Moskow – Wilayah Donetsk dan Luhansk yang dikuasai pemberontak di Ukraina timur mengadakan pemilihan kepemimpinan pada Minggu (11/11/2018). Pemilu digelar di bawah bayang-bayang konflik yang telah menewaskan lebih dari 10.000 orang, dan memperkeruh hubungan antara Ukraina dan Rusia.

Ukraina dan pendukung internasionalnya ‘satu komando’ untuk mengutuk pemungutan suara sebagai penipuan yang dimanipulasi oleh otoritas Rusia. Pemilihan umum dinilai melanggar perjanjian gencatan senjata Minsk 2015. Amerika Serikat mendesak para pemilih atau pemilik hak suara untuk memboikot pemilu.

Didukung oleh Moskow, pemberontak separatis menguasai wilayah di timur Ukraina setelah aksi protes pro-Barat menggulingkan Presiden Viktor Yanukovich pada Februari 2014. Rusia mencaplok Krimea sebulan kemudian.

Warga menggunakan hak pilih dalam pemilihan kepemimpinan di Donetsk yang dikuasai pemberontak, Ukraina, 11 November 2018. (Alexander Ermochenko/Reuters/The Epoch Times)

Amerika Serikat menyebut pemilu itu sebagai sandiwara untuk memberikan legitimasi palsu kepada para pemimpin yang disetujui-Moskow. Tokoh yang dipasang Moskow di Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk ketika memproklamirkan diri. Amerika akan mengumumkan sanksi ekonomi baru pada Rusia, pekan ini.

“Pemilihan khusus ini adalah ejekan, benar-benar, tentang gagasan pemilihan yang murni yang perlu diadakan,” Kurt Volker, utusan Washington untuk konflik Ukraina, mengatakan kepada wartawan pada konferensi video, pekan lalu.

“Mereka berada dalam kondisi pendudukan, di mana tidak ada kebebasan berekspresi, tidak ada kebebasan bergerak, tidak ada kebebasan berkampanye, dan umumnya, karena itu tidak ada kebebasan memilih bagi rakyat dalam memilih kandidat untuk posisi kepemimpinan lokal yang sah,” kata Volker.

Presiden Ukraina, Petro Poroshenko menyebut pemilihan itu sebagai, “Pemilihan ilegal dan mewakili contoh lain dari aktivitas subversif Rusia.”

Rusia membantah bahwa pemilu melanggar perjanjian Minsk.

“Sebenarnya, situasi yang menyedihkan dengan penerapan paket Minsk diprovokasi oleh keengganan Kiev untuk memenuhi perjanjian Minsk,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov kepada wartawan.

Pelaksana tugas kepala wilayah Donetsk, Denis Pushilin, turut berkompetisi dalam pemilihan hari Minggu setelah pendahulunya Alexander Zakharchenko meninggal dalam ledakan pada bulan Agustus. Rusia menuding Ukraina, sementara dinas keamanan Kiev menyalahkan pertempuran internal antara teroris dan sponsor Rusia mereka sebagai pihak yang bertanggungjawab atas serangan mematikan terhadap Zakharchenko.

Dokumentasi foto menunjukkan seorang wanita menyeberang jalan melewati papan kampanye Leonid Pasechnik, yang bertindak sebagai kepala separatis yang memproklamirkan diri Luhansk People’s Republic (LNR), menjelang pemungutan suara untuk pemimpin baru di Luhansk, Ukraina, 9 November 2018. (Alexander Ermochenko/Reuters/The Epoch Times)

Sejumlah mantan pemimpin separatis telah melarikan diri dari daerah Donbass. Mereka mengaku takut untuk bertahan, setelah rekan-rekan mereka berbalik menyerang mereka. Komandan separatis terkemuka lainnya telah terbunuh dalam situasi yang tidak dapat dijelaskan.

“Pushilin adalah gelembung sabun, ada orang-orang yang berbeda di belakangnya, ini adalah Moskow,” kata mantan pemimpin separatis, Alexei Alexandrov kepada Reuters.

Analis yang berbasis di Ukraina, Volodymyr Fesenko mengatakan bahwa Rusia menggunakan pemilihan untuk memberi legitimasi kepada para pemimpin kawasan. Moskow mungkin mencoba untuk mengubah pertempuran menjadi konflik dingin, dengan dua wilayah yang memisahkan diri sebagai protektorat.

Peskov mengakui bahwa Rusia memiliki pengaruh terhadap para pemimpin di kawasan itu. Dia bahkan mengatakan pengaruh itu tidak terbatas. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular