Buenos Aires – Mantan petinju dunia profesional asal Argentina Mario Melo meninggal pada Minggu, 4 November 2018 lalu. Dia meninggal dunia saat mengikuti kontes makan roti croissant. Ketika itu, sepotong kue kering berbentuk bulan sabit ‘bersarang’ di tenggorokannya.

Melo yang berusia 56 tahun ambil bagian dalam kontes di Argentina untuk melihat siapa yang bisa makan paling banyak medialuna (croissant Argentina) dalam satu menit, menurut World Boxing News. Ketika makan cepat dalam lomba itulah dia tersedak.

Mantan petinju pro itu dilaporkan sedang makan croissant ke-tiga, ketika tersedak. Dia menunjukkan tanda-tanda kesusahan dalam bernafas dan kemudian tubuhnya ambruk.

Seorang petugas pemadam kebakaran dan dokter di kerumunan mencoba mengeluarkan croissant dari tenggorokan Melo sebelum paramedis tiba. Namun upaya tersebut gagal, dan para medis yang datang lalu melakukan upaya untuk menyelamatkan hidupnya.

Sebuah video diambil dari insiden itu dan disiarkan di berita tv lokal Argentina. Rekaman video menunjukkan beberapa orang muncul untuk melakukan ‘manuver’ Heimlich dan memukul dada bawahnya.

Upaya itu tidak berhasil karena Melo menyerah pada fakta bahwa tenggorokannya benar-benar diblokir.

Seorang wanita yang diidentifikasi sebagai saudara perempuan Melo mengatakan kepada wartawan bahwa saudara laki-lakinya dilarikan ke Rumah Sakit Pinamar. Namun, dia dinyatakan meninggal beberapa saat setelah tiba di rumah sakit.

Dia dilaporkan menderita diabetes.

Melo pernah menantang petinju Amerika Serikat, Michael Moorer untuk memperebutkan gelar kelas berat ringan versi WBA pada tahun 1990. Juara kelas berat Amerika Selatan itu tersingkir di babak pertama. Melo pensiun pada 1998 dengan rekor pertandingan, 21-9.

Tujuh belas dari 21 kemenangan selama kariernya berasal dari kemenangan KO. Julukannya adalah Mazazo, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai, “Pukulan Berat.”

Sementara itu, setiap kompetisi makan yang populer di seluruh dunia, selalu mengandung risiko meregang nyawa. Seorang mahasiswa tahun 20 tahun, tersedak sampai mati dalam kontes makan pancake tahun lalu.

Caitlin Nelson meninggal saat ambil bagian dalam kontes yang diadakan di kampus Universitas Hati Kudus Connecticut, AS, yang digelar atas ijin pihak kampus. Dana yang terkumpul melalui kontes dimaksudkan untuk kegiatan amal.

Ibu Nelson, Rosanne Nelson, mengajukan gugatan terhadap universitas pada 29 Oktober 2017. Dia mengklaim universitas bersalah karena mengijinkan kontes digelar.

Selain menuntut ganti rugi, gugatan itu juga dimaksudkan untuk mengungkap bahaya kontes makan amatir. Pengacara Nelson, Katie Mesner-Hage mengatakan kepada Hartford Courant.

“Kontes ini secara signifikan lebih berbahaya daripada yang disadari orang dan itu sangat penting bagi masyarakat. Terutama institusi pendidikan, agar memahami bahwa makanan tertentu lebih aman daripada yang lain, dan sedikit pemikiran (analisa) dapat benar-benar menyelamatkan nyawa,” kata Katie.

Mereka merekomendasikan makanan yang lebih lembut, seperti es krim untuk kontes makan. (TOM OZIMEK/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds