Xia Lin-Epochtimes.com

Jika Amerika dikatakan telah disusupi secara serius oleh paham sosialis dari kalangan liberal, maka Kanada jauh lebih parah lagi. Kinerja politik dari PM Kanada sekarang Justrin Trudeau yang paling diingat oleh semua orang adalah, menyambut imigran gelap yang tidak berani berdiam di AS masuk ke Kanada, melegalkan marijuana dan mengadakan pawai homoseksual setiap tahun.

Kaum liberal yang mewakili sayap kiri dan sosialisme telah berkembang biak dengan subur di Kanada, terutama di kota besar seperti Toronto, ladang ranjau berpolemik yang diincar “pembenaran politik”, perilaku trendi yang bobrok, dan bau marijuana yang kerap tercium, tengah menyadarkan masyarakat, Kanada di bawah kekuasaan kaum liberal tengah mengalami kemerosotan moralitas dengan cepat.

Menariknya adalah, di tengah situasi politik Kanada yang begitu condong ke kirii ni, sang pemimpin populisme, yang juga mantan ahli strategikampanye Trump juga mantan penasehat utama GedungPutih yakni Steve Bannon justru berani memenuhi undangan menghadiri forum Munk Debate di Toronto.

Forum debat ini diadakan dua kali setiaptahun di Toronto, dengan mengundang tokoh pemimpin berbagai kalangan berdebat masalah internasional. Topik perdebatan kali ini adalah “badan politik Barat di masa mendatang apakah populisme atau liberalisme?”.

Tanggal 2 November 2018 malam, ketika di luar arena dipenuhi suara protes organisasi sayap kiri dan kekerasan polisi, Bannon dan lawan debatnya yakni penulis mantanPresiden AS Bush Junior, yakni komentator politik yang juga penulis bernama David Frum berdiri bersama di atas podium. Dari latar belakangnya, Frum adalah perwakilan dari Partai Republik yang konservatif, namun ia justru tampil mewakili paham liberal, anti populisme, dan siap berduel denganBannon.

Ajang debat itu dihadiri oleh lebih dari 2.000 orang penontondan 28% di antaranya adalah pendukung populisme, sedangkan 72% adalah penentangnya. Bisa dibayangkan, di tengah begitu banyak penentang bagaimana Bannon akan bersikap.

Namun Bannon telah sangat lama berurusan dengan kaum liberal, ia sudah sangat terbiasa dengan sindiran dan ejekan dari bawah podium, ia bahkan sempat melontarkan sejumlahlelucon. Saat Bannon berbicara, kerap mengutipsejumlah data untuk member penjelasan, paham populis tidak membedakan warna kulit dan sukubangsa, hanya memperhatikan satu hal yakni hak dan kepentingan wargas ebuah negara, peluang kerja, harga diri seseorang, keamanan perbatasan, dan keamanan sosial masyarakat.

Presiden Trump dipilih oleh “sekelompok orang menyedihkan” yang disindir oleh Hillary, ini menjelaskan bahwa gerakan populisme didorong oleh kaum buruh dan tani di Amerika.

Selama bertahun-tahun Amerika termasuk Bush junior dan beberapa pemerintahans ebelumnya, memiliki ilusi terhadap PKT, mengalihkan industri AS dalam jumlah besar ke Tiongkok, akibatnya pekerja AS kehilangan pekerjaan, kehidupan menjadi sulit, pemadat merajalela, kejahatan sosial meningkat dan lain sebagainya.

Dan, Frum sejak awal langsung menuding populisme adalah “kebohongan” dan “penipuan”, bahwa Trump adalah bandit dan lain-lain.

Mendengar pernyataannya akan merasa semua kaum sayap kiri, atau yang disebut kaum liberal, selalu memiliki kriteria ganda. Mereka bisa tidak mempedulikan fakta, apa pun boleh dikatakan, semua atribut bisa dilontarkannya. Paham populis selalu disebut sebagai rasialisme oleh kaum liberal, dikatakan anti-Yahudi.

Padahal mereka sendiri bisa saja melakukan kekerasan pada orang lain, bisa membungkam orang lain, sama sekali tidak terlihat dimana letak liberalnya, atau bisa dikatakan, bagi diri sendiri berlaku liberal, tapi bagi orang lain harus dikendalikan dan diperlakukan keras.

Dalam debat ini akibat mengundang Bannon, acara ini ditentang keras oleh lebih dari 40 organisasi sayap kiri. Mereka tidak hanya menuntut agar debat ini dibatalkan, juga berunjuk rasa di lokasi, mencaci Bannon, dan memukul dua orang polisi; yang di dalam arena debat juga melanggar peraturan dengan berteriak-teriak, dan membawa slogan kebencian.

Bannon mengatakan, pimpinan mayoritas partai dalam Senat McConnell yang telah berusia 80 tahun lebih beserta istrinya dan mantan Menteri Perhubungan Elaine L. Chao saat makan malam di restoran dicaci maki oleh pendukung paham liberal “enyah dari Amerika.”

Bahkan, juru bicara Gedung Putih Sanders diusir keluar dari restoran olehkaum liberal, pendukung Trump dianiaya, pada slogan kampanye pemilu jangka menengah dari Tapi semua in ioleh media massa sayap kiridan tokoh elit kaum liberal dianggap ada yang tidak beres. Namun orang yang keluar dari Tiongkok bisa melihat kesamaan antara kaum liberal dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Di tengah suara caci maki dan ejekan, Bannon seorang diri menerobos pertahanan lawan, dengan fakta ia menjelaskan bahwa populisme bukan diskriminasi ras, adalah gaya hidup masyarakat yang normal, keberaniannya patut dipuji.

Frum menyindir mengatakan, populisme pada pemilu di beberapa negara paling banyak hanya bisa meraih 1/3, tidak akan bisa membentuk pemerintahan mayoritas. Ini juga keunikan lain dari kaum liberal, tidak ada pemahaman umum. Tren baru mana yang bukan berawal dari kecil lalu menjadi besar, dari lemah berubah menjadi kuat?

Lihat Brazil, baru saja memilih presiden yang konservatif; lihat betapa racun sayap kiri merasuki warga mengakibatkan krisis keamanan yang parah di Eropa, pemimpin sayap kiri Merkel baru saja mengumumkan tidak akan menjabat kembali.

Kembali ke tradisi, menghilangkan semua jenis paham sosialis pastiakan menjadi tren yang tak terbendung pada era ini. (SUD/WHS/asr)

Artikel Ini Diterbitkan di Epochtimes Indonesia Edisi 578

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds