Erabaru.net. Untuk menghormati seorang guru dan ajarannya yang bijak, telah sangat melekat dalam budaya tradisional Tiongkok. Menurut Kitab tentang Upacara dan Tata Krama (Li Ji). “Menghormati para guru akan membuat seseorang menghargai pengetahuan; menghargai pengetahuan akan membantu serta mempermudah seseorang belajar.”

Standar Perilaku: Ajaran Konfusius

Konfusius adalah salah satu orang suci yang paling dikenal dari zaman Tiongkok kuno. Dikatakan bahwa dia mempunyai 3.000 orang murid. Salah satunya, Zi You, yang berasal dari Tiongkok bagian Selatan.

Di usia 22 tahun, Zi You menempuh perjalanan ratusan mil untuk mengikuti kelas belajar yang diadakan oleh Konfusius, yang saat itu telah berusia 67 tahun. Dia adalah siswa yang sangat teliti, yang menggunakan Kitab tentang Puisi (Shi Jing) untuk memandu ucapannya, dan Kitab tentang Upacara dan Tata Krama (Li Ji) untuk memandu perilakunya.

Konfusius bersama murid-muridnya. (Wikiquote)

Kedua buku tersebut adalah karya klasik yang ditulis oleh Konfusius. Kitab tentang Upacara dan Tata Krama mendiskusikan hal-hal di bidang sosial, serta aturan-aturan administratif dan upacara, apa yang tertulis dalam kitab ini dipraktekkan pada masa Negara-Negara Berperang dan di masa awal Dinasti Han. Kitab tentang Puisi adalah koleksi kumpulan puisi tertua di dunia dan membahas hal-hal mengenai pikiran dan hati manusia.

Berkat perilaku belajarnya yang luar biasa, Zi You berhasil menyerap semua ilmu yang dipelajarinya, dan kemudian menerapkan semua itu dalam tindakan nyata. Dia dianggap sebagai salah satu dari 10 murid terbaik Konfusius.

Zi You dianggap sebagai siswa Konfusius yang paling unggul dalam studi ajaran klasik. (Wikipedia)

“Saya beruntung memiliki Zi You sebagai murid saya,” kata Konfusius. “Dan saya tahu bahwa dia akan menyebarkan ajaran saya ke wilayah Tiongkok bagian Selatan”

Setelah ditunjuk menjadi kepala wilayah kota Wucheng, Zi You mengelola kota tersebut dengan kebaikan hati – sebuah elemen kunci dari ajaran Konfusius. Dia sangat disukai oleh para penduduk kota Wucheng.

Ketika Konfusius mengunjungi kota Wucheng dia menemukan bahwa para penduduk di kota tersebut berperilaku dengan sangat beradab. Karena itu, dia memuji Zi You karena telah mempromosikan sopan santun, perilaku yang baik, serta moralitas lewat pendidikan dan musik.

Setelah Konfusius mangkat, Zi You kemudian mengompilasi Analek sebagai catatan kata-kata Konfusius.

Menghargai Integritas: Kaisar Guangwu dan Huan Rong

Ketika Guangwu, kaisar pertama Dinasti Han Timur, sedang mencari seorang guru untuk putranya, Pangeran Liu Zhuang, kepala bagian keamanannya merekomendasikan mantan guru yang pernah mengajar dirinya, Huan Rong.

Kaisar Guangwu adalah seorang Kaisar Dinasti Han, seseorang yang memulihkan dinasti tersebut pada tahun 25, dan karena itu dia diangap sebagai pendiri Dinasti Han periode berikutnya, atau yang dikenal sebagai Dinasti Han Timur (Dinasti Han yang telah dipulihkan kembali) (Wikimedia/ Yan Li-pei)

Karena pengetahuannya yang luas dan perilakunya yang lurus, Huan sangat dihormati sebagai seorang manusia dengan integritas yang tinggi. Namun tetap saja, kepala bagian keamanan He Tang merasa harus mengingatkan mantan gurunya, tentang apa yang diharapkan dari dirinya.

“Seorang intelektual boleh berfokus pada prinsip dan detail,” kata He Tang kepada Huan. “Namun menjadi seorang pejabat pemerintah mengharuskan seseorang untuk fleksibel. Mohon untuk jangan terlalu keras kepada kaisar ataupun kepada pangeran.”

Huan menjawab, “Saya adalah mantan gurumu dan kamu sudah mengenal saya dengan baik. Saya sangat menghargai moralitas dan sama sekali tidak tertarik untuk menjadi seorang pejabat pemerintah. Karena Yang Mulia sangat cerdas dan memerlukan seseorang dengan integritas, saya baru mau menerima tugas ini. Bagaimana bisa kamu begitu licik dan memberitahu saya untuk memperlakukan kaisar dengan longgar?”

Karena hal ini, Huan berusaha untuk mengundurkan diri, yang segera ditolak oleh kaisar. Kaisar Guangwu dan Huan mendiskusikan penyebab dia ingin mengundurkan diri dengan sangat seksama. Pada akhirnya, kaisar setuju dengan cara pandang Huan dan berterima kasih kepadanya karena tidak mengubah standar perilakunya.

Jadi, Huan setuju untuk mengajari pangeran, namun dengan caranya sendiri. Sang pangeran mempelajari Shang Shu dan beberapa ajaran klasik dari Huan, dan dia sangat menghormatinya.

Sembilan tahun kemudian, pangeran dianggap sebagai salah satu dari para intelek terhebat di masanya. Ketika pangeran akan naik tahta menggantikan Ayahnya, Huan berulangkali meminta untuk mengundurkan diri, menegaskan bahwa dia sama sekali tidak tertarik dengan ketenaran.

Setelah naik tahta, sang pangeran, yang kemudian menjadi Kaisar Mingdi, menunjukkan rasa hormatnya kepada Huan Rong dengan cara yang berbeda, dan tidak pernah berhenti mengunjunginya untuk terus belajar kepadanya. (lpc/jul)

Sumber: thebl.com

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds