Cui Shifang-Epochtimes.com

Cara penindasan Hak Asasi Manusia “Kamp Pendidikan Ulang” di provinsi Xinjiang (Uighur), Tiongkok sangat buruk dan telah menimbulkan amarah masyarakat internasional.

Namun jika direnungkan, bangunan raksasa yang menahan begitu banyak hingga jutaan kaum muslim, sebetulnya,dari manakah asal mulanya?

“Kamp Pendidikan Ulang”  ternyata merupakan gabungan dari 2 leluhur utamanya itu,“kamp kerja paksa Partai Komunis Tiongkok (PKT)”dan “Kelas belajar sistem hukum”.

“Kamp Pendidikan Ulang”  Xinjiang memiliki 3 ciri khas, yakni membatasi kebebasan secara ilegal, cuci otak dan kerja paksa.

Di antaranya, 2 bagian depan adalah krusial. Karena membangun begitu banyak “Kamp pendidikan ulang” telah membuat keuangan daerah mengalami defisit besar. Penerapan kerja paksa dengan dalih pendidikan teknik karya oleh pemerintah Komunis Tiongkok, sesungguhnya merupakan sebuah taktik “Kamp membiayai kamp (swadaya)”.

Walau kamp kerja paksa Komunis Tiongkok membatasi kebebasan secara illegal dan penghuninya dipaksa untuk bekerja, namun fungsi cuci otak agak lemah.

“Kelas belajar system hukum” untuk menghadapi masyarakat yang shangfang (mengajukan petisi ke kantor pemerintah), secarai legal telah membatasi kebebasan individu, tetapi pada umumnya tidak diterapkan kerja paksa, juga tidak dilakukan cuci otak.

BACA JUGA : Anak-anak Uighur Diculik oleh Negara, Dimasukkan ke ‘Panti Asuhan’ Xinjiang

Maka, pernahkah terjadi keadaan di mana pembatasan kebebasan secara illegal dan cuci otak, 2 ciri khas krusial ini dilengkapi bersamaan? Pernah, yaitu pasca penindasan terhadap Falun Gong oleh Komunis Tiongkok 1999.

Kamp (Pendidikan & Pengasuhan) Pekerja Paksa Komunis Tiongkok memiliki “sejarah panjang”, meskipun dinamakan Pendidikan dan Pengasuhan, terkadang realitanya hanya pekerja budak. Ketentuan “belajar secara kolektif” pada waktu tertentu hanya sebatas formalitas belaka.

penahanan muslim uighur cina tiogkok
Patroli polisi berjalan di depan Masjid Id Kah di kota tua Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang Uighur, Tiongkok. (Reuters / Thomas Peter)

Tetapi keadaan tersebut di atas sejak 1999 telah mengalami perubahan, pada sejumlah besar kamp kerja paksa telah bermunculan “brigade penanganan khusus” yang menahan praktisi Falun Gong secara terpusat.

Fungsi utama “brigade penanganan khusus” adalah melaksanakan cuci otak intensif terhadap praktisi Falun Gong, kemudian muncullah secara umum “bantuan tambahan pengubahan pikiran” dengan penyiksaan.

BACA JUGA : Kesaksian Etnis Uighur yang Lolos dari “Kamp Pendidikan Ulang” di Xinjiang

Di “brigade penanganan khusus”, yang digunakan dalam pertimbangan keberhasilan pekerjaan adalah melihat “tingkat transformasi” yaitu proporsi jumlah orang yang “berjanji” tidak berlatih Falun Gong lagi. Sedangkan di brigade lainnya, nilai produksi barulah merupakan “prinsip tetap yang tak berubah”.

“Kelas belajar system hukum”  juga dinamakan diantaranya “kelas belajar pemerintah”, “Pusat pelatihan melepas”, “Basis pendidikan system hukum”, “Kelas belajar pendidikan system hokum massa shangfang/ penuntut petisi” dan lain-lain.

Dengan kata lain, dewasa ini “Kelas belajar system hukum” yang digunakan secara umum untuk menghadapi massa shangfang, sebenarnya telah“berkembang pesat” berkat Komunis Tiongkok dalam menghadapi Falun Gong.

Sedangkan “kelas belajar system hukum”untuk menghadapi praktisi Falun Gong sangat besar perbedaannya dengan “kelas belajar sistem hukum”yang digunakan untuk menghadapi massa shangfang. Bagi yang disebut di depan, fungsi cuci otak adalah“terpenting dalam semuahal yang diutamakan”.

Diantaranya, sebuah “Kelas belajar system hukum” yang menimbulkan pengaruh terbesar di kalangan internasional adalah “Peristiwa Jian sanjiang” yang terjadi pada Maret 2014 di Ladang Pertanian Qinglongshan provinsi Heilongjiang, disebuah “Basis pendidikan sistem hukum”.

Ketika itu 4 pengacara perlindungan HAM – Tang Jutian, Jiang Tianyong, Wangcheng dan Zhang Junjie demi menolong praktisi Falun Gong yang ditahan di kamp tersebut, mereka bahkan sempat ditahan oleh Komunis  Tiongkok  dan disiksa.

Pasca“Peristiwa Jian sanjiang”, pembentukan “Kelas belajar sistem hukum” oleh Komunis Tiongkok agak mereda. Namun di sini ditekan muncul di sana, nun jauh di provinsi Xinjiang di pedalaman barat laut Tiongkok, bersamaan waktunya mulai muncul juga “Kamp pendidikan ulang”. Hingga awal tahun 2017 baru benar-benar diperluas bangunan kampnya dalam jumlah besar.

Dilihat dari lintasan awal hingga perkembangannya, cara yang dipergunakan oleh Komunis Tiongkok untuk menghadapi kaum muslim di Xinjiang (Uighur), sesungguhnya adalah jiplakan dari cara Komunis Tiongkok dalam memperlakukan praktisi Falun Gong.

Awal mula Komunis Tiongkok membangkitkan gelombang arus jahat menganiaya praktisi Falun Gong, banyak orang menganggap masalah itu tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri dan acuh tak acuh. Bahkan mengetahui bahwa penindasan teror dengan bentuk gerakan politik seperti itu sangat bermasalah, tetapi tetap tidak bersedia tampil menyampaikan sepatah dua kata-kata adil. Soal yang dinamakan kejahatan justru semakin berkembang besar di tengah pembiaran.

Seluruh cara-cara jahat yang dipergunakan oleh Komunis Tiongkok dalam menghadapi Falun Gong, karena tidak mendapatkan pencegahan yang efektif, pembatasnya kian melebar, dimulai dari “pengalihan” ke massa shangfang, hingga berlanjut ke pengacara HAM yang “dibungkam”.

Kini justru telah menjadi bayangan gelap raksasa permanen yang berada di atas menyelimuti kepala kaum muslim Xinjiang.

Ketidakpedulian terhadap kejahatan, pada akhirnya membuat bibit kecil telah berkembang liar menjadi pohon hitam besar menjulang tinggi, pelajaran yang seharusnya dapat dipetik boleh dibilang adalah cukup menyayat hati. (tys/whs/asr)

Artikel ini terbit di Epochtimes Indonesia Edisi 578

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds