EpochTimesId – Warga Tijuana, Kota Meksiko di dekat Perbatasan Amerika Serikat mengatakan mereka ingin para migran Amerika Tengah yang telah tiba di kota itu untuk pergi. Sementara ribuan migran lainnya terus berdatangan ke daerah itu untuk mencoba menyeberang ke Amerika Serikat.

Gerombolan utama pengembara migran itu, dengan perkiraan jumlah 6,500 orang, menuju ke Tijuana. Beberapa anggota kafilah sudah mulai mencapai kota, menyebabkan kerusuhan dengan penduduk setempat.

Mereka menggelar aksi protes, dengan mengatakan sudah ada terlalu banyak migran di sana. Warga lokal mendesak mereka untuk pergi.

Selama konfrontasi pada 14 November 2018 waktu setempat, yang berlangsung lebih dari tiga jam, penduduk setempat menyanyikan lagu kebangsaan Meksiko. Mereka melambai-lambaikan bendera Meksiko, menyanyikan dan meneriakkan ‘Palm Springs Desert Sun’. Mereka juga berteriak, “Kalian tidak diterima,” dan, “Pergi Sana!”

Kelompok penduduk dan gerombolan migran bahkan terlihat saling pukul, dorong, dan tendang-menendang dengan lebih dari 36 petugas polisi di tempat kejadian. Polisi berusaha menangani situasi.

“Ini bukan tempat yang tepat untuk mereka,” kata seorang penduduk setempat. “Ada tempat yang cocok untuk mereka.”

“Ini bukan tentang diskriminasi, ini tentang keselamatan!” Tambah yang lain.

Migran Amerika Tengah sedang melihat-lihat suasana di sepanjang tembok perbatasan, di Tijuana, Meksiko pada 14 November 2018. (Gregory Bull/AP Photo/The Epoch Times)

Protes muncul setelah sekitar 750 migran turun dari bus di Tijuana pada 14 November 2018. Beberapa pergi ke tempat penampungan tetapi yang lain menghabiskan malam di sebuah kamp darurat di pantai Samudra Pasifik, hanya beberapa langkah dari pagar perbatasan yang memisahkan Meksiko dan Amerika Serikat.

Sebagian besar kafilah utama, tampaknya masih bergerak dengan berjalan kaki sekitar 1.100 mil (1.800 kilometer) dari perbatasan. Akan tetapi, sebagian dari mereka baru-baru ini telah bergerak ratusan mil sehari dengan menumpang di truk dan bus.

Banyak dari para pendatang baru sedang menunggu di Tijuana agar para pemimpin kafilah tiba dan memberikan panduan tentang opsi imigrasi mereka ke Amerika Serikat, termasuk mencari suaka. Beberapa orang mengatakan mereka mungkin akan menyeberang secara ilegal.

Kurang dari satu persen populasi Meksiko lahir di luar negeri, Javier Urbano, seorang profesor di Iberoamerican University yang mempelajari imigrasi, mengatakan kepada USA Today. Dia mengatakan perdebatan tentang imigrasi di negara itu baru saja dimulai.

Sementara itu, 34 persen responden survei baru-baru ini mengatakan bahwa pemerintah Meksiko seharusnya tidak membantu mereka. Mereka mendesak pemerintah untuk mengembalikan mereka ke negara asal mereka.

Migran yang bepergian dengan karavan berharap untuk mencapai Amerika Serikat. Mereka menunggu dalam antrean untuk naik bus di La Concha, Meksiko, pada 14 November 2018. Sebagian besar rombongan pengembara utama tampaknya berada sekitar 1.100 mil dari perbatasan, tetapi sedang bergerak ratusan mil per hari. (AP Photo/Marco Ugarte)

Rencana untuk Menerobos Perbatasan
Migran mengatakan bahwa sebagian besar orang Meksiko bersikap baik kepada mereka. Meskipun sebagian besar menolak tawaran suaka negara, termasuk pekerjaan, pendidikan, dan perawatan kesehatan.

“Meksiko sangat bagus; kami tidak memiliki keluhan tentang Meksiko. Amerika Serikat masih harus menjadi tujuan,” kata Josue Vargas, seorang migran dari Honduras.

Henry Salinas, 30, dari Honduras, mengatakan berencana untuk menunggu kafilah utama sehingga kelompok itu dapat bergegas menuju pagar perbatasan pada saat yang bersamaan. Hingga 10.000 migran bepergian menuju perbatasan dalam tiga rombongan pengembara migran atau karavan. Di bawah petunjuk Presiden Donald Trump baru-baru ini, migran yang tidak masuk melalui pelabuhan masuk resmi dipastikan tidak memenuhi syarat untuk suaka.

“Ini semua melawan satu, satu melawan semua. Semua Amerika Tengah melawan satu, dan satu melawan Amerika Tengah. Semua melawan Trump, dan Trump melawan semua,” kata Salinas. (ZACHARY STIEBER, The Associated Press, dan NTD News/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular