Erabaru.net. Ada seorang kaya raya di Kabupaten Changzhou (wilayah tersebut saat itu masih disebut sebagai Provinsi Suzhou). Namanya adalah Long Heng. Dia terlahir dengan hati yang sangat baik dan selalu dengan tulus hati mau membantu orang lain.

Long Heng membuka sebuah toko gadai, dan karena kejujuran serta rasa keadilan yang dimilikinya, bisnisnya berkembang dengan pesat.

Suatu hari, Long Heng mendengar bahwa sedang ada musim panen di provinsi Huannan dan Kanton. Disana beras sangat murah, jadi dia berdiskusi bersama istrinya dan memutuskan untuk pergi ke sana untuk membeli beras. Dia berencana untuk membeli banyak dan kemudian menjualnya dengan harga murah kepada penduduk setempat di daerahnya, karena hal itu akan dapat menbantu banyak orang terhindar dari kelaparan.

Long Heng mempunyai seorang putri dan seorang putra; putranya bernama Long Quan, dan menantu prianya bernama Zilian Sun.

Ketika Long Heng pergi untuk membeli beras, menantunya, Zilian, mengantikannya untuk mengurus bisnis. Namun, Zilian mulai berpikir untuk bagaimana menghabiskan uang serta menikmati hidup.

Saat itu, terjadi kekeringan dan banyak orang yang mati kelaparan, namun, Zilian dan istrinya tidak melakukan apapun, dan hanya menyimpan semua persediaan makanan dan minuman untuk diri mereka sendiri.

Mereka bukan hanya tidak memberi bantuan, tapi juga berusaha memperoleh uang lebih banyak dari orang-orang yang sedang kesusahan. Misalnya, ketika seseorang datang ke toko gadai untuk menjual sesuatu yang berharga 10 tael perak, mereka hanya akan memberinya 10 guan (yang bernilai lebih rendah daripada 10 tael perak).

Setelah Long Heng selesai membeli beras, dia mendengar bahwa ada bencana kekeringan di kampung halamannya, dia segera kembali. Dalam perjalanan pulang, dia menyadari bahwa tidak ada satu batang padi pun di sawah, dan orang-orang mengisi perut mereka dengan akar rumput ataupun ranting pohon. Ketika Long Heng tiba di rumah, Zilian ingin mengadakan pesta penyambutan untuknya, namun langsung ditolak oleh Long Heng.

Long Heng segera mengambil beberapa ribu gantang beras yang telah dia beli dan memberikannya kepada orang-orang yang kelaparan. Long Heng kemudian memasang poster di depan gerbang tokonya, bertuliskan bahwa mereka yang punya makanan boleh hanya membayar 50%, mereka yang punya sedikit makanan, boleh membayar hanya 30%, mereka yang hampir tidak punya makanan boleh membayar hanya 20%, dan mereka yang sangat miskin boleh mengambil beras dengan gratis.

“Bamboo and Cranes,” (Bambu dan Bangau) dari masa awal Dinasti Ming, karya Bian Jingzhao. Dua bangau abadi menerbangkan Long Heng dan istrinya ke Surga (Public Domain)

Segera setelah dia memasang poster tersebut, seluruh lapangan tokonya dipadati oleh orang-orang yang ingin membeli beras. Hanya dalam beberapa bulan, beberapa juta gantang beras sudah habis. Tidak terhitung banyaknya orang yang telah terselamatkan dari bencana kelaparan. Belas kasih Long Heng yang sangat besar telah menggerakkan langit, dan beberapa hari kemudian, turunlah hujan, lalu bencana kekeringan yang terjadipun menjadi lebih ringan.

Suatu hari, Long Heng dan istrinya sedang membawa uang yang sangat banyak menuju Ibu Kota untuk berbisnis. Setelah matahari terbenam pada hari itu, Long heng melihat seorang Pendeta Tao yang sedang memegang pedang di luar kabin perahunya. Ada sebuah kendi labu di punggungnya yang mengeluarkan api.

Tiba-tiba, Pendeta Tao itu memukul seorang pria yang sedang membawa sebuah kapak hingga jatuh ke air. Kemudian tiga orang pria yang ada disitu segera lari setelah melihat hal tersebut. Long heng mempunyai firasat bahwa ketiga orang yang lari tadi adalah perampok. Dia segera berlari menghampiri sang Pendeta Tao dan berterima kasih karena telah menyelamatkan nyawanya.

Pendeta Tao itu berkata, “Perampok yang sudah mati di air itu adalah menantumu, Zilian. Dia menyuruh beberapa orang untuk mengikutimu dan ingin membunuhmu untuk mengambil semua uangmu. Saya kebetulan lewat sini, dan saya tahu kamu adalah orang yang baik hati, jadi saya memutuskan untuk menyelamatkan nyawamu.”

Long Heng menanyakan namanya, dan Pendeta Tao itu menjawab, “Ketika kamu mencapai puncak Gunung Tai, tanyalah kepada Pendeta Tao lain disana, dia akan memberitahumu.” Kemudian segumpal awan turun dari langit dan Pendeta Tao itu lenyap.

Dalam perjalanan pulang, Long Heng dan istrinya melewati kaki Gunung Tai, mereka melihat ada tulisan yang dipahat pada gunung tersebut. Tulisan itu berbunyi “Sepotong Awan.” Tiba-tiba, dia ingat akan kata-kata yang pernah diucapkan Pendeta Tao yang pernah dia jumpai sebelumnya.

Dia baru saja akan mencari orang untuk bertanya tentang Pendeta Tao yang dia temui, ketika tiba-tiba sebuah angin kencang bertiup, dan seorang dewa muncul di hadapannya. Setelah diperhatikan, dia segera mengenali bahwa dewa itu adalah Pendeta Tao yang pernah dia temui sebelumnya.

Pendeta Tao itu mengibaskan tangannya dan dua ekor bangau keluar dari dalam lengan bajunya. Dia memberi satu untuk Long Heng dan satunya lagi untuk istrinya. Dengan menunggangi bangau putih, mereka terbang ke langit, dan Pendeta Tao itu juga ikut terbang bersama mereka. Dengan menunggangi burung abadi sambil dikelilingi oleh awan-awan keberuntungan, mereka semua terbang ke Surga. (jul)

Sumber: thebl.com

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds