Para peneliti Tiongkok di Tiongkok selatan mengklaim bahwa mereka telah menghasilkan anak-anak pertama yang telah dimodifikasi secara genetik di dunia, sepasang gadis kembar dengan kekebalan terhadap infeksi oleh virus HIV. Terlepas dari masalah etika yang melekat pada eksperimen tersebut, serta keraguan-keraguan tentang hasil yang diharapkan, pengembangan tersebut telah menekankan parahnya krisis AIDS di Tiongkok.

He Jiankui adalah peneliti di Universitas Sains dan Teknologi Selatan di Shenzhen, Provinsi Guangdong. Pada 26 November, sehari sebelum konferensi rekayasa genetika internasional di Hong Kong, He mengatakan gadis kembar tersebut telah lahir bulan ini dengan gen yang telah dimodifikasi, dan akan bebas AIDS seumur hidup.

Sebelum membuat klaimnya, bagaimanapun, He tidak pernah menerbitkan artikel apa pun tentang eksperimennya atau memberikan bukti apa pun untuk apa yang ia klaim telah tercapai. Sementara itu, para ilmuwan medis internasional telah mengkritik He karena mencoba melakukan eksperimen yang berisiko dan tidak etis.

Tanggal 1 Desember adalah Hari AIDS Sedunia. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CCDC) mengumumkan pada 23 November bahwa pada akhir 2018, akan ada 1,25 juta pasien AIDS di Tiongkok. Selain itu, angka tersebut bisa melonjak sekitar sepertiga, karena perkiraan jumlah orang yang tidak tahu bahwa mereka telah terinfeksi.

Pada Konferensi Akademik AIDS Tiongkok kelima diadakan di Kunming Provinsi Yunnan Tiongkok barat dari tanggal 26 September sampai 29 September, para ahli AIDS mengumumkan bahwa ada lebih dari 40.000 pasien baru yang terinfeksi pada kuartal kedua tahun ini, dan bahwa 93,1 persen dari mereka menjadi terjangkit penyakit tersebut karena aktivitas seksual.

Hal ini mengejutkan, karena sebelumnya, unsur utama penularan HIV dan AIDS adalah transfusi dari sumbangan darah tidak bersih, yang populer di kalangan orang Tiongkok pedesaan sebagai sarana untuk menambah penghasilan mereka yang sedikit.

Gao Yaojie, seorang aktivis AIDS yang memenangkan Penghargaan Jonathan Mann untuk Kesehatan dan Hak Asasi Manusia, mengatakan pada tahun 2014 bahwa setidaknya ada 10 juta pasien AIDS di Tiongkok, merupakan 10 kali lipat dari data resmi, dan bahwa sebagian besar dari mereka telah terinfeksi selama proses memberi atau menerima darah.

Namun pada 23 November, Wang Bin, wakil direktur CCDC, mengatakan sarana utama infeksi AIDS di Tiongkok saat ini adalah melalui hubungan seksual, pada kisaran 95,4 persen dari total kasus, sedikit lebih tinggi dari perkiraan lainnya. Sekitar 70 persen kasus AIDS terjadi melalui hubungan heteroseksual, dan 25,5 oleh aktivitas homoseksual.

CCDC menyatakan peningkatan kasus AIDS di kalangan mahasiswa sangat dramatis. Meskipun tidak menghasilkan statistik untuk mendukung pernyataan-pernyataannya, ia mencatat mahasiswa internasional dari negara-negara Afrika sebagai penyebab utama peningkatan tersebut. Menurut Departemen Pendidikan Tiongkok, 50.000 mahasiswa internasional datang ke Tiongkok dari Afrika setiap tahun, menjadi lebih dari 10 persen dari semua mahasiswa internasional di negara tersebut.

China Daily yang dikelola negara melaporkan bahwa banyak mahasiswa Afrika yang mengidap HIV-positif telah masuk ke Tiongkok sejak tahun 2010, ketika pihak berwenang melonggarkan kontrol-kontrol penyakit di departemen imigrasi. Laporan China Daily tersebut menyatakan bahwa mahasiswa internasional cenderung untuk memimpin gaya hidup bebas dengan wanita-wanita setempat, membantu menyebarkan AIDS lebih cepat. (ran)

Rekomendasi video:

Siswa siswa SMA di Tiongkok Mencoba Bunuh Diri, Gegara Wabah TBC yang Diabaikan

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds