Borobudur sebagai karya seni sangat holistik. Ia melibatkan seni pahat, seni lukis, teknik arsitektur, pertimbangan astronomis dan tidak kalah penting aspek nilai-nilai spiritual.

Padahal ini muncul seribu tahun yang lalu. Dan tidak kalah menyentuh, makna yang dihadirkan bagi orang yang membacanya sangat dalam. Ia bak sebuah kitab suci yang divisualisasi yang memudahkan peziarahnya memahami tentang alam semesta, kehidupann dan perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih tinggi alias kesempurnaan.

Inti pelajaran yang pesan pada candi borobudur dapat dirangkum dengan tiga kata yaitu Desire (Hasrat, Kamadhatu), Form (Bentuk, Ruphadhatu) dan Unform (Tanpa Bentuk, Aruphadhatu). Ini melambangkan perjalanan kehidupan manusia dalam siklus Reinkanasi untuk mencapai pencerahan menuju Nirwana.

Kamadhatu Bagian pondasi Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dihegomoni oleh kama atau “nafsu rendah”, tujuh perasaan dan enam nafsu. Pada bagian ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Mungkin dikarenakan alasan kepatutan sehingga ditutupi oleh tumpukan batu dan dilokalisir foto-foto reliefnya di musim Karmawibhangga  di sekitar situs Borobudur.

Rupadhatu. Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya diornameni galeri relief oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu melambangkan dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk.

Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.

Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.

Arupadhatu Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang sarat kaya relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.

Pada pelataran lingkaran terdapat 72 stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24 dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar.

Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Unfinished Buddha. Ada yang mengintepretasikan bahwa masih akan ada Budha masa mendatang akan mencerahkan manusia masa mendatang ketika sampai pada periode Akhir Dharma.

Share

Video Popular