Erabaru.net- Kedutaan Besar Tiongkok untuk Pakistan di ibukota Karachi, Jumat (23/11/2018) telah diserang oleh organisasi yang terdiri dari setidaknya tiga orang bersenjata. Serangan ini menunjukkan risiko keamanan di sepanjang strategi One Belt One Road (OBOR) kian terancam.

Tiga orang bersenjata tersebut mencoba untuk memasuki Kedubes Tiongkok tetapi dicegah oleh petugas keamanan di pos penjagaan, tersangka kemudian melepaskan tembakan dan melemparkan sebuah granat di depan gedung.

Pihak kepolisian Pakistan mengirim satuan tugas ke tempat kejadian untuk memblokir jalan dan berusaha melumpuhkan tersangka dengan melepas tembakan sehingga menewaskan ketiga tersangka teroris yang mengenakan rompi anti peluru. Saling menembak berlangsung, dua orang polisi dan dua orang warga sipil tewas terkena tembakan.

Radio Free Asia melakukan sambungan telepon dengan Kedubes Tiongkok di sana dan memperoleh konfirmasi kebenaran serangan dari petugas jaga, mereka menegaskan bahwa 21 orang personel Tiongkok semuanya aman. Pihak berwenang sedang menyelidiki insiden tersebut dan kemudian buru-buru menutup telepon.

Kedutaan Besar Tiongkok untuk Pakistan mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengecam keras serangan teroris.

Pernyataan tersebut mengatakan bahwa situasi telah dapat dikendalikan saat ini, dan tiga orang teroris telah tewas, dan militer lokal dan polisi Pakistan sedang mencari teroris yang melarikan diri. Namun, pernyataan tidak menyebutkan siapa dan alasan mengapa kedubes diserang.

Tak lama setelah insiden tersebut, seorang juru bicara untuk kelompok bersenjata lokal Balochistan Liberation Army (BLA) kepada Reuters mengakui bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan itu.

Seorang juru bicara untuk Balochistan mengatakan bahwa organisasi mengirim tiga orang untuk meluncurkan bom bunuh diri. Dia mengatakan bahwa serangan tersebut sebagai protes atas pengeksploitasian sumber daya alam mereka oleh pihak Beijing.

“Tiongkok komunis sedang mengeksploitasi sumber daya alam Pakistan”

Menurut laporan BBC, Balochistan Liberation Army bukanlah kelompok bersenjata ekstremis agama, tetapi organisasi bersenjata nasionalis yang berjuang untuk kemerdekaan dari Pakistan di Balochistan. Organisasi ini telah aktif di bidang ini sejak lama.

Provinsi Balochistan yang luasnya sekitar 44 % dari Pakistan berpenduduk jarang, dan kaya akan gas alam dan batu bara. Baloch adalah salah satu dari empat kelompok etnis utama di Pakistan dan memiliki bahasa dan budaya yang unik.

Pakistan saat ini sedang dalam krisis utang, dan Balochistan adalah provinsi termiskin di Pakistan.

Tiongkok dan Pakistan pada tahun 2014 mengusulkan untuk mempromosikan proyek Koridor Ekonomi Tiongkok – Pakistan di bawah strategi One Belt One Road. Ujung utara koridor adalah Kashgar, Xinjiang, Tiongkok dan ujung selatan adalah Pelabuhan Gwadar, yang diprediksi akan dijadikan Shenzhen-nya Pakistan.

Pada bulan Nopember tahun lalu, Pelabuhan Gwadar mengumumkan bahwa 91% dari pendapatan operasional pelabuhannya akan menjadi milik Tiongkok, dan Otoritas Pelabuhan Gwadar hanya akan menerima 9% saja. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan di antara orang-orang Pakistan.

Pada bulan Agustus, Perdana Menteri Pakistan yang baru Imran Khan telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi skala pinjaman sebagai beban dari proyek One Belt One Road Tiongkok – Pakistan, juga mengundang Arab Saudi untuk bergabung di “Koridor Pakistan” yang menyebabkan pihak Tiongkok yang terlibat dalam proyek tersebut berhenti berspekulasi.

Tiongkok komunis telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk proyek-proyek terkait di OBOR Tiongkok – Pakistan. Dengan masuknya proyek OBOR, interaksi dengan penduduk setempat semakin meningkat dan kejadian yang tidak diinginkan juga meningkat pula. Dalam beberapa tahun terakhir, insiden kekerasan yang melibatkan pekerja asal Tiongkok telah terjadi berkali-kali, termasuk penculikan dan pembunuhan insinyur.

Radio Free Asia mengutip ucapan Profesor Li Zhengxiu, Wakil peneliti dari Yayasan Penelitian Kebijakan Nasional Taiwan menyebutkan bahwa, biaya proyek OBOR yang ditawarkan kepada Pakistan termasuk cukup tinggi yang menimbulkan naiknya beban utang Pakistan. Sehingga proyek ini bukan untuk membantu negara miskin, tetapi demi terus menerus merampas sumber daya alam mereka. Karena itu penduduk lokal yang tidak dapat mentolerir kemudian   melampiaskan kemarahan mereka dengan cara ektrem.

Profesor Li Zhengxiu percaya bahwa tidak benar bahwa Beijing ingin berinvestasi secara murni di Pakistan. ‘Investasi’ yang Beijing lakukan lebih mengarah untuk merampas atau mengeksploitasi sumber daya alam mereka (negara-negara miskin) yang memang lemah dalam teknologi dan permodalan, dan ingin menggunakan sumber daya lokal untuk mengembangkan perusahaan Tiongkok sendiri. Dalam kasus seperti ini, mereka (penduduk lokal) menggunakan cara-cara seperti itu untuk mengekspresikan ketidakpuasan, cara yang paling langsung dan paling cepat.

Li Zhengxiu berharap pihak Beijing akan berhenti mengikis sumber daya negara lain dengan mengatasnamakan pengembangan melalui proyek-proyek One Belt One Road mereka. Jika tidak maka mereka akan mengundang semakin banyak ketidakpuasan dari negara-negara yang terlibat proyek tersebut. (Sin/asr)

Share

Video Popular