Brussels – Para pejabat Eropa dipaksa untuk mempertahankan undang-undang privasi baru mereka, yang diperuntukkan bagi ekspor ke Amerika Serikat. Undang-Undang itu disalahkan atas kebijakan sebuah kota di Jerman yang membatalkan tradisi Natal bagi anak-anak yang populer.

Otoritas lokal di Roth, dekat Nuremberg, untuk sementara membatalkan acara tahunan di mana anak-anak menggantung catatan tulisan tangan dengan daftar keinginan mereka ke Santa, di pohon Natal di pusat kota. Otoritas mengatakan tradisi harus dibatalkan karena bertentangan dengan undang-undang perlindungan data baru Uni Eropa, Peraturan Perlindungan Data Umum (the General Data Protection Regulation/GDPR), yang mulai berlaku pada bulan Mei 2018.

Namun, stasiun radio lokal, Antenne Bayern menyusun formulir izin orang tua pada saat-saat terakhir. Pejabat setempat kemudian mengatakan perayaan kini akan berjalan sesuai rencana.

Acara tersebut ditunda tahun lalu karena kekhawatiran tentang bagaimana aturan akan diterapkan. Pejabat telah mengumumkan agenda itu dihentikan sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Pada tahun-tahun sebelumnya, sekitar 4.000 anak telah ambil bagian. Catatan alamat rumah yang mereka tinggalkan, kemudian akan digunakan untuk mengatur kunjungan oleh walikota dan kunjungan ke stasiun pemadam kebakaran untuk anak-anak setempat.

Namun, pengacara di balai kota telah memperingatkan bahwa aturan GDPR baru berarti mereka harus memperbarui izin tertulis yang mereka kumpulkan dari orang tua setiap anak. Ijin orangtua dibutuhkan untuk menampilkan daftar keinginan mereka yang disertai alamat rumah untuk ditampilkan di depan umum.

Sebuah townhouse dari pertengahan abad ke-17 di Roth, Jerman dalam foto file. (Michael von Aichberger/Shutterstock/The Epoch Times)

Kota itu bisa saja menghadapi denda berat jika tidak dapat membuktikan bahwa mereka dapat menyimpan dan melindungi data yang diterimanya sesuai dengan standar UE baru yang sangat berat.

“Tidak akan ada mata yang berkilau di depan pohon Natal,” Melanie Hanker, manajer acara pada otoritas lokal, mengatakan kepada surat kabar Jerman, Die Welt.

Daniel Dalton, juru bicara pasar digital untuk kelompok Konservatif Inggris di Parlemen Eropa, mengatakan pejabat setempat telah bertindak seperti ‘Scrooges’ dengan membatalkan acara tersebut.

“Menjaga keamanan data orang-orang adalah penting. Namun mengucapkan ‘bah, humbug’ kepada anak-anak yang hanya ingin menulis kepada Bapa Natal menunjukkan bahwa beberapa orang tidak memiliki petunjuk,” kata Dalton.

Namun, Komisi Eropa membela GDPR dan bersikeras bahwa interpretasi pejabat Jerman terhadap persyaratan yang diterapkan GDPR adalah tidak akurat.

“Sinterklas harus memiliki perincian kontak keluarga untuk memberikan hadiah yang ditunjukkan pada daftar keinginan yang dia terima, asalkan orang tua setuju, dalam kasus anak di bawah umur,” kata juru bicara Komisi Eropa kepada The Epoch Times.

“Ini telah menjadi aturan selama 20 tahun terakhir dan Peraturan Perlindungan Data Umum tidak mengubah situasi ini.”

Dalam sebuah pernyataan, Romina Satiro, dari dewan kota Roth, mengatakan acara tersebut telah diselamatkan pada menit terakhir setelah stasiun radio lokal datang untuk menyelamatkan acara, setelah berkonsultasi dengan pengacara tentang formulir izin orang tua model baru.

“Menurut GDPR yang berlaku sejak Mei 2018, bentuk formulir mendaftar asli dari kota Roth tidak termasuk informasi bahwa data anak-anak akan diserahkan kepada orang ketiga,” kata Satiro.

“Pada formulir baru, informasi tambahan disertakan, yang menjelaskan bahwa semua data akan dibagikan kepada orang ketiga seperti sponsor. Dikombinasikan dengan tanda tangan orang tua, formulir itu diperbolehkan secara hukum.”

GDPR, yang menetapkan ketentuan baru yang ketat tentang apa yang dapat dikumpulkan oleh otoritas data dan perusahaan dan bagaimana dia harus disimpan dan dilindungi, sedang dipertimbangkan sebagai konsep yang mungkin untuk diekspor ke Amerika Serikat.

Perusahaan teknologi, termasuk raksasa komputer Apple dan situs media sosial Facebook, telah mendesak Presiden AS Donald Trump untuk mengadopsi undang-undang gaya Eropa, karena telah menyesuaikan proses mereka.

Chief Executive Apple, Tim Cook, dan kepala privasi Facebook, Erin Egan membuat seruan ketika kunjungan bersama ke ibukota Belgia bulan lalu.

Namun, GDPR telah menjadi kontroversi di Eropa, di mana para kritikus menuduh undang-undang baru itu terlalu berat dan menempatkan beban yang tidak masuk akal pada organisasi kecil dan menengah.

Bahkan beberapa perusahaan besar telah memutuskan bahwa peraturan tersebut terlalu sulit untuk dipenuhi, dengan sejumlah media massa AS, termasuk Los Angeles Times dan Chicago Tribune memblokir situs web mereka bagi pengguna Eropa. (NICK GUTTERIDGE/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Video Pilihan :

Share

Video Popular