Oleh: Dr. Xie Tian

Tahun 2018 telah mendekati akhir, dunia kian hari kian kacau, hati manusia kian hari kian galau, sekarang waktu terasa berlalu lebih cepat.

Masyarakat Tiongkok yang melihat perang dagang AS- Tiongkok kian hari kian sengit, juga melihat betapa Beijing tak berdaya, terlebih lagi juga melihat Komunis Tiongkok tengah terjerumus di dalam konflik internalnya sendiri yang jauh lebih seru dari sebelumnya.

Jadi, menatap dingin pertikaian internal Komunis Tiongkok adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan warga Tiongkok saat ini.

Masyarakat Taiwan, tentu tengah antusias menyiapkan pemilu akhir November.Sementara masyarakat Hongkong yang sedang menatap Jembatan Hongkong-Zhuhai-Makau yang hanya bisa dilalui oleh 1.000 mobil yang mendapat ijin lintas, seharusnya juga memiliki kepahitan terpendam.

Saat warga AS tengah antusias menyiapkan pemilu paruh waktu dan beramai-ramai menghadiri rally Trump, tanpa diduga ribuan orang Honduras juga ikut meramaikan, barisan konvoi karavan mereka memboyong seluruh keluarga termasuk anak-anak, bergerak menuju Amerika Serikat.

Memperkirakan kecepatan pergerakannya, mereka seakan ingin segera menapakkan kakinya di wilayah Amerika sebelum Hari Thanksgiving(22 November), sebelum cuaca menjadi dingin, agar dapat melalui Hari Thanksgiving dan Hari Natal bersama dengan warga AS.

Dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan menyelundup masuk ke Amerika sudah sering terjadi dalam satu abad terakhir.Tapi “migrasi massal” dari Honduras ini, besarnya skala, keteguhan dan kuatnya tekad hati mereka terus melangkah maju, membuat dunia terkejut. Banyak yang terperangah mengapa muncul massa yang begitu banyak, dari 2.000 sampai 5.000 sampai 7.000, bahkan sempat melebihi  10.000!

Mereka terbentuk dari sejumlah negara Amerika Selatan lalu berkelompok, bergabung menjadi satu menyusuri jalan raya bergerak ke utara.

Kelompok itu mencakup wanita dan anak-anak, namun mayoritas adalah kaum dewasa muda, mereka memiliki kendaraan yang membuka jalan. Ada kendaraan pendukung yang memasok makanan dan air, saling bahu membahu, tidak pernah menoleh ke belakang melintasi negara Meksiko, tujuannya hanya ada satu, yakni Amerika Serikat.

Menariknya adalah, mereka berniat mencari penghidupan di Amerika Serikat, namun sepanjang perjalanan membawa bendera Honduras, memberitahu dunia sama sekali tanpa ditutupi siapa diri mereka. Mereka bukan pengungsi perang, Honduras juga tidak dalam keadaan perang sipil, karena bila pengungsi perang maka pria wanita tua muda semua ada, mereka tidak demikian.

Kondisi kesehatan mereka juga baik, tidak seperti kekurangan sandang pangan. Mayoritas adalah wanita dewasa muda, anak-anak dan pria dewasa muda, ini adalah sekelompok pasukan imigran yang sangat aneh.

Jelas, mampu menempuh perjalanan 2.000 kilometer, tidak mungkin dilakukan tanpa persiapan yang matang. Orang-orang yang melihat tindakan mereka, akan memuji keinginan mereka untuk meraih hidup yang lebih baik, tapi cara mereka mewujudkan harapan tidak mendapatkan simpati dari masyarakat dunia.

Di balik simpati dan empati, orang berpikiran dingin tidak sulit menyimpulkan, yang mendorong orang-orang tak berdosa dan sederhana ini, mungkin lebih banyak alasan di luar masalah ekonomi dan politik.

Dari sudut pandang undang-undang internasional, jika bukan pengungsi politik atau korban penindasan, pengungsi ekonomi tidak akan diterima.

Jika semua orang dengan alasan ekonomi diijinkan untuk migrasi ke luar negeri, bayangkan, dunia akan kacau, tidak akan eksis lagi dunia, pada saat itu masyarakat dunia segera membutuhkan pemerintahan dunia!

Orang Tiongkok memahami “masyarakat bersama” yang dikemukakan oleh. Dr. Sun Yat Sen. Bersama sebagai pemikiran Tiongkok klasik, adalah dunia ideal yang pada akhirnya akan dicapai manusia, adalah visi manusia akan masa depan indah.

Ciri khasnya adalah manusia saling mengasihi saling membantu, setiap keluarga hidup tentram damai, tidak ada perbedaan, juga tidak ada perang. Tapi pada kriteria moral manusia sekarang, hal ini jelas tidak bisa terwujud; walaupun pada masa moral terbaik masyarakat kuno, juga tidak mungkin terwujud.

Bicara soal “dunia bersama” pada kriteria moral yang lebih rendah, pasti akan terjebak di dalam stereotype paham komunis. Oleh karena itu, konsep pemikiran bersama, dengan Utopia di Barat, dengan desa global dari paham komunis, serta “komunitas manusia” dari Komunis Tiongkok, menjadi memiliki banyak kemiripan, alias setali tiga uang.

Konsep pemerintah dunia sama sekali tidak memungkinkan. Massa karavan dari Amerika Selatan mungkin hanya karena alasan eknomi pribadi yang sederhana, mungkin juga ada harapan untuk bergabung bersama dengan keluarga yang telah lebih dulu berada di AS.

Tetapi di balik keyakinan mereka “menerobos perbatasan dengan damai”, sebenarnya adalah pemikiran paham komunis, adalah bayang-bayang komunisme.

Negara Amerika kaya, orang Amerika memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi, maka kami juga mau semangkuk sup, dan untuk mendapat semangkuk sup ini, tidak perlu alasan apa pun, juga tidak perlu batasan hukum, juga tidak peduli jutaan imigran legal yang menantikan memasuki Amerika secara sah. Pokoknya kami mau pergi ke Amerika, dan kalian harus menerima kami. Jika tidak, maka kami akan..… sebenarnya, inilah paham komunis, anarkisme, pemikiran mafia, juga merupakan gaya brandalan kalangan proletariat!

Di balik karavan Amerika Selatan, terdapat dorongan pemikiran komunisme, juga ada dorongan konsep “perang rakyat” ala Komunis Tiongkok. Orang yang digerakkan oleh pemikiran komunis, paham sosialis, dan pikiran sayap kiri, sedang memanfaatkan kebaikan hati orang AS, menjadikan simpati dan kebaikan hati masyarakat AS yang taat hukum, menjadi hal yang bisa diharapkan.

Coba saja konvoi karavan ini melakukan hal yang sama di perbatasan Tiongkok atau di perbatasan Rusia. Lihat apakah mereka masih berani menerobos!

Dalam hal senjata nuklir Korut, pakar yang naiv mengira Korut akan menyebabkan “masalah pengungsi” bagi Komunis Tiongkok dan pengungsi Korut akan membuat Tiongkok sakit kepala!

Ini adalah omong kosong yang tidak berdasar, Komunis Tiongkok sama sekali tidak akan berbelas kasih terhadap pengungsi Korut, terlebih lagi tidak akan ketakutan terhadap pengungsi Korut yang berdatangan.

Sebaliknya, Komunis Tiongkok akan mengerahkan pasukan membendung perbatasan, melakukan pembantaian dan membunuh pengungsi Korut, membuat mereka tidak akan bisa melewati Sungai Yalu!

Konvoi karavan Amerika Selatan membuat orang teringat akan novel “Huang Huo (Yellow Peril /Bencana Kuning, Red.)”; perjalanan 2500 kilometer, mirip dengan versi lain “Long March” Komunis Tiongkok. 7.000 orang dari Honduras, jika berhasil menerobos perbatasan, akan segera menyusul puluhan ribu bahkan jutaan pengungsi ekonomi akan menuntut masuk perbatasan.

Konvoi karavan pasti diorganisir, ada yang menyediakan dana, ada yang menyediakan sandang pangan. Siapa di baliknya?

Seorang anggota kongres sayap kiri di Honduras, secara terang-terangan memotivasi para pengungsi ekonomi tersebut pergi ke Amerika. Stasiun TV AS meliput seorang warga AS yang mendukung konvoi karavan secara terang-terangan, yang ternyata adalah seorang Hispanik.

Saat reporter menanyakan apa dasar hukumnya masuk ke AS, ia tidak bisa menjawab, dan justru mengatakan dulu orang Eropa datang ke Amerika menduduki lahan milik suku Indian. Sekarang mereka adalah orang Indian yang datang, sungguh jawaban yang menggelikan.

Pasukan AS yang menghalangi konvoi, dari rencana awal 800 orang, lalu menjadi 2.000 orang, sampai 5.000 orang, hingga 15.000 orang. Trump telah bertekad, tidak akan mengendur.

Dua orang prajurit mengangkat satu orang pengungsi, akan bisa mengangkat semua pengungsi itu kembali ke Meksiko. Saat Trump memberantas imigran gelap, sebenarnya adalah pukulan keras terhadap paham komunis yang merajalela di seluruh dunia. (sud/whs/asr)

Sumber : EpochWeekly

Artikel Ini Terbit di Epochtimes versi Bahasa Indonesia Edisi 579

Share

Video Popular