Erabaru.net. Diyakini bahwa pada masa lalu yang jauh lampau, ada periode dimana manusia dan dewa hidup berdampingan di atas bumi. Para dewa dikatakan berada di sisi manusia untuk membimbing manusia bagaimana menjalani kehidupan yang seharusnya.

Banyak dewa yang turun ke dunia untuk memberikan penyelamatan, hal itu sudah terjadi sejak jaman yang jauh lampau. Biasanya apa yang akan dilakukan oleh para dewa tersebut, akan sudah diramalkan dari masa sebelumnya, namun seringkali juga, para dewa itu muncul begitu saja, dan memberikan bantuan kepada mereka yang berjodoh.

Berikut adalah kisah kehidupan seorang dewa yang berkelana di dunia manusia.

(Lukisan kuas Tiongkok/Zhang Cuiying)

Li Ah dari provinsi Sichuan adalah manusia luar biasa yang tidak menua. Dia seringkali menghabiskan waktunya untuk mengemis di Kota Chengdu, sebelum kemudian dia memberikan semua hasil mengemisnya kepada orang-orang miskin. Dia akan meninggalkan Chengdu di malam hari, dan kembali keesokan paginya, jadi tidak ada yang tahu dimana dia tinggal.

Banyak orang yang bertanya kepada Li, dan yakin bahwa prediksi Li akan tepat. Responnya terlihat jelas dari wajahnya; jika dia menunjukkan ekspresi wajah yang gembira itu artinya adalah nasib baik, jika wajahnya tampak sedih itu artinya adalah bencana, sebuah senyum mengindikasikan kebahagiaan, dan sebuah helaan nafas kecil menunjukkan akan datangnya kecemasan.

Seseorang bernama Gu Qiang menyadari bahwa Li Ah bukanlah orang biasa. Jadi dia memutuskan untuk melayani dan mengikuti kemanapun Li pergi. Akhirnya dia menemukan bahwa Li tinggal di gunung Qingcheng, jadi kemudian dia pergi kesana.

Ilustrasi. Kredit: thebl.com

Namun, Gu Qiang takut pada harimau dan serigala yang ganas, yang mungkin saja akan dia temui di gunung, jadi Gu Qiang selalu membawa sebuah pisau besar pemberian Ayahnya, kemanapun dia pergi.

Ketika Li Ah mengetahui bahwa Gu Qiang selalu membawa sebuah pisau, dia marah dan berkata, “Kenapa kamu masih takut dengan harimau kalau kamu bersama saya?” Kemudian Li mengambil pisau itu dan mematahkannya, yang kemudian membuat Gu Qiang merasa takut dan cemas akan keselamatan dirinya.

Pagi hari berikutnya, ketika menuruni gunung, Li bertanya pada Gu, “Apakah kamu masih khawatir perihal pisaumu yang telah patah?” Gu Qiang sangat khawatir, tapi yang membuat dia paling khawatir adalah Ayahnya yang akan marah jika mengetahui hal tersebut. Li mengambil pisau yang patah tadi, memegangnya dan kemudian mengetukkannya ke tanah. Segera saja pisau tersebut kembali utuh ke bentuk asalnya.

Dalam perjalanan menuju ke Chengdu, Li Ah tertabrak oleh kereta yang sedang berjalan kencang, kakinya juga terlindas roda kereta tersebut dan dia terluka sangat parah. Dia langsung terjatuh ke lantai dan mati. Gu Qiang sangat sedih namun tetap diam disana menjaga jasad Li. Setelah beberapa waktu, tiba-tiba Li bangkit berdiri dan mengusap-usap kakinya yang hancur, dan dia langsung pulih seperti sediakala.

Ketika Gu Qiang pertama kali bertemu dengan Li Ah, saat itu Gu berusia 18 tahun dan Li Ah sudah terlihat seperti berusia 50an tahun. Ketika kemudian Gu Qiang berusia 80 tahun, Li masih tampak berusia 50an tahun. Dia tidak pernah tampak menua sedikitpun.

Banyak tahun kemudian, Li Ah berkata kepada orang-orang bahwa para dewa di gunung Kunlun memanggilnya dan dia akan segera pergi. Li kemudian berangkat ke gunung Kunlun dan tidak pernah kembali. (jul)

Sumber: thebl.com

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds