Oleh: Dr. Xie Tian

Bagaimana cara dan metode perang dagang AS-Tiongkok pada akhirnya akan diselesaikan, membuat banyak kalangan dalam maupun luar negeri menelaah, menerka, dan memprediksiknya.

Dalam kitab “Zuo Zhuan – tahun pertama Min Gong” disebutkan, bila Qingfu tidak mati, maka bencana (negara) Lu tidak akan berakhir; negeri Lu pada tahun 662 SM itu eksis Qingfu saudara kandung raja, yang teramat jahat, sangat kejam, tamak, brutal dan sangat ambisius akan kekuasaan.

Inilah potret sosok Partai Komunis Tiongkok  dan kelompok kepentingannya. Jika Komunis Tiongkok tidak mati, maka bencana di Tiongkok tidak akan pernah berakhir.

Kelompok berkepentingan Komunis Tiongkokini begitu telah menghilang dari percaturan perang dagang AS- Tiongkok, maka semua masalah seperti defisit perdagangan, masalah pengendalian nilai tukar mata uang dan hak kekayaan intelektual, semuanya akan selesai dengan sendirinya.

Rakyat akan mendapati, bahwa Tiongkok sebenarnya bisa seperti Jepang, Korsel, Taiwan atau Hong Kong yang dengan mudah melakukan perdagangan yang adil dan seimbang dengan Amerika, serta dapat meningkatkan taraf hidup dengan mengandalkan kecerdasan, ketangkasan dan keuletan yang dimiliki oleh rakyat Tiongkok.

Trump telah memperingatkan di forum PBB, agar Komunis Tiongkok melepaskan sosialisme dan membubarkan kekuasaan partai komunis.

Di bawah pemerintahan otoriter yang kejam dan bertekanan tinggi di Tiongkok saat ini, untuk mengakhiri secara politik dengan cara damai tentang luka akibat perang dagang AS- Tiongkok tanpa menimbulkan pertumpahan darah, hanya bisa diwujudkan jika Xi Jinping pada posisi jabatannya sekarang membuat keputusan tegas.

Xi Jinping melakukan pilihan yang yang bersifat menentukan dalam kesempatan sejarah ini dan membuat Komunis Tiongkok mundur dari pentas ekonomi dan politik, sampai akhirnya membubarkan Komunis Tiongkok, baru akan terlaksana.

Namun kesempatan sejarah yang unik ini, kemungkinan secara realistis, sepertinya kian hari kian menipis, pintu sejarah yang terbuka juga sepertinya secara perlahan mulai menutup.

Oleh karena itu, banyak orang berharap pada perundingan Trump-Xi berikutnya. Melihat kondisi saat ini, yang paling memungkinkan adalah KTT-G20 yang akan digelar akhir November mendatang di Argentina. Pada saat itu, pemilu jangka menengah di Amerika telah berakhir, banyak ketidak-pastian dalam hal politik akan menjadi jelas, kabut telah tersibak.

Tentu petinggi di Zhongnanhai sampai saat ini masih bermimpi, berharap Partai Republik akan gagal total di kedua dewan (kongres dan senat) pada pemilu jangka menengah tersebut, dengan demikian Trump akan berhenti menabuh genderang perang dagang, atau Trump akan menjadi bebek yang pincang, yang tidak akan bisa menghentikan Komunis Tiongkok.

Saat ini sebenarnya Komunis Tiongkok sama halnya dengan kaum sayap kiri dan Partai Demokrat AS, belum juga sadar dari petir (pilpres AS) 2016, mereka masih terus bermimpi; namun tak lama lagi mereka akan segera tersadar dari mimpi itu.

Pemimpin Tiongkok -AS langsung berunding, jika terwujud, para petinggi Tiongkok maupun AS berpendapat, adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan perang dagang Tiongkok -AS. Tapi perundingan ini, dikabarkan Komunis Tiongkok mengemukakan prasyarat yang aneh, yakni tidak membolehkan Direktur Kebijakan Perdagangan dan Industri Gedung Putih Peter Navarro turut serta!

Hal ini sungguh aneh. Sepertinya jika Navarro tidak ikut, maka kebijakan Trump akan berubah dan akan mengampuni Komunis Tiongkok, sehingga bisa lolos dari jerat?

Kali ini Komunis Tiongkok sepertinya salah menilai lagi, kesalahan yang sangat fatal.

Lima tahun lalu penulis pernah membuat resensi buku atas karya Navarro yang berjudul “Death by China”, judul resensi itu adalah “Death by China VS Death by CPC”. Buku berjudul “Death by China” adalah karya Peter Navarro bersama Greg Autry.

Penulis tidak pernah bertemu Profesor Navarro, tapi beberapa tahun lalu pernah bertemu Profesor Autry, ia adalah seorang dosen Fakultas Ekonomi di South Carolina University.

Sekarang Navarro menjabat di Gedung Putih, sebetulnya mereka berdua bukan penganut rasisme, juga tidak membenci Tiongkok, mereka sebenarnya tidak anti-Tionghoa, melainkan anti-komunis, begitulah adanya. Dan karena anti-komunis, maka pemimpin Komunis Tiongkok tentu tidak suka, tapi rakyat Tiongkok mungkin saja suka.

Mengapa Trump menerima pandangan dan gagasan Navarro? Tentunya karena Trump percaya pada analisa dan kesimpulannya. Tapi Trump sendiri memiliki wawasan kenegaraan berdasarkan kepercayaan dan pemikirannya, memiliki inisiatif untuk membangun kembali Amerika.

Dari sudut pandang ekonomi dan profesionalismenya, Navarro memberikan kondisi yang dibutuhkan bagi Trump untuk mencapai tujuannya, sehingga Trump mengakui dan menerimanya. Niat awal Navarro, tentunya adalah demi Amerika, demi kepentingan Amerika. Tapi dari sisi objektif, sebenarnya idenya bermanfaat bagi Tiongkok.

Ekonomi Tiongkok dan AS memiliki hubungan saling membutuhkan, Amerika juga tidak berniat menghentikan perdagangan dengan Tiongkok. Justru sebaliknya, Menteri Perdagangan dan perwakilan dagang Amerika mengatakan, berharap dengan azas keadilan, dapat meningkatkan skala perdagangan AS- Tiongkok dari total nilai USD 650 milyar saat ini yang terdiri dari ekspor AS ke Tiongkok senilai USD 130 miliar dan ekspor Tiongkok ke AS senilai USD 505 milyar itu, menjadi sebesar USD 1 trilyun!

Ini hampir mendekati skala kesepakatan dagang baru antara AS-Meksiko-Kanada (senilai USD 1,2 tirliun).

Yang benar-benar takut terhadap Navarro hanya Komunis Tiongkok, di Tiongkok mulai dari rakyat biasa sampai kaum intelek sebenarnya sangat sepaham dan menghargai Navarro.

Di dalam buku “Death by China” diungkapkan bagaimana Komunis Tiongkok dengan kejam terus menerus menekan suara hati rakyat Tiongkok, menyebarkan produk berbahaya secara sistematis, merusak perekonomian Amerika dan Barat dengan merkantilisme dan juga proteksionisme, mencuri teknologi militer tercanggih dari Pentagon dengan jaringan mata-mata dan lain sebagainya.

Buku tersebut adalah buku wajib bagi setiap rakyat Tiongkok, adalah pengetahuan yang sangat bermanfaat. Navarro memberitahu rakyat Tiongkok, ekosistem di Tiongkok telah dirusak, Komunis Tiongkok luar biasa korup, masyarakat Tiongkok tidak adil, moral warga Tiongkok telah merosot, bukankah itu semua membantu rakyat Tiongkok?

Kejahatan Komunis Tiongkok dalam hal ekonomi dan “paham kapitalisme negara” ala komunisme, telah merusak pasar bebas dan prinsip perdagangan bebas.

Kebijakan “juara nasional” Komunis Tiongkok ditambah dengan paham merkantilisme dan proteksionisme perdagangan telah menghancurkan lapangan kerja dan industri di AS, inilah akar permasalahan perang dagang AS- Tiongkok.

Navarro telah mengungkap akar masalah perang dagang dan memberitahu cara penyelesaiannya bagi rakyat Tiongkok. (sud/whs/asr)

Artikel asli bisa dilihat di EpochWeekly

Artikel Ini juga diterbitkan di Epochtimes Indonesia Edisi 578

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds