Oleh Chen Guangcheng

Saya dilahirkan dan dibesarkan di Tiongkok di bawah despotisme komunis, secara pribadi menyadari bahwa Partai Komunis yang ateis sama sekali tiada rasa hormat dan  demi mencapai tujuan mereka menghalalkan segala cara, tanpa garis dasar moralitas, membantai manusia termasuk para pembangkang, demi melindungi hak-hak otoriter mereka!

Mengambil program “keluarga berencana” paksaan sebagai satu contoh, Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam kurun waktu 30 tahun lebih telah membunuh sekitar 360.000.000 hingga 400.000.000 janin.

Pada paruh pertama tahun 2005, hanya satu kota Linyi Provinsi Shandong saja terdapat lebih dari 100.000 wanita dipaksa melakukan aborsi.

Lebih dari 600.000 kerabat mereka yang tidak ada hubungannya telah disangkut-pautkan, lalu diculik dan ditahan juga disiksa.

Selama 69 tahun sejak PKT merebut kekuasaan, jumlah orang yang terbunuh diberbagai kampanye/gerakan politik PKT tak terhitung banyaknya.

Hubungan akrab Chen Guangcheng dengan Christian Bale (aktor pemain Batman dan lain-lain) diawali pada 2011 sewaktu Bale mengunjungi daratan Tiongkok untuk mempromosikan film terbarunya. Bale yang bersimpati terhadap kaum tertindas, secara spontan ingin bertemu dengan Chen yang kala itu dalam tahanan rumah Setibanya di kampung halaman Chen di provinsi Shandong, ia bersama beberapa kru CNN mendapatkan perlakuan kasar dari petugas berseragam militer dan beberapa diantaranya berpakaian preman, bahkan sampai mendapatkan bogem mentah. “Yang ingin kulakukan hanyalah ketemu orang itu (Chen), menjabat tangannya dan mengatakan betapa dirinya sangat menginspirasi,” keluh Bale

Saya selalu mengagumi orang-orang yang benar-benar percaya pada agama Katolik, Kristen, Buddha dan lain-lain, juga para pengikut Falun Gong. Kehidupan dan perilaku mereka yang berprinsip, percaya bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia tidak terlepas dari mata Tuhan, kejahatan maupun kebajikan berada dalam pengaturan hukum alam semesta yakni Jalan Ketuhanan.

Namun, kabar bahwa Vatikan sedang diam-diam sibuk bekerjasama dengan PKT (Partai Komunis Tiongkok) “meletus” keluar. Konon kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan mengenai penunjukan uskup di daratan Tiongkok.   

Betulkah Vatikan tidak mengetahui bahwa Tiongkok Merah di bawah kediktatoran komunis, semua hal harus dipimpin dan direstui oleh PKT?

Mengapa pada 1951 hubungan diplomatik Tiongkok dan Vatikan terputus setelah 2 tahun PKT merebut kekuasaan? Itu disebabkan oleh partai yang harus memimpin segala sesuatu termasuk —–Tuhan.

Setelah bertahan selama 67 tahun, jika Vatikan mencampakkan prinsipnya sendiri dan menerima kepemimpinan partai maka hal itu akan menjadi sebuah pelecehan lagi yang selamanya tak akan terhapuskan dalam sejarah Gereja Katolik.

Dalam sejarah Gereja Katolik pernah memiliki catatan buruk berkompromi dengan rezim otoriter fasisme.

Saat itu Paus Pius XII di Roma pernah dikritik karena mengkhianati orang Yahudi di Eropa selama Perang Dunia II: Ia bersikeras bersikap netral dan tidak pernah mengecam solusi terakhir (membantai kaum Yahudi) dari Hitler secara terbuka.

Di tahun 1956 setelah Tentara Soviet menumpas pemberontakan Hongaria, Vatikan me-marjinalisasi Uskup Agung yang menentang komunisme dan menganjurkan berkompromi dengan rezim boneka baru…………. Jika menyatakan diri sebagai Pembela “Keadilan”, tapi ketika pihak ‘lurus’ dan ‘jahat’ sedang bertarung, apabila tidak mempertahankan prinsip menopang yang lurus dan menyingkirkan yang jahat, lalu menyatakan diri sebagai ‘bertahan netral’, secara riel disaat itu sudah melepaskan keadilan dan merapat ke  pangkuan kejahatan, hanya berhenti di tengah jalan, berdiri diantara ‘jahat’ dan ‘lurus’, berjarak sama jauhnya dengan ‘jahat’ dan ‘lurus’, sebetulnya bermakna lebih condong ke pihak kejahatan.  

Gambar itu menunjukkan Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan. (Dan Kitwood / Getty Images)

 “Tiongkok tidak memiliki daerah kumuh, tidak ada masalah narkoba kaum muda, semangat nasionalisme Tiongkok sangat positif dan maju terus…….. nilai intinya adalah kerja, kerja dan kerja.” Kata Bishop Marcelo Sanchez Sorondo.

Bukan Tiongkok tidak memiliki daerah kumuh melainkan PKT tidak mengijinkan ada daerah kumuh. Boleh jadi daerah kumuh ada dimana-mana di seluruh negeri. Banyak sekali kelompok lemah seperti para penyandang cacat yang kehidupannya sangat sulit dan tidak memiliki asuransi kesehatan.

Orang Tiongkok terkadang ketika bangun dari tidur menemukan bahwa dijalanan komunitas mereka, mendadak ada banyak pengemis dan orang cacat, kemudian mengetahui bahwa pemerintah daerah lain demi menjaga etika panorama kota, mengumpulkan para pengemis lokal dan menggunakan truck mengirim mereka ke daerah lain. Orang-orang seperti itu dipandang sebagai penduduk kelas bawah dan terus-menerus diusir.

Narkoba di Tiongkok sebenarnya sudah mencapai taraf merajarela, hanya saja media dikontrol ketat oleh PKT, tiada kebebasan berbicara dan kebebasan pers, masalah sejenis ini sangat sulit terbaca di media sana.

Ketika PKT membuat tuduhan palsu dan menahan saya dalam penjara, secara khusus saya memperhatikan bahwa setiap bulan di antara para tahanan yang dikirim ke penjara dari tempat tahanan yang berbeda, sekitar 5%-nya adalah pedagang obat-obatan terlarang.

Perbandingan pengguna narkoba jauh lebih tinggi. Sebelum mendekam dalam penjara PKT, saya sama sekali tidak mengetahui bahwa obat-obatan terlarang (narkoba) yang berada di masyarakat sudah merajarela hingga taraf yang sedemikian serius. 

Pada bulan Agustus tahun lalu, Sorondo menghadiri Konferensi Donor Organ dan Transplantasi Organ Manusia di Tiongkok, pada saat itu dia memuji Tiongkok karena telah mendirikan model praktik terbaik untuk memberantas perdagangan organ bagi seluruh dunia. Ia menambahkan bahwa Tiongkok yang sekarang bukanlah Tiongkok di saat Yohanes Paulus II menjabat sebagai Paus pada tahun 1978 hingga 2005, juga bukan Uni Soviet dimasa Perang Dingin. Sanjungan Sorondo ini sangat menyedihkan.

Saya hendak bertanya: “Apakah Anda mengetahui bahwa pada tahun lalu terdapat 32 mahasiswa raib begitu saja di kota Wuhan? PKT yang memiliki ‘Sky Eye Project (sebutan untuk peralatan jejaring pengontrol masyarakat yang menggunakan ratusan juta unit kamera cctv di seluruh pelosok negeri)’ sangat ironis tidak mampu memberikan petunjuk, wartawan yang berbaik hati menghimbau demi keluarga yang kehilangan anak-anak mereka malah ditahan oleh PKT!

Chinese popular human rights activist Chen Guangcheng poses in Paris on Aug. 31, 2015. (Lionel Bonaventure/AFP/Getty Images)

Di Tiongkok banyak anak-anak diculik saat mereka bermain di jalan, lalu organ mereka dirampas dan dijual.

Selain itu ada laporan dari komunitas Falun Gong tentang investigasi perampasan organ secara hidup dan sejumlah pekerja migran lenyap tanpa bekas dan lain-lain…….. berbagai hal mengerikan yang terus-menerus terjadi dibawah kekuasaan PKT, tidak ada satupun yang tidak menunjukkan penjualan organ yang merajarela di RRT.

Transplantasi organ mulai dari tes darah, pencocokan, pengambilan hingga penyimpanan, transpotasi dan transplantasi, setiap langkah penuh dengan tantangan teknis, mutlak tidak dapat dilakukan oleh beberapa triad kecil.

Di Tiongkok yang dimonopoli oleh PKT jika tidak ada campur tangan langsung dari PKT, tidak ada yang bisa dioperasikan, itu sebabnya saya berpendapat bahwa binis organ yang sedang berlangsung sudah dimonopoli oleh rezim PKT.

Benarkah ini “Model praktik terbaik untuk pemberantasan organ trafficking?” yang dikatakan Sorondo?

Tiongkok kini bukanlah Uni Soviet di zaman Perang Dingin, namun perilaku PKT tiada beda dengan Uni Soviet kala itu.

Pengendalian PKT terhadap pemikiran warganya sendiri, penindasan dan penganiayaan terus ditingkatkan terhadap pembela hak asasi manusia, pengacara HAM dan kebebasan beragama yang menuntut peraturan hukum yang demokratis.

Kerudung hitam, penculikan oleh gangster, penyiksaan kejam dalam penjara ilegal, menyangkut-pautkan keluarga/kerabat yang tidak berdosa (dalam suatu perkara) dan lain-lain, tindakan brutalnya melebihi Tiongkok semasa Yohanes Paulus II masih hidup.

Sebenarnya bukan Tiongkok berubah menjadi lebih baik daripada zaman Sri Paus Yohanes Paulus II, melainkan Paus Francis yang sekarang jauh berbeda dibandingkan dengan Yohanes Paulus II. (LIN/WHS/asr)

 Chen Guangcheng adalah seorang aktivis hak asasi sipil Tiongkok yang bekerja pada masalah-masalah hak asasi manusia di wilayah-wilayah pedesaan di RRT. Pada April 2012, Chen melarikan diri dari penahanan rumahnya dan pergi ke Kedutaan Besar A.S. di Beijing.  Pada Oktober 2013, Chen mendapatkan sebuah jabatan pada kelompok penelitian konservatif Institut Witherspoon dan sebuah jabatan pada Universitas Katolik Amerika. 

Artikel Ini Terbit di Epochtimes versi Bahasa Indonesia Edisi 580

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds