Borobudur 1873”. Foto oleh Isidore van Kinsbergen

Kunci Abad Keemasan Nusantara

Borobudur bisa dipandang sebagai ikon zaman keemasan dinasti nusantara masa lalu. Burobudur mulai hadir di Jawa semasa dengan kejayaan Nusantara 1 yaitu Sriwijaya di bumi Sumatra yang juga berpusat pada ajaran Budha.

Bila merenungkan makna yang terkandung pada Borobudur sangat kentara sekali bahwa kerajaan nusantara masa lalu yang mengalami kejayaan sangat spiritual-sentris dan menjaga keharmonisan tiga potensi;  manusia-bumi-langit.

Pemikiran dan perbuatan yang didasarkan nafsu (desire) dipandang sebagai tingkatan yang paling rendah yang diletakkan pada bagian yang paling bawah dari piramida nilai (Kamadhatu) yang sangat sulit keluar dari samsara reinkarnasi.

Bila manusia ingin menaikkan taraf kondisi kehidupan harus bisa terbebas dari belenggu nafsu menjadi kehidupan yang lebih tinggi dan kebudayaan yang lebih tinggi (ruphadatu), hingga mencapai Arupadhatu sebagai pencapaian pencerahan yang tertinggi.

Kreator dari Borobudur, Arsitek Gunadharma yang melahirkan sebuah kitab suci visual yang agung ini nampaknya pada posisi Aruphadatu ini.

Mempunyai karya yang monumental tapi tak ada prasasti satupun yang mengenang jasanya, hanya ada dalam legenda dan dongeng belaka. Ini bisa memberi isyarat bahwa untuk berkarya tak harus dikenang, dan ini sebagai bentuk pencapaian yang tinggi dalam perjalanan spiritual seseorang. Mengada dan berguna tanpa sosok dan nama.

Gunadharma barangkali meyakini bahwa karya yang abadi harus diciptakan dari moralitas yang tinggi (Aruphadhatu). Ini terbukti karya bisa mengguncang ke seluruh penjuru dunia mencerahkan dan mengispirasi seluruh umat manusia.

Sebagai karya spiritual-sentries Gunadharma nampaknya tidak ingin mentahbiskan bahwa karyanya paling paripurna dan memberikan semua solusi. Beliau masih menyisihkan sebuah puzzle bagi generasi sesudahnya yaitu dengan misteri tentang unfinished Budha. Ini selaras dengan nubuwat Buddha Sakyamuni yang menyatakan bahwa di masa mendatang ketika semua ajaran suci mengalami akhir dharma (kadaluwarsa) yang artinya tidak efektif lagi membimbing manusia untuk menuju moralitas dunia, akan datang Buddha berikutnya yang mengajarkan Dharma, bisa disebut sebagai Budha Meitreya atau Sang Juru Selamat alias Messias.

Borobudur sebagai kitab visual yang ada di wilayah negara Indonesia tidak cukup dimaknai sebagai kemegahan arsitek nenek moyang dan obyek pariwisata, tapi harus dijadikan napak tilas nilai untuk mengurai keruwetan kehidupan kebangsaan yang semakin terdisrupsi oleh nilai materialisme.

Borobudur menginspirasikan bahwa materialisme dan hawa nafsu bukan tujuan akhir.

Materialisme dan Nafsu adalah bagian terendah nilai kemanusian yang menjerumuskan kehidupan pada lingkaran setan penderitaan yang tak berkesudahan.

Borobudur barangkali memberikan pelajaran bahwa untuk mengurai keruwetan kebangsaan, sebuah bangsa harus naik tingkat dari orientasi kamadhatu meningkat kearah menjadi ruphadhatu bahkan Aruphadhatu.

Dan jangan lupa terus terhubung dengan Langit/Tuhan seperti digambarkan oleh tabung lurus yang ada diatas Stupa Borobudur.

Seperti halnya Einstein mengatakan bahwa sebuah masalah tidak dapat dipecahkan dengan pola pikir di saat masalah itu muncul. Harus meningkatkan taraf kondisi pikiran dan moralnya, sehingga solusi masalah terpecahkan.

Borobudur bukan sekedar kitab suci masa lampau, melainkan kitab masa depan untuk mencapai zaman keemasan. Borobudur adalah hasil dari budaya dan tradisi yang sangat murni.  “ Kembali ke tradisi adalah Jalan Menuju Langit,” Master Li Hongzhi.

(ISW/WHS/asr)

Artikel Ini Terbit di Koran Epochtimes versi Bahasa Indonesia Edisi 579

Sumber : berbagaisumber

Share

Video Popular