonomi dengan Tiongkok, memperingatkan bahwa ketergantungan industri teknologi AS pada para pemasok Tiongkok, lebih dari separuh suku cadang yang digunakan untuk memproduksi barang-barang teknologi di tujuh besar produsen IT, termasuk IBM, Microsoft, dan Intel, yang berasal dari Tiongkok, menjadi ancaman bagi keamanan nasional dan daya saing ekonomi AS.

Laporan tersebut telah mengidentifikasi perusahaan-perusahaan Tiongkok serta lembaga-lembaga penelitian, termasuk raksasa telekomunikasi Huawei dan ZTE, pembuat layar kristal BOE Global, pembuat server Inspur Group, group manajemen aset Tsinghua Holdings, dan pembuat komputer Lenovo sebagai di antara pemasok teknologi yang dimiliki dan dikendalikan negara, atau memiliki koneksi-koneksi lain pada rezim Tiongkok, dan menimbulkan risiko keamanan nasional bagi Amerika Serikat. Laporan tersebut belum termasuk Fujian Jinhua.

Sebagai contoh, laporan tersebut telah menggambarkan bagaimana Lishen Power Battery System, pemasok untuk pembuat komputer AS Dell, memiliki hubungan dengan program-program militer dan mata-mata Tiongkok.

Larangan ekspor terbaru tersebut adalah sebuah peringatan bagi industri teknologi Tiongkok lainnya. “AS menggunakan kasus Fujian Jinhua untuk menunjukkan kemampuannya untuk membunuh setiap proyek semikonduktor ini atau memukul perusahaan teknologi top menjadi sangat buruk dalam satu hari,” Roger Sheng, seorang analis berbasis di Shanghai pada perusahaan riset Gartner, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Nikkei.

Menurut media Tiongkok, Fujian Jinhua telah beberapa bulan jauh dari pembuatan massal chip DRAM miliknya, sejenis chip semikonduktor yang digunakan untuk menyalakan hampir semua komputer dan perangkat elektronik. Saat ini, sektor DRAM didominasi oleh perusahaan Korea Selatan Samsung dan SK Hynix, dan chip mikron memori AS, Micron. Ketiganya bersama-sama memegang lebih dari 90 persen pangsa pasar global pada kuartal pertama tahun 2018.

Beberapa hari setelah larangan ekspor tersebut, pada 1 November, Fujian Jinhua disebut dalam dakwaan oleh Departemen Kehakiman AS karena mencoba mencuri teknologi manufaktur DRAM dari Micron. Disebutkan juga dalam dakwaan tersebut bahwa produsen kontrak yang berbasis di Taiwan, UMC, yang di bawah perjanjian kerja sama yang ditandatangani dengan Fujian Jinhua pada tahun 2016, telah ditugaskan untuk mengembangkan teknologi-teknologi DRAM untuk perusahaan Tiongkok tersebut.

Setelah larangan ekspor, UMC mengumumkan bahwa mereka telah menghentikan kegiatan-kegiatannya dengan Fujian Jinhua.

Sumber-sumber industri juga mengatakan pada Nikkei bahwa dua produsen chip Tiongkok lainnya, Innotran Memory, produsen DRAM yang berlokasi di Kota Hefei, ibukota Provinsi Anhui Tiongkok timur; dan Yangtze Memory Technologies, pembuat memori flash NAND yang berbasis di Kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei Tiongkok tengah, sebagai “pihak yang berutang kesetiaan pada pemerintah yang berisiko tinggi terhadap risiko politik”, yang berarti bahwa mereka juga kemungkinan akan terkena larangan ekspor AS.

DRAM dan NAND flash adalah chip memori semikonduktor yang menyimpan data dalam produk-produk digital.

Yangtze Memory Technologies memiliki hubungan dengan Tsinghua Holdings, perusahaan manajemen aset yang dikendalikan negara yang disebutkan di dalam laporan komisi. Perusahaan tersebut adalah anak perusahaan dari pembuat chip Tiongkok Tsinghua Unigroup, yang merupakan anak perusahaan dari Tsinghua Holdings.

Menurut Nikkei, baik Memory Innotran maupun Yangtze Memory Technologies sudah mulai menghasilkan pendapatan karena mereka masih dalam tahap produksi terbatas.

“Jika salah satu dari proyek-proyek chip ini mendapat larangan yang sama, itu juga berarti kiamat bagi para pemain baru tersebut,” kata Sean Yang, seorang analis semikonduktor di perusahaan riset CINNO, dalam sebuah wawancara dengan Nikkei. “Tidak mungkin bagi produsen chip apa pun di dunia untuk menyingkirkan pemasok AS dalam waktu dekat.”

Dalam industri semikonduktor, diketahui secara luas bahwa lima produsen peralatan semikonduktor: Applied Materials, Lam Research, dan KLA-Tencor yang berbasis di California; Veeco yang berbasis di New York; dan perusahaan Belanda ASML, menyediakan sebagian besar bagi produsen chip sirkuit terpadu (IC) di seluruh dunia.

Fujian Jinhua, Innotran Memory, dan Yangtze Memory, semua didirikan pada tahun 2016, adalah peserta utama dari rencana industri Tiongkok yang tertuang di dalam “Made in China 2025”, menurut Nikkei. Rencana tersebut menggambarkan tujuan rezim Tiongkok untuk mencapai 70 persen swasembada di 10 industri teknologi tinggi, termasuk teknologi informasi canggih dan teknologi semikonduktor.

Pada bulan Maret, pada sebuah pertemuan yang diadakan oleh Kongres Rakyat Nasional legislatif stempel karet Tiongkok, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang mengulangi perlunya meningkatkan pengembangan sektor teknologi seperti IC dan komunikasi bergerak generasi mendatang 5G, menurut situs berita yang dikelola pemerintah Tiongkok, China.com.

Pada bulan Juni, Tiongkok mengumumkan akan meluncurkan dana yang didukung negara sebesar 300 miliar yuan (sekitar $47 miliar) untuk investasi di industri-industri strategis dan sedang berkembang, menurut Reuters. Dana tersebut sebagian bertujuan untuk memacu industri semikonduktor Tiongkok, setelah dana serupa senilai 139 miliar yuan (sekitar $22 miliar) diwujudkan pada tahun 2014. (ran)

Rekomendasi video:

Rasio Utang Rumah Tangga PDB Tiongkok Capai Rekor Tertinggi

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds