London – Polisi di Inggris berbagi foto yang menggambarkan seorang wanita sedang membersihkan jendela. Mereka kemudian mengatakan dan menjelaskan bahwa ada yang salah dengan wanita tersebut.

Dalam foto itu, sang wanita yang nampak seperti pekerja rumah tangga sedang mengusap kaca. Polisi Avon and Somerset lalu mengeluarkan peringatan.

“Apakah Anda melihat seseorang yang selalu berada di dalam rumah untuk melakukan pekerjaan pembersihan rumah? Mereka juga tidak pernah keluar dari rumah sendirian?” tulis polisi seperti dilansir Fox News, baru-baru ini.

“Ini bisa menjadi indikator perbudakan rumah tangga. Banyak korban juga tidak akan tahu bahwa mereka sedang dieksploitasi dan membutuhkan Anda untuk ‘menjadi suara’ bagi mereka.”

Menurut Essex Live, seorang juru bicara polisi mengatakan bahwa, “kami sangat bergantung pada publik untuk menjadi mata dan telinga kami, berada di tempat-tempat di mana kami tidak bisa selalu berada di dalamnya.”

“Intelijen memainkan peran besar dalam perjuangan kami untuk menangani kejahatan; Informasi yang diterima dari publik bisa menjadi bagian yang hilang dari teka-teki, bahkan menjadi terobosan dalam sebuah kasus.”

Polisi Wiltshire menambahkan pada postingan sosial media yang lain, “Apakah Anda melihat seorang individu yang bertanggung jawab atas perawatan anak-anak 24 jam sehari yang tidak pernah ‘diizinkan’ keluar dari rumah sendirian? Perbudakan rumah tangga hampir tidak terlihat, tetapi kita tahu itu terjadi. Laporkan kepada kami.”

Buruh Migran Menghadapi Penyalahgunaan Serius
Pada tahun 2014, Human Rights Watch menerbitkan sebuah laporan yang mengatakan bahwa Kerajaan Inggris harus menghapus ‘visa terikat’. Kebijakan itu dibutuhkan untuk melindungi pekerja migran dan mencegah kerja paksa (perbudakan).

Kelompok hak asasi mengatakan dalam laporan bahwa perbudakan terselubung adalah hal yang umum di antara negara-negara Timur Tengah.

“Setiap tahun, sekitar 15.000 pekerja rumah tangga migran tiba di Inggris. Banyak dari mereka yang diwawancarai oleh Human Rights Watch, adalah wanita dari Asia atau Afrika yang sebelumnya bekerja untuk majikan mereka di Teluk, dan telah mengalami pelecehan di sana di tangan majikan mereka,” kata laporan itu.

“Human Rights Watch telah mendokumentasikan pelanggaran yang serius dan meluas terhadap pekerja rumah tangga migran di Teluk, di mana kesenjangan dalam hukum perburuhan dan sistem sponsor terbatas (kafala) berkontribusi terhadap eksploitasi. Sistem kafala mengikat visa pekerja rumah tangga kepada majikannya, dan memberi majikan kontrol atas apakah pekerja dapat mengubah pekerjaan dan, di beberapa tempat, keluar dari negara itu. Penghapusan hak untuk mengubah pemberi kerja Inggris berisiko mengirim sinyal kepada majikan dari Teluk bahwa mereka dapat terus memperlakukan pekerja mereka seperti yang mereka lakukan di bawah sistem kafala.”

Sistem kafala adalah metode yang digunakan untuk memantau pekerja migran di Bahrain, Irak, Yordania, Lebanon, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengkritik sistem itu, karena pelanggaran hak asasi manusia dan eksploitasi pekerja. (JACK PHILLIPS/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds