Dubai — Diplomat Korea Selatan, Kim Jong Yang, terpilih sebagai presiden Interpol pada 21 November 2018. Kim mengalahkan veteran dari dinas keamanan Rusia yang ditentang keras oleh AS, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya.

Terpilihnya perwira tinggi kepolisian Korea Selatan itu dipandang sebagai kemenangan bagi Gedung Putih dan mitra-mitranya di Eropa. Mereka telah menghambat upaya-upaya Alexander Prokopchuk untuk dinobatkan sebagai presiden organisasi kerjasama kepolisian kriminal dunia itu.

Amerika dan sejumlah negara lain sebelumnya menyatakan keprihatinan bahwa jika kandidat Rusia terpilih sebagai Presiden Interpol, maka akan mengarah pada pelanggaran aturan lebih lanjut dari Kremlin. Rusia dikhawatirkan akan menyalahgunakan sistem Daftar Pencarian Orang (DPO) jenis ‘Red Notice’ untuk menangkapi lawan politik dan buronan pembangkang Presiden Putin.

Rusia menuduh pengkritiknya menjalankan operasi untuk mendiskreditkan kandidat mereka. Moskow juga menyebut bahwa Prokopchuk adalah seorang profesional yang dihormati.

Alexander Prokopchuk, pensiunan jenderal Kementerian Dalam Negeri Rusia yang saat ini menjadi wakil presiden Interpol. Pengkritik Kremlin termasuk pemodal Bill Browder, Mikhail Khodorkovsky, dan Alexei Navalny memperingatkan bahwa jika pejabat polisi Rusia ini terpilih, maka akan merusak Interpol. (Foto : Kementerian Dalam Negeri Rusia/AP/The Epoch Times)

Kemenangan Kim berarti dia mendapatkan setidaknya dua pertiga suara yang diberikan di majelis umum Interpol di Dubai pada hari Rabu (21/11/2018) waktu setempat. Dia akan bertugas hingga 2020, menyelesaikan mandat empat tahun dari pendahulunya, Meng Hongwei, yang ditahan di Tiongkok sebagai bagian dari penegakan hukum anti-korupsi di negeri tirai bambu.

Kim, yang juga seorang pejabat polisi di Korea Selatan, bertugas sebagai presiden sementara setelah kepergian Meng dari pos jabatannya. Sebab Kim adalah wakil presiden senior di Interpol.

Kementerian Dalam Negeri Rusia mengatakan setelah pemungutan suara ini, Prokopchuk, yang merupakan salah satu dari tiga wakil presiden di Interpol, akan tetap melanjutkan perannya dalam posisi itu.

Sebagian besar dari 194 negara anggota Interpol menghadiri pertemuan tahunan organisasi tahun ini, yang diselenggarakan di sebuah hotel mewah Dubai di sepanjang pantai Teluk Persia.

Interpol menghadapi momen penting dalam sejarahnya ketika para delegasi memutuskan apakah akan menyerahkan tongkat komando kepresidenannya kepada Prokopchuk atau Kim.

Berbasis di kota Perancis, Lyon, badan kepolisian yang berusia 95 tahun itu terkenal karena sering menerbitkan “Red Notice”. Daftar DPO tertinggi itu mengidentifikasi tersangka yang dikejar oleh negara lain, dan secara efektif menempatkan mereka dalam daftar orang “paling dicari” di dunia.

Kritikus mengatakan negara-negara seperti Rusia, Turki, Mesir, Iran, dan Tiongkok telah menggunakan sistem ini untuk mencoba menangkapi lawan politik, wartawan atau aktivis. Meskipun aturannya melarang penggunaan pemberitahuan (notice) Interpol untuk alasan politik.

Agensi tersebut menghadapi kritik dua tahun lalu ketika negara-negara anggota Interpol menyetujui Meng sebagai presiden Interpol untuk masa jabatan empat tahun. Amnesty International mengkritik praktik lama Tiongkok untuk mencoba menggunakan Interpol dalam menangkap para pembangkang dan pengungsi di luar negeri.

Pada tahun 2016, Interpol memperkenalkan langkah-langkah baru yang ditujukan untuk memperkuat kerangka hukum terkait sistem ‘Red Notice’ (pemberitahuan merah). Sebagai bagian dari perubahan, tim pengacara dan ahli internasional pertama-tama memeriksa kepatuhan pemberitahuan dengan peraturan Interpol sebelum keluar. Interpol juga mengatakan bahwa mereka meningkatkan kerja badan banding untuk mereka yang ditargetkan untuk ditangkap dengan dasar ‘Red Notice’.

Namun, negara-negara anggota dapat mengeluarkan permintaan, yang dikenal sebagai difusi, langsung ke negara lain menggunakan sistem komunikasi Interpol, tanpa melalui pemeriksaan terpusat Interpol yang ada untuk ‘Red Notice’. Kelompok pengawas telah mendesak Interpol untuk turut mereformasi sistem difusi.

Bill Browder, yang mengelola dana investasi yang pernah beroperasi di Moskow, mengatakan Rusia menggunakan sistem difusi terhadapnya, yang menyebabkan penangkapan singkatnya di Spanyol awal tahun ini.

Kritikus Kremlin, Mikhail Khodorkovsky, kanan, dan investor William Browder menghadiri konferensi pers bersama di London, pada 20 November 2018. (Foto : AP/The Epoch Times)

Browder dan seorang kritikus Kremlin terkemuka lain memperingatkan pada Selasa (20/11/2018) bahwa memilih Prokopchuk yang memiliki hubungan dengan Presiden Vladimir Putin akan merusak badan penegak hukum internasional dan mempolitisasi kerjasama polisi lintas batas. Prokopchuk bertanggung jawab untuk memfasilitasi waran Interpol atas nama Rusia.

Kepala kelompok pengawas yang telah memperjuangkan dan mempelajari reformasi Interpol, Jago Russell dari Fair Trials International, menge-tweet bahwa dia sangat lega dengan hasil pemilihan. Dia juga mengaku senang bahwa, “Kim terpilih dengan mandat yang jelas untuk mengeksekusi reformasi yang diperlukan untuk mencegah penyalahgunaan politik sistem #RedNotice.”

Seorang pengacara yang menulis sebuah buku tentang Interpol, Christopher David, memuji pemilihan Kim sebagai “pilihan yang solid dan tidak kontroversial.” Dia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa jika Interpol akan menjadi sumber daya melawan kejahatan yang kredibel, Kim harus meningkatkan transparansi untuk menunjukkan dan mempertahankan netralitas politiknya.

Sehari sebelum pemungutan suara Interpol, Gedung Putih mengatakan secara terbuka untuk menentang pemilihan Prokopchuk. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Garrett Marquis mengatakan, “Pemerintah Rusia menyalahgunakan proses Interpol untuk melecehkan lawan politiknya.” Dia menambahkan bahwa, “AS sangat mendukung Kim.”

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan Washington mendorong semua negara dan organisasi yang menjadi bagian dari Interpol untuk memilih seorang pemimpin dengan kredibilitas dan integritas. “Kami percaya Tuan Kim akan seperti itu,” kata Pompeo.

Rusia, bagaimanapun, mengamankan kemenangan bagi sekutunya Serbia pada hari Selasa ketika upaya Kosovo untuk bergabung dengan Interpol gagal mengumpulkan suara yang cukup di majelis umum di Dubai. Langkah itu akan mendorong upaya-upaya Kosovo untuk mengakui kenegaraannya. Kosovo mendeklarasikan kemerdekaan dari Serbia pada tahun 2008. (AP/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Video Pilihan :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds