Epochtimes.com

Rakyat Tiongkok yang selama ini hidup di bawah sistem kekuasaan otoriter Partai Komunis, mulai dari kaum akademis hingga masyarakat awam, mulai dari internal sistem sampai eksternal sistem interpretasinya terhadap sistem sosial berbagai negara dunia umumnya adalah dualisme yang berseberangan : yakni sistem negara paham otoriter dan sistem negara paham liberal. Namun mereka tidak memahami bahwamasyarakat liberal juga jauh dari bayangan berupa surga manusia, masyarakat demokratis juga tengah mengalami krisis realita berubah menjadi paham sosialis.

Pemilu Paruh Waktu Adalah Pertarungan AS VS Paham Sosialis

Dengan pemerintahan sayap kiri dan kanan di AS sebagai contoh, Partai Demokrat AS kian hari kian condong ke kiri, kubu utama sayap kiri adalah orang-orang yang memeluk paham komunis dan sosialis.

Walaupun mereka tidak menyandang nama paham sosialis, tapi dalam hal manajemen masyarakat, kebijakan ekonomi, pungutan pajak dan keuangan, hubungan internasional, strategi militer, pemikiran hukum, budaya teknologi internet dan berbagai hal lainnya selalu sarat akan corak warna paham sosialis yang kental.

Kaum sayap kiri selalu mengikuti nilai-nilai yang bobrok dari paham sosialis seperti suka merampas, berbohong dan menipu, damai di permukaan keras di dalam.

Mereka menyerukan kemajuan tapi sebenarnya bobrok, membuat berbagai kebijakan yang sifatnya menciptakan tradisi yang menyimpang, menekan HAM, memecah masyarakat, mempertajam konflik.

Bahkan kaum ini melonggarkan ekonomi, membuat kekuatan negara merosot, mendorong kekerasan masyarakat, mendukung kemiskinan yang beralasan, membiarkan paham teroris, membiarkan paham radikal ekstrimis merajalela dan lain-lain. “Pembenaran politik” kaum sayap kiri menimbulkan efek yang sangat cepat sejalan dan berpihak pada PKT.

Setelah Trump dan rekan-rekan Partai Republik yang sayap kanan memerintah, mereka telah menghentikan seluruh masyarakat berbelok ke kiri, dengan menurunkan pungutan pajak, menarik kembali aliran modal ke AS, meningkatkan lapangan kerja, memperkuat militer dan sebagainya menimbulkan efek yang sangat baik, menghapus undang-undang Johnson.

Trump membangun tembok perbatasan, pengangkatan hakim agung, imigrasi, mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, perang dagang AS-RRT, memperkuat kekuatan militer zona India-Pasifik dan berbagai kebijakan diplomatik lainnya menyerang bersamaan. 

Akar bencana sayap kiri langsung ditebas, sebenarnya merupakan boikot menyeluruh terhadap penyusupan paham komunis ke seluruh dunia, membalas keras rezim PKT, adalah beralihnya dan kembalinya kekuatan sayap kanan AS setelah masa pemerintahan Reagan.

Inilah alasan mengapa semua media massa sayap kiri AS terus menyerang Trump dengan berbagai fitnah, juga mengapa pada pemilu paruh waktu ini, Partai Demokrat tidak bisa mengeluarkan strategi kampanye untuk menyaingi Trump tapi sebaliknya justru menjadikan anti-Trump sebagai inti kampanye, ini juga yang melatar-belakangi peristiwa penembakan di Gereja Yahudi di kota Pittsburg, kasus bom kantor pos dan berbagai kasus “kejutan Oktober” lainnya (karena pemilu paruh waktu di bulan November dan berupaya menciptakan berbagai peristiwa publik untuk mempengaruhi hasil pemilu).

Di saat yang sama juga menyebabkan PKT yang berada jauh di seberang samudera sana dalam empat kali rapat plenonya kebingungan. Karena hasil pemilu paruh waktu AS menyangkut nasib PKT, menyangkut proses gerakan dekomunisasi global, yang tentunya juga menyangkut masa depan rakyat Amerika.

Terhadap hal ini, anggota kongres California merangkap pemimpin mayoritas partai Dewan Kongres Kecin McCarthy, pada tanggal 23 Oktober lalu saat diwawancarai oleh media massa konservatif Breitbart News Daily semakin tepat sasaran menuding, pemilu paruh waktu sudah bukan lagi persaingan antara Partai Republik dengan Partai Demokrat, melainkan merupakan perseteruan antara Amerika melawan paham sosialis.

Sayap Kiri Gunakan “Operasi Bendera Palsu” Serang Sayap Kanan

Tanggal 26 Oktober lalu, media massa sayap kiri Amerika melaporkan, pihak FBI telah menangkap seorang pria bernama Cesar Sayoc, ia dituding telah mengirimkan email “perangkat peledak” kepada mantan Presiden Obama, suami istri Clinton, konglomerat Yahudi George Soros, aktor Robert De Niro, serta berbagai petinggi Partai Demokrat lain.

Tanggal 27 Oktober, di kota Pittsburgh, Pennsylvania, seorang penembak (yang memiliki sebuah akun medsos di situs internet yang ekstrim kanan) membawa sepucuk senapan jenis AR-15 dan tiga pucuk pistol menerobos ke sebuah gereja Yahudi lalu mulai menembak, sempat terlibat baku tembak dengan polisi, mengakibatkan kematian 11 orang dalam seluruh kejadian itu.

Kedua kejadian di atas diberitakan oleh media massa PKT, dan menjadi bukti bagi propaganda PKT menjelekkan Partai Republik.

Kaum sayap kiri AS memanfaatkan kejadian itu untuk dikaitkan dengan kecenderungan yang disebut “anti-Yahudi” sayap kanan dan juga “pidato kebencian” (hate speech, Red.) dalam kehidupan sehari-hari Trump, untuk menyerang momentum pemilu PartaiRepublik.

Namun pihak luar dan tokoh sayap kanan segera mendapati, kedua kejadian itu mengandung kecurigaan adanya “operasi bendera palsu” yang dikobarkan oleh sayap kiri (bertujuan menggunakan status sayap kanan untuk menyerang sayap kanan”.

Beberapa pakar peledak termasuk ahli peledak yang pernah bekerja 23 tahun di FBI yakni purnawirawan Kapten Kelly Meyer, berdasarkan foto “peledak” dan fotosinar-X yang dikirim ke CNN, menjelaskan bahwa peralatan tersebut kekurangan akan dua komponen krusial, untuk bisa membuatnya benar-benar sebuah peledak: baterai luar dan peluncur untuk memicu ledakan.

Bom tersebut disebut pada dasarnya adalah bom palsu, yang sama sekali tidak akan meledak. Para pakar peledak serempak menyatakan bom tersebut sebenarnya adalah “bom palsu”.

Selain itu orang sayap kanan menjelaskan, Broward County di negara bagian Florida adalah wilayah basis Partai Demokrat, jika mobil van Sayoc seperti yang diberitakan media massa dipenuhi tempelan poster Trump, tidak akan lebih dari satu jam, mobil itu pasti sudah dirusak oleh kaum radikal sayap kiri.

Tapi tidak ada berita menyebutkan adanya mobil van yang dirusak, mengapa demikian?

Pembawa acara juga penulis sayap kanan yang meraih penghargaan Emmy Award yakni Shad Olson di web pribadinya menulis artikel, menjelaska nbahwa Cesar Sayoc juga memberikan layanan bagi Seminole Hard Rock Hotel & Casino di Florida, pihak kasino adalah pendonor dan aktivis politik yang pro pada Partai Demokrat. Pengusaha itu adalah pendukung sejati Partai Demokrat, dan selalu menentang Trump.

Dan, kekerasan adalah cirik has dan hak khusus kaum sayap kiri. Pembawa acara sekaligus reporter Rush Limbaugh mengkritik, “Orang-orang dari Partai Republik selamanya tidak akan melakukan hal semacam ini”.

Peristiwa pengungsi “caravan” dari Honduras yang didukung oleh dana dari kekuatan sayap kiri tengah berevolusi ke arah yang berbalikan dengan yang diharapkan oleh kaum sayap kiri, kepala kantor cabang Washington DC surat kabar “Wall Street Journal” yakni Gerald F. Seib mengatakan, ini semakin memperkuat permasalahan imigran gelap dan keamanan di perbatasan, yang mungkin justru akan membantu Partai Republik. Karena semakin banyak orang akan menyadari bahaya yang timbul dengan terbukanya gerbang Amerika, mereka tidak mau mengulangi kesalahan yang dilakukan Eropa dengan menampung semua pengungsi.

 Situasi Pemilu di Dewan Senat Kusut, Trump Giat Kampanye

Walaupun dalam sepuluh hari menjelang pemilu telah terjadi begitu banyak peristiwa besar. Tapi sepertinya tidak terlalu mempengaruhi antusiasme para warga pemilih.

Menurut hasil suvey oleh situs “Real Clear Politics (RCP)” menunjukkan, sudah tidak terlalu banyak keraguan lagi Partai Republik akan meraih kemenangan pada Dewan Senat AS, hari Senin (29/10) lalu RCP memprediksi, pada kursi Dewan Senat Partai Republik akan mengungguli dengan 50 banding 44 kursi atas Partai Demokrat, masih ada 6 kursi yang belum dipastikan.

VoA memberitakan, sejak tanggal 31 Oktober, setiap hari Presiden Trump giat berkampanye di berbagai kota dan negara bagian yang berbeda. Pada 6 hari pertama di bulan November ia telah menghadiri 11 kali pertemuan politik, sebagai upaya terakhir untuk menarik dukungan bagi para calon Partai Republik dalam pemilihan Dewan Kongres hari Selasa mendatang.

VoA mengutip pidato pejabat senior Gedung Putih yang mengatakan tingkat agresif kampanye Presiden Donald Trump ini “jauh melampaui para presiden sebelumnya”. Dan Presiden Trump sendiri menyataka nwalaupun dirinya tidak ada di dalam daftar nama calon, namun kampanye itu sendiri adalah satu kali referendum bagi dirinya.

Menurut perkiraan Fox News, dari 435 kursi pada Dewan Kongres saatini, Partai Demokrat merasa yakin akan meraih 212 kursi, sedangkan Partai Republik mendapatkan 202 kursi, dan masih tersisa 21 kursi yang masih belum bisa dipastikan.

Situs RCP tanggal 29 Oktober lalu memprediksi Partai Demokrat akan unggul 5 kursi dengan perolehan 205 banding 200 kursi dibandingkan PartaiRepublik, namun dari 30 kursi yang belum bisa dipastikan itu diperkirakan sebanyak 28 kursi lebih cenderung akan diraih oleh Partai Republik. Namun Partai Demokrat tetap masih berkemungkinan mendapatkan lebih banyak kursi pada Dewan Kongres.

Dilihat dari perkembangan saat ini, situasi pemilihan Dewan Kongres sangat kusut dan terdapat banyak variabel.

Dukungan Partai Demokrat baru-baru ini sepertinya menurun, Fox News mewawancarai sejumlah analis berpendapat bahwa warga pemilih agak khawatir terhadap pertarungan Partai Demokrat, khawatir Partai Demokrat tidak bisa mengeluarkan rencana yang nyata untuk melawan Trump.

Warga pemilih juga mencemaskan propaganda kuat oleh media massa sayap kiri dan bukan kebebasan berpendapat justru akan memperparah perpecahan di AS bila Partai Demokrat menguasai mayoritas kursi di Dewan Kongres.

Setelah Trump menjabat, perekonomian AS mengalami tren penguatan, mendatangkan banyak lapangan kerja dan keuntungan ekonomi baik bagi warga kulit putih maupun kulit hitam.

Kaum pria kulit putih mayoritas mendukung Partai Republik, karena kebijakan prioritas Amerika Trump ini telah mendatangkan pendapatan yang lebih besar bagi mereka dibandingkan masa kekuasaan Obama. Dalam kurang dari dua tahun Trump menjabat, warga kulit hitam mendapat keuntungan bersejarah, tingkat pengangguran warga kulit hitam bulan Mei tahun ini mencapai 5,9% dan ini adalah tingkat pengangguran terendah bagi warga kulit hitam sepanjang sejarah Amerika.

Tanggal 26 Oktober direktur komunikasi organisasi pelajar “Turning Point USA” yakni Candice Owens mengobarkan gerakan “Blexit” (keluar dari Partai Demokrat), dan sempat menjadi beritautama pada berbagai surat kabar di Amerika.

Dan beberapa waktu lalu pada gejolak pengangkatan hakim agung Kavanaugh membuat banyak warga semakin mendukung Partai Republik.

Banyak warga merasa muak terhadap Partai Demokrat yang tidak jujur dan suka melakukan trik politik, seorang warga bernama Goe Gugliuzza saat diwawancara oleh reporter Epoch Times mengatakan, “Ini adalah aib bagi negara kita”, mengatakan Partai Demokrat terlalu politis, sedangkan pada diri Trump “kami tidak melihat sisi politis pada dirinya, ia hanya mengutarakan pemikirannya (yang sebenarnya). Ini lebih baik.”

Patrick Ellsworth dari Tennessee mengatakan pada reporter Epoch Times, “Ia (Trump) membuat ekonomi menjadi makmur, ini tidak pernah terjadi setelah Presiden Reagan. Ia adalah seorang presiden yang hebat, saya hanya mendukung apa yang dilakukannya, yang dikatakannya akan dilakukannya.”

Kesimpulan: Paham Komunis Akan Menjadi Sejarah

Seorang umat Kristen mantan petugas damkar Amerika yakni Mark Taylor pada tahun 2017 lalu menerbitkan buku berjudul “Trump Prophecies” dan mengatakan, Tuhan telah memilih Trump sebagai presiden AS.

Terhadap kelicikan politik dan media massa yang mengabaikan fakta yang mendatangkan kebingungan bagi Taylor, Trump membernya wahyu untuk menyaksikan suatu ajang perlombaan pacuan kuda. Dalam pacuan itu, kuda yang ditetapkanTuhan sejakawal ketinggalan, namun pada detik terakhir kuda itu melesat ke depan dan melampaui yang lain, pada akhirnya memenangkan perlombaan itu.

Pada pilpres 2016, Taylor dan dua orang temannya yang lain sama-sama menyaksikan momentum yang agung ramalan tersebut menjadi kenyataan.

Bagaimana pun hasil dari pemilu paruh waktu, tidak bisa disangkal tren dekomunisasi di seluruh dunia tak terbendung lagi, khususnya tanggal 4 Oktober lalu setelah pidato Pence terkait hubungan AS-RRT di Hudson Institute, Partai Demokrat dalam hal menentang PKT juga mencapai kesepahaman dengan Partai Republik dalam masalah ini, inilah bukti paham komunis akan menjadi sejarah di seluruh dunia.

Jika PKT masih meletakkan tumpuan harapan pada pemilu paruh waktu AS, maka sangat mungkin akan salah perhitungan. (SUD/whs/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds