Erabaru.net. Pada tahun ke delapan era Shunzhi (1651M), di bawah pemerintahan Dinasti Qing, Luo Zhonglin dipromosikan untuk menjadi kepala provinsi Changzhou (kini provinsi Jiangsu). Luo mendapatkan penghormatan dari khalayak luas karena moralitasnya yang tinggi.

Mengakhiri Praktek Suap

Beberapa kabupaten di bawah yurisdiksinya mendapat pajak yang sangat berat. Luo melihat adanya ketidakadilan, dan berniat untuk merubah kebijakan yang berlaku. Dia menyimpulkan bahwa hukum pajak yang berlaku terlalu kompleks, yang mana ada celah untuk memperbolehkan para pejabat, untuk meminta uang kepada penduduk.

Solusi yang kemudian dilakukan oleh Luo adalah untuk merubah aturan hukum pajak menjadi jauh lebih sederhana dan transparan. Aturan baru yang lebih ringan dan lebih transparan, yang telah dibuat Luo, tidak memberikan ruang kepada para pejabat serakah untuk menerima suap ataupun menggunakan posisinya untuk menekan orang lain.

Setiap masing-masing kabupaten, sebelumnya harus menyetor 3.000 keping koin emas kepada pejabat yang mengurus transportasi di sepanjang kanal, supaya bisa diberi akses dengan bebas.

“Jika ada keuntungan sebesar 3.000 koin emas dari setiap kabupaten, bukankah itu berasal dari kantung para pembayar pajak?” kata Luo

Perlahan-lahan Luo terus mengeluarkan aturan ketat untuk melarang praktek penyuapan yang terjadi. Pada akhirnya, tidak ada satupun pejabat yang berani lagi menerima suap.

Tahun berikutnya, provinsi yang Luo pimpin mengalami bencana banjir yang besar. Kemudian Luo membuka gudang makanan pemerintah, selain itu dia juga mengajak orang-orang kaya untuk menyediakan makanan dan memberikannya kepada yang membutuhkan. Luar biasanya, berkat langkah yang diambil oleh Luo, tidak ada satu orangpun di wilayah yurisdiksinya yang harus meninggalkan tempat tinggalnya, ataupun menjadi pengungsi.

Satu tahun kemudian, ketika bencana kekeringan melanda negrinya. Luo mengenakan mantel kasar dan sandal jerami. Dia berjalan menyusuri tanah yang tandus dan berdoa agar hujan turun, meminta pengampunan kepada langit dengan air mata mengalir di pipinya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena kurang bermoral, yang mana kemudian menyebabkan kesulitan bagi orang-orang di provinsi yang dia pimpin.

Luo kemudian mendapat penghormatan dari khalayak luas, karena moralitasnya yang tinggi

Ilustrasi. (Wikimedia Commons/Public Domain)

Ketika Hujan Deras Turun

Luo Zhonglin menjabat sebagai komisioner kabupaten Zhouzhi (kini Provinsi Shaanxi), pada tahun ke-16 era Shunzhi (1659M).

Tidak lama kemudian, Kangxi, kaisar Tiongkok dengan masa pemerintahan terlama dari Dinasti Qing (1644-1912), naik tahta pada tahun 1662.

Pada musim panas saat itu, wilayah Shaanxi mengalami hujan deras yang berkepanjangan, sungai Wei meluap dengan sangat cepat, luapannya mengarah ke wilayah Selatan sungai, dan itu bisa menyebabkan seluruh kabupaten terendam banjir.

Di hadapan bencana, Luo berpuasa, berdoa sambil berlutut di bawah guyuran hujan. Ajaibnya, hujanpun berhenti. Arus luapan sungai berubah arah dan meluap ke daratan di sisi Utara sungai, yang mana adalah tanah kosong yang luas. Kabupaten yang dipimpin Luo terbebas dari ancaman banjir.

Sekali lagi, Luo telah memahami tanggung jawabnya sebagai komisioner, dan telah berani mengakui bahwa moralitasnya yang kurang baik menyebabkan bencana bagi wilayah yang dia pimpin. Dia adalah seorang manusia yang mengetahui standar moralitas, dan mengemban tanggung jawab sambil mengikuti standar moralitas tersebut. (lpc/jul)

Sumber: thebl.com

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds