Erabaru.net. Suatu hari, ada orang suci yang sudah sekarat, dia berbaring sambil dikelilingi oleh murid-muridnya, dia berkata, “Murid-muridku, jika kalian ingin menapaki jalan spiritual, jangan biarkan kucing masuk ke dalam gubuk!” Tepat setelah berkata demikian, diapun menutup matanya dan meninggal.

Para murid merasa bingung akan maksud dari pesan terakhir gurunya, mereka saling berdiskusi satu sama lain, dan tetap saja tidak ada yang bisa memahami kata-kata terakhir guru mereka.

Ilustrasi. Kredit: youtube.com

Mereka tahu ada seseorang yang paling tua di desa, usia pria itu sudah sangat tua, kira-kira seusia dengan guru mereka. Mereka berpikir bahwa mungkin saja orang tua itu akan tahu apa makna dibalik kata-kata gurunya, jadi mereka menemui orang tua tersebut.

Setelah mendengar pertanyaan mereka, orang tua tersebut berkata, “Oh, guru kalian sedang menceritakan kehidupannya sendiri, masa lalunya sendiri, kalian hanya mendengar sebagian kisah dan tidak mengetahui kisah lengkapnya, baiklah, biar saya ceritakan agar kalian mengerti mengapa jika kalian ingin menapaki jalan spiritual, jangan biarkan kucing masuk ke dalam gubuk.”

Di masa lalu, di sebuah desa, ada seorang pemuda yang memutuskan untuk menapaki jalan spiritual dan menjadi pertapa, maka dia naik ke atas gunung dan menyepi disana.

Setiap pagi, dia akan turun gunung menuju ke desa terdekat untuk meminta sedekah makanan, untuk memenuhi kebutuhannya.

Setelah beberapa waktu, penduduk desa sangat terkesan padanya dan sangat menghormatinya, maka kemudian penduduk desa memutuskan untuk membuatkan sebuah gubuk di atas gunung, agar si pertapa bisa mendapatkan tempat berteduh yang lebih baik.

Ilustrasi. Kredit: chineseliteraturepodcast.com

Si pertapa tidak enak untuk menolak, dan menerima sebuah gubuk yang didirikan untuknya.

Si pertapa tidak memiliki apapun, selain sebuah mangkuk mengemis, serta dua lembar jubah kain, dimana satu jubah akan dia kenakan, dan satu jubah dia simpan di gubuknya.

Tak disangka, suatu hari ada beberapa ekor tikus yang masuk ke gubuk si pertapa dan dia menggigiti jubah yang disimpan disana, si pertapa masih tidak perduli, dan kali ini dia meminta benang, kain sisa, dan jarum kepada penduduk desa, yang kemudian dia gunakan untuk menambal jubahnya yang koyak karena digigiti tikus.

Ilustrasi. Kredit: thespruce.com

Namun setelah beberapa hari, ternyata kejadian itu terulang lagi, dan kembali si pertapa akan menambal jubahnya.

Ilustrasi. Kredit: pestwiki.com

Akhirnya si pertapa mulai tidak sabar dan menceritakan keluhannya kepada penduduk desa. Penduduk desa merasa kasihan, kemudian ada satu orang yang memberinya seekor kucing, agar dipelihara di dalam gubuknya, dengan tujuan agar kucing itu mengusir tikus-tikus yang suka menggerogoti jubah si pertapa.

Ilustrasi. Kredit: royalcanin.com

Si pertapa tidak enak untuk menolak, dan akhirnya seekor kucing tinggal di dalam gubuknya.

Akhirnya jubah-jubah si pertapapun aman, tidak ada lagi tikus yang menggerogoti jubahnya, namun di sisi lain, si pertapa kini menjadi lebih sibuk, karena dia harus meminta susu setiap hari untuk kucing yang ada di gubuknya, dan dia juga harus merawat kucing tersebut.

Setelah beberapa waktu, penduduk desa merasa kasihan kepada si pertapa karena setiap hari dia harus meminta sedekah susu. Akhirnya seorang penduduk desa memberinya seekor sapi perah, dan si pertapa akan tidak perlu lagi mencari susu untuk kucingnya, dia bisa memerah sapi tersebut dan kemudian susu sapi itu bisa dia berikan untuk kucing penjaga gubuknya.

Ilustrasi. (Wikipedia. Commons)

Si pertapa tidak enak untuk menolak, dan akhirnya diapun memelihara seekor sapi perah.

Namun kini si pertapa mempunyai “tugas” baru, setiap hari dia harus mencari rumput, sebagai makanan bagi sapinya.

Hal itu terus berlangsung sampai akhirnya penduduk desa mengetahui bahwa si pertapa sangat sibuk setiap hari karena harus meminta sedekah makan, mencari rumput, mengurus sapi, serta mengurus kucing yang menjaga gubuknya dari tikus-tikus.

Di desa tersebut, ada seorang janda yang hidup sendirian, penduduk desa kemudian menyarankan agar dia tinggal bersama si pertapa dan membantu si pertapa mengurus keperluannya sehari-hari, janda itupun setuju.

Si pertapa tidak enak untuk menolak, dan akhirnya dia menerima janda tersebut untuk tinggal dengannya.

Janda itu kini tinggal bersama si pertapa dan membantu mengurus keperluannya sehari-hari, mereka tinggal bersama selama beberapa tahun, dan akhirnya tanpa mereka sadari, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.

Merekapun kemudian menikah, dan beberapa tahun kemudian, anak merekapun lahir, ketika anak itu sudah berusia 3 tahun, barulah di pertapa sadar, “Apa yang terjadi dalam hidup saya? Saya ingin melepaskan kehidupan duniawi dan menapaki jalan spiritual, namun sekarang saya malah kembali berada dalam kehidupan duniawi?”

Ilustrasi. Kredit: culturalindia.net

Orang tua ini kemudian menutup ceritanya, “Dan dia sadar, bahwa semua itu diawali dengan jubahnya yang digigiti tikus, kemudian dia merasa tidak sabar lalu mulai mengeluh, yang pada akhirnya menyebabkan seekor kucing masuk ke gubuknya, itulah sebabnya dia berpesan; jangan biarkan kucing masuk ke dalam gubuk!”

Bagi mereka yang ingin sungguh menapaki jalan spiritual, mereka harus sungguh-sungguh belajar untuk sabar, dan harus fokus pada pelatihan diri, serta jangan sampai terkecoh oleh hal-hal duniawi. (tcn/jul)

Sumber: pencerahansejati.com

VIDEO REKOMENDASI

Era Baru

Share

Video Popular