Erabaru.net.  Gunungapi Merapi menunjukkan aktivitas vulkanik. Atas kondisi ini, masyarakat direkomendasikan tak beraktivitas dari radius 3 KM puncak Merapi.

Sebagaimana diketahui, Gunung ini terletak di Klaten, Boyolali, Magelang, Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM mengeluarkan siaran persnya atas kondisi terkini aktivitas Gunung Merapi.

“Masyarakat diperbolehkan menyaksikan aktivitas guguran lava di luar jarak bahaya yang ditetapkan yaitu >3 km dari puncak,” demikian siaran pers BPPTKG, Senin (26/11/2018).

Rekomendasi lainnya, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Sedangkan bagi masyarakat di kawasan rawan bencana III diimbau untuk terus mengikuti informasi pertumbuhan kubah dan guguran lava.

BPPTKG merilis Merapi memasuki fase rupsi magmatis pada11 Agustus 2018 ditandai dengan munculnya kubah lava. Hal ini menandakan bahwa aktivitas pasca letusan 2010 akan cenderung mengikuti kronologi aktivitas pasca 1872.

Pasca letusan 1872 kubah lava baru muncul pada 1883 atau 11 tahun kemudian. Sedangkan pasca 2010 kubah lava baru muncul pada tahun ini atau 8 tahun kemudian.

Dalam fase erupsi efusif ini maka pemantauan visual perkembangan kubah lava dan kestabilan lereng menjadi aspek pemantaun yang krusial dan prioritas. Kubah lava muncul tepat di tengah rekahan kubah lava 2010 dam tumbuh secara simetris.

“Volume kubah lava per 22 november 2018 mencapai 308.000 m3 dengan laju sekitar 3.000 m3/hari terhitung dari awal munculnya,” demikian keterangan BPPTKG.

Seiring dengan pertumbuhan kubah lava guguran lava mulai terjadi pada tanggal 22 Agustus 2018 yang dominan megnarah kepada ke barat laut dalam area kawah.

Material kubah lava 2018 ini sudah mencapai batas permukaan kubah lava 2010 hampir di semua arah termasuk pada arah bukaan kawah.

Hal ini memungkinkan guguran material kubah dapat langsung meluncur ke luar kawah seperti yang terjadi pada 23 November 2018 di mana teramati 4 kalu guguran lava mengarah ke bukaan kawah, hulu kali Gendol. Jarak luncur terjauh sebesar 300 m terjadi pada pukul 19.05 WIB.

Data pemantauan menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi yang menandakan masih berlangsungnya suplai magma.

Berdasarkan laporan mingguan tanggal 16-22 november tercatat kegempaan G.Merapi 28 kali gempa hembusan (DG), 2 kali gempa vulkanik dangkal (VTB), 2 kali gempa fase banyak (MP), 261 kali gempa guguran (RF) dan 21 kali gempa Low Frekuensi (LF).

Jika kubah lava terus mengalami pertumbuhan maka kejadian guguran lava ini akan terus terjadi dan meningkat intensitasnya seiring dengan meningkatnya aktivitas kubah lava.

“Untuk saat ini intensitas guguran masih rendah dengna potensi material yang juga masih kecil sehingga belum membahayakan penduduk,” demikian rilis BPPTKG.

Berdasarkan pemodelan jika sebagian besar volume material kubah lava saat ini runtuh, maka awan panas dapat meluncur ke arah kali gendol sejauh 2,2 km (<3).

Perhitungan ini masih berdasarkan asumsi dan kondisi kubah lava tidak stabil. Adapun saat ini kondisi kubah lava masih stabil berada tepat di tengah kawah.

Aktivitas guguran lava pada erupsi-erupsi efusif sebelumnya menjadi daya Tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar gunung Merapi terutama pada malam hari.

“Diharapkan aktivitas lava pijar 2018 ini selain dapat menjadi sarana hiburan bagi masyarakat juga dapat kesadaran dan semangat kebersamaan dalam mengantisipasi bahaya gunung Merapi ke depan,” pungkas BPPTKG. (asr)

Share

Video Popular