Oleh: Qing Xin

Erabaru.net. Kisah Tiga Negara (San Guo Yan Yi) atau Samkok dalam dialek Hokkian adalah sebagian inti sari kebudayaan Tiongkok, sang penulis Luo Guanzhong mengawali bukunya dengan “Dewa Mendekati Sungai Besar (Lin Jiang Xian)” yang selain telah mencakupi keseluruhan 3 negara yang dikisahkan, juga suasana hati yang hening mengalir nan jauh  telah memekatkan seluruh kehidupan.  

Ada orang yang mengatakan bahwa Luo Guanzhong adalah seorang penganut awam Agama Buddha, hal ini bisa dilihat dari inspirasi dan renungan yang diberikan dalam “Kisah Tiga Negara” kepada pembacanya.

Jikalau tidak memiliki penelitian mendalam terhadap Agama Buddha dan mempraktekannya pada diri sendiri, adalah sangat sulit menghasilkan karya tulis yang begitu mencerahkan.

Sebuah karya yang baik, selain penulis yang disambut hangat oleh penggemarnya, yang lebih penting adalah karya tersebut dapat membangkitkan perenungan terhadap hidup dan kehidupan manusia.

Selaras dengan Alam

Dalam Agama Buddha dibicarakan tentang sebab akibat, ada sebab pasti ada akibat.  Kebudayaan Tiongkok kuno juga berprinsipkan sebab akibat yang berimbalan, sering mendengar dari para sesepuh bahwa apabila anak cucu mengumpulkan kebajikan barang sedikit saja maka kebajikan tersebut pada masa yang akan datang adalah sebab yang telah ditanam demi memperoleh imbalan kebajikan.

Sebab akibat dan imbalan ini sangatlah rumit, ada imbalan kehidupan kali ini, yang akan datang, ada imbalan kepada diri sendiri dan anggota keluarga, ada pula imbalan yang menimpa anak cucu.

Coba lihat Cao Cao pada awalnya kekuasaan besar berada di tangannya, bertindak sewenang-wenang, menyandera putra raja untuk memerintah para adipati, sombong, dan beringas, maka oleh rakyatnya dijuluki sebagai manusia licik.

Sayangnya Cao Cao tidak percaya hukum sebab akibat, ia sama sekali tidak menduga setelah marga Cao turun tahta, marga Sima ternyata menggunakan cara yang sama memperlakukan anak cucunya.

Hukum karma cepat atau lambat akan tiba dan bukannya tidak ada imbalan, melainkan waktunya belum tiba. Untuk itulah Luo Guanzhong meminjam kisah Cao Cao berusaha menyadarkan orang agar menyesali dengan tulus perbuatan jahat yang pernah dilakukannya.

Orang yang berkultivasi, hal yang sangat penting ialah memandang hambar reputasi dan materi serta menjalani kehidupan  yang selaras dengan alam semesta. Oleh karena manusia bagian dari alam, manusia selamanya tidak bakal mampu menentang hukum alam. Selain hukum Buddha, Confusius pada jaman Tiongkok kuno bersemboyan: “Barang siapa yang mengikuti jalan Tuhan akan subur-makmur, sebaliknya yang menentangnya akan binasa”.

Zhuge Liang bisa disebut orang dengan tipe “Pengabdian total sampai mati”, sehingga generasi penerus memujinya sembari menghela nafas dengan ungkapan: “Tampilnya seorang hebat tapi sebelum memetik kemenangan telah mati lebih dulu, sering membuat para gagah-perkasa berlinang airmata”. Sehubungan dengan perbuatan menentang kodratnya dalam “7 kali keluar dari Gunung Qi”, pada akhirnya berujung dengan kekalahan.

Pada saat kejayaaan Dinasti Han sudah akan habis, tiada seorang pun yang dapat menolongnya dari keruntuhan, inilah kenapa ketika Liu Bei tiga kali mengunjungi gubuk Zhuge Liang tapi tidak ketemu dan kebetulan berjumpa dengan Cui Zhouping, memohon dengan tulus agar ia mau turun gunung memulihkan Dinasti Han.

Cui Zhouping menolak dengan alasan bahwa kejayaan Dinasti Han akan habis, manusia tidak ada kemampuan membalikkan keadaan tersebut dan menasehati Liu Bei agar mengikuti kehendak langit. Namun tekad Liu Bei sudah bulat,  tidak mau melepas angan-angan untuk memulihkan kemegahan Dinasti Han, maka ia mengundang Zhuge Liang turun gunung.

Zhuge Liang demi membalas budi kepada sahabat, rela mengerahkan dan menyumbangkan seluruh kepandaiannya, boleh dibilang: “Mengatur siasat di dalam tenda, kemenangan menentukan diraih di lokasi ribuan km jauhnya”.

Sewaktu muda, seratus kali berperang seratus kali menang sehingga membuat Cao Cao ciut nyalinya dan membuat Zhou Yu mati muda selagi masih perkasa, tetapi walaupun Zhuge Liang pandai meramal cuaca dan menguasai ilmu bumi, ketika bertindak melawan kehendak langit, juga tidak berdaya.

Ada Kehilangan, Baru Memperoleh

Doktrin “Kehilangan – Memperoleh” yakni ada kehilangan, baru bisa memperoleh, kehilangan kecil maka perolehan kecil, kehilangan besar maka perolehan juga besar, tanpa kehilangan tidak akan memperoleh. Bersamaan itu membimbing umat untuk menghilangkan sifat egois dan memandang akhlak sebagai hal pokok, di Tiongkok kuno juga terdapat pepatah: “Barang siapa yang memperoleh restu rakyat akan menguasai dunia, rakyat bisa diangkut dengan perahu, tetapi juga bisa membalikkan perahu”.

Liu Bei boleh jadi memahami dengan mendalam prinsip ini, diantara 3 negara: Wei – Shu – Wu, kekuatan Liu Bei paling lemah, tapi pada akhirnya berhasil sesuai dengan angan-angannya, dimana “Dunia yang terbagi menjadi tiga bagian mendapatkan salah satunya”, selain tidak bisa dipisahkan dengan peran Zhuge Liang yang penuh dengan kesetiaan dan berdedikasi serta tahu sebelum kejadian bagai seorang Dewa, juga memiliki kaitan erat dengan akhlak Liu Bei yang bisa melaksanakan sesuai motto: “Apabila sudah memakai seseorang jangan dicurigai, orang yang dicurigai sebaiknya jangan dipakai”.

Jikalau Liu Bei mencurigai Zhuge Liang maka walaupun Zhuge Liang memiliki kepandaian selangit juga akan sulit ditampilkan, pada saat Liu Bei menanyakan Zhuge Liang sebenarnya memiliki strategi yang seberapa besar? Zhuge Liang menjawab: “Seberapa besar nyali strategi baginda, sebesar itulah siasat strategi hamba,” seketika itu juga Liu Bei langsung memberikan pedang pribadinya kepada Zhuge Liang, tindakan semacam ini, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan orang yang berpandangan cupet?

Keselarasan Manusia dan Alam 

Jikalau manusia tidak berkultivasi, maka kebanggaan dan nista, rezeki dan bencana dari kehidupannya sepenuhnya dikendalikan oleh karma orang tersebut yang sepertinya tidak bisa menjadi tuan atas dirinya sendiri. Pada permukaannya hal-hal yang diperoleh sepertinya berkat perjuangan diri sendiri, sebetulnya masih berlaku prinsip: “yang seharusnya tidak ada di dalam kehidupan, bagaimanapun juga tidak akan bisa diraih”.

Karma yang tidak terlihat tidak bisa diprediksi melalui analisa logika. Orang kuno mempelajari 4 kitab dan kitab 5 Sutra (Kitab dari Confusius dan Sutra dari sang Buddha) dan menghormati  alam semesta, sehingga manusia dan alam dalam kondisi selaras. Yang disebut pada jaman sekarang jiwa di bawah sadar, manusia jaman sekarang tidak mempercayai nasib, tidak mempercayai Tuhan, tahunya hanya memberhalakan iptek, sangat sedikit sekali orang yang hidup dalam keselarasan antara manusia dan alam.

Sebaliknya pada jaman dahulu hal seperti itu banyak terjadi, Pang Tong sesampainya di “Bukit Reruntuhan Burung Hong” seketika merasakan ia akan terkubur di tempat tersebut. Zhuge Liang setelah “7 kali menangkap Meng Huo” merasakan walau diri sendiri telah berjasa terhadap dunia tetapi karena telah banyak membinasakan orang, pasti dibayar dengan mengurangi umurnya, maka itu ketika Wei Yan khilaf menerobos masuk “Altar Sejuta Bintang”, sehingga Zhuge Liang tidak kuasa memperpanjang usianya. Ia tidak menyalahkan Wei Yan, karena kejadian itu adalah kehendak Langit.

Dari kematian Lu Bu juga bisa nampak campur tangan dari langit, Lu bu terampil berperang dan pemberani. Ia pernah sambil menggendong putrinya di punggung dengan tombak di tangan dan menunggang kuda lolos dari kepungan maut, kenapa akhirnya tertahan oleh Cao Cao, karena ia tidak lagi memiliki semangat tempur.

Secara obyektif bisa dikatakan, jikalau ia ingin lari, dengan kemampuan yang ia miliki, niscaya masih mampu, yang krusial adalah ia menganggap diri sendiri tidak sanggup lagi dan dari karakter yang ia miliki bisa terlihat bahwa ia tidak memiliki stabilitas. Apabila diri sendiri beranggapan tidak sanggup lagi, bagaimanapun orang lain menganggap Anda mampu, juga akan sia-sia; ditelusuri lebih mendalam, ini adalah dampak hambatan karma.

Berpisah lama pasti menyatu lagi, menyatu lama pasti akan berpisah lagi, ini adalah  hikmah Kisah Tiga Negara, bukankah urusan dunia semuanya berlangsung seperti itu? Umat manusia bereinkarnasi tiada henti, lalu kenapa harus mempermasalahkan salah – benar,  menang, kalah- karena ia dalam sekejap akan sirna kembali menjadi kosong? Orang kuno demi menggempur kota dan merebut wilayah, dengan gagah berani saling membinasahkan, toh akhirnya hanya menjadi bahan obrolan generasi penerus.

Dari Kisah Tiga Negara, manusia seharusnya selaras dengan alam dan memandang hambar segala urusan dunia. (***/fadj/asr)

Sumber:Minghui.org

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds