Zhang Shengquan

 Ada beberapa daerah di daratan Tiongkok masih mempertahankan sebuah adat yang menyemayamkan jenazah selama 7 hari, baru setelah itu dimakamkan.

Mengapa ada adat semacam ini?

Sebuah penjelasan mengaitkannya dengan kepercayaan. Manusia zaman dahulu ada yang berpendapat, setelah 49 hari seseorang meninggal, baru dapat bereinkarnasi, 49 hari tersebut dibagi menjadi 7X7 hari.

7 hari pertama jenazah diinapkan, di hari ke-7 disebut “Malam roh menengok rumah”. Di hari itu sang arwah terakhir kali datang kedunia manusia untuk menengok keluarganya, jika keluarganya hidup sejahtera, rukun dan damai, maka roh itu dengan lega akan meninggalkan mereka.

Namun, mungkin ada yang belum mengetahui bahwa adat itu sebetulnya masih berhubungan dengan seorang tabib/sinshe termasyhur zaman kuno yang bernama Bian Que (dibaca: Pién Jüè,  401SM~310SM) yang hidup di zaman “Periode Negara Berperang (Tahun 476SM~221SM)”.

Buku “Catatan Sejarah (Shi Ji  史記)” yang ditulis oleh Sima Qian (145SM~90SM), telah mencatat 3000 tahun sejarah Tiongkok kuno hingga tahun 101 SM. Diantaranya terdapat catatan biografi Bian Que, semula Bian Que bukan seorang sinshe, dia adalah seorang pemilik penginapan.

Konon pada suatu hari turun salju sangat lebat, ia melihat seorang manula berada didepan pintu, kedinginan hingga setengah beku, maka ia bergegas menyuruh pegawainya mengangkat masuk manula itu kedalam kamar, dibuatkan api unggun dan minuman Jahe hangat.

BACA JUGA :  Obrolan Seputar Pengobatan Tradisional Tiongkok (1)

Manula itu pun tertolong, belakangan diketahui dia adalah seorang sinshe sakti bernama Zhang Sangjun.   

Bian Que melihat orangtua itu sebatangkara dan tiada yang merawat, maka menampungnya di penginapan.

Tak terasa 10 puluh tahun lebih telah berlalu, kemudian pada suatu hari sebelum wafat, sang manula memanggil Bian Que kedekat ranjangnya dan mengatakan: “Engkau orang baik, juga sangat pandai, aku mempunyai resep rahasia untuk menolong orang, sekarang akan kuwariskan kepadamu, tetapi engkau tidak boleh membocorkan resep itu kepada orang lain”.

Bian Que selanjutnya menggunakan resep-resep misterius tersebut dalam pengobatannya untuk menyelamatkan banyak nyawa pasien dan benar-benar telah manjadi sinshe sakti juga.   

Ini hanyalah sebuah kisah, namun didalamnya terkandung semacam nilai-nilai yang amat tepat dari orang kuno.

Apa yang disebut dalam “hasil kultivasi tidak sembarangan disebarkan” dan “orang yang bajik hatinya baik”, bagaimanapun tugas seorang tabib adalah menyelamatkan manusia, jika membiarkan orang yang berkepribadian tidak lurus mempelajari ilmu kedokteran, maka akan mendatangkan petaka.

Itu sebabnya, sang kakek yang setengah membeku kedinginan di muka pintu Bien Que, kemungkinan demi mencari ahli waris yang sungguh teruji kebaikannya, telah sengaja melakukan hal tersebut. Tujuannya tak lain adalah melalui pengamatan dalam jangka panjang, baru diserahkanlah resep rahasia tersebut.

Sejak semua orang pada zaman Zhan Guo “Periode Negara Berperang (Tahun 476 SM ~ 221 SM)” mengetahui keberadaan tabib sakti Bian Que (401 SM ~ 310 SM) yang mampu “menghidupkan” pasien dari kematian, maka muncul ungkapan: ”Andaikan saja ada sinshe Bian Que maka jiwanya bisa dibangkitkan!”. Mendengar itu, Bian Que hanya berkata: ”Bagaimana mungkin saya dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati? Hanya saja pasien Pangeran itu kebetulan memang belum meninggal, saya hanya membangunkannya.” Itulah yang tercatat dalam buku “Shi Ji (Catatan Sejarah)” hasil karya pakar sejarah Tiongkok kuno Sima Qian (dibaca: Sema Jièn 145 SM ~ 90 SM, pencatat 3000 tahun sejarah Tiongkok kuno sampai dengan tahun 101 SM). Gambar adalah ilustrasi sosok tabib sakti Bian Que yang dibuat di zaman kuno. (Faebot, Wikimedia Commons)

Bien Que setelah menguasai teknik pengobatan dengan mahir, ia menjadi tabib keliling ke seluruh pelosok negeri.

Ketika tiba di Negara Guo, ia menyaksikan sejumlah penduduk sedang bersembahyang, setelah bertanya kepada seorang pelayan raja yang gemar akan ilmu pengobatan, maka si pelayan itu menceritakan perihal sang pangeran yang barusan meninggal secara mendadak.

Setelah memahami kejadiannya, Bian Que menyuruh pelayan itu melapor kepada raja bahwa ia memohon audiensi untuk menolong sang pangeran, agar dapat dibangkitkan dari kematian.

Pelayan itu tidak percaya, bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal dapat dihidupkan kembali?

Bien Que kemudian menyuruh si pelayan memeriksa pangeran apakah hidungnya membengkak, dan di bagian lipat paha apakah masih hangat? Setelah diperiksa memang benar, maka pelayan langsung melapor kepada sang Raja yang kemudian mempersilahkan Bien Que memeriksa sang pangeran.

BACA JUGA :  Keajaiban Ilmu Kedokteran Tiongkok Masa Lampau yang Menakjubkan

Ternyata memang seperti dugaan Bian Que bahwa pangeran itu hanya kehilangan kesadarannya, dan didalam ilmu PTT (Pengobatan Tradisional Tiongkok) gejala tersebut dinamakan Shi Jue (屍厥), di mana si penderita kelihatannya sudah meninggal padahal hanya koma.

Setelah Bian Que melakukan metode penusukan jarum di beberapa titik Akupunktur, maka 1 jam kemudian si pangeran benar-benar hidup kembali. Selanjutnya dicekoki ramuan herbal dan dapat duduk serta setelah dirawat selama 3 minggu dinyatakan sembuh total.   

Sejak itu semua orang mengetahui keberadaan sinshe Bien Que yang mampu menghidupkan pasien dari kematian, maka ketika menghadapi pasien berat, mereka akan berkata: ”Andaikan saja ada sinshe Bien Que alangkah baiknya!”

Ketika Bien Que mendengar perkataan itu, ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berujar: ”Bagaimana mungkin saya dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati? Hanya saja pasien Pangeran itu memang belum meninggal, saya hanya membangunkannya untuk dapat melanjutkan kehidupannya.” Itulah yang tercatat dalam buku “Catatan Sejarah” karangan pakar sejarah Tiongkok kuno Sima Quan (dibaca: Sema Jüèn).  

Justru dikarenakan peristiwa tersebut, di kemudian hari lama-kelamaan terciptalah suatu adat baru yang akan mengebumikan jenazah setelah dipersemayamkan selama 7 hari.

Mengapa harus disemayamkan selama 7 hari? dikhawatirkan yang meninggal bukan benar-benar mati, melainkan mati suri.

Jika memang betul hanya mati suri, tentu kemungkinan bisa hidup kembali. Jika saja tidak bisa hidup lagi sesuai takdirnya, tetapi siapa tahu ada sinshe ajaib seperti Bian Que (dibaca: Pièn Jüé) yang kebetulan lewat, mungkin saja akan terjadi mujizat. Jika tidak, minimal ada upaya untuk menghindari tragedi salah mengubur jiwa yang masih hidup. 

BACA JUGA :  Obrolan Seputar Pengobatan Tradisional Tiongkok (2)

Di zaman sekarang banyak orang mengira ilmu PTT lambat hasilnya dan tidak seampuh/secepat ilmu Pengobatan Kedokteran Barat, sebetulnya tidaklah demikian.

Misalnya berbagai penyakit yang dapat menimbulkan rasa nyeri, melalui Akupunktur dapat cepat diatasi, bahkan tidak mudah kambuh lagi.

Ini dikarenakan PTT (Pengobatan Tradisional Tiongkok) mengatasi penyakit secara holistik (menyeluruh jiwa dan raga), memperbaiki sumber dari penyakit yakni: Saluran Meridian yang tersumbat dan organ-organ yang berkaitan dengan timbulnya rasa nyeri itu, sehingga hasilnya lebih sempurna.

Jika cara penanganannya hanya secara lokal/partial saja (umpama sakit lambung maka hanya lambung yang diobati), itu menunjukkan telah keluar dari dasar teori Ilmu Akupunktur tradisional. PTT adalah ilmu Pewarisan Dewata, tentu mempunyai hubungan sangat erat dengan latihan kultivasi diri sendiri dan dengan sang Pencipta Jagat Raya.

Dalam aliran Buddha maupun aliran Tao telah muncul tidak sedikit ahli PTT yang ulung, mereka bahkan dapat menggunakan kemampuan supra natural yang dalam sekejap dapat menyembuhkan penyakit. Hal seperti ini tidak hanya terjadi di Tiongkok, di sejumlah negara lain (dan agama lain) juga terdapat kasus serupa.

Penulis pernah menonton sebuah film dokumenter bahwa di sebuah negara Asia Tenggara, seorang umat Nasrani menggunakan kemampuan supra naturalnya mengobati dengan cara, tangannya (di ruang demensi lain) yang tidak terlihat (hanya orang yang memiliki mata ketiga baru dapat melihatnya) masuk ke dalam tubuh si pasien, dan mengeluarkan bagian jaringan yang berpenyakit dan anehnya kulit pasien tidak sampai terluka, hanya dari kulitnya mengalir darah segar.

Ilmu Pengobatan Barat modern didasarkan pada ilmu anatomi manusia dan ilmu mikroskop elektron, termasuk dalam lingkup ilmu pengetahuan empiris/bukti nyata. PTT bukan seni atau ketrampilan umum, bukan pula melalui pendidikan tinggi atau praktik klinis sudah bisa menjadi sinshe termasyur. Tinggi rendahnya level teknik pengobatan PTT tergantung pada standar moralitas dan kultivasi sang tabib.

Mengapa Pengobatan Rarat Modern berkembang sangat luas di zaman ini, sedangkan PTT kurang diminati dan jarang muncul tabib sakti di masa kini, menurut penulis ada beberapa alasan sebagai berikut :

1. Kebudayaan Tradisional Tiongkok telah mengalami kerusakan total, paham lurus seperti Langit dan manusia menyatu, hubungan sebab-akibat kebaikan-kejahatan dan prinsip kebajikan-keadilan-kesopanan-kearifan-integritas (ajaran Konfusius) telah sirna.

2. Sistem pendidikan PTT (terutama di daratan Tiongkok) sekarang telah melanggar model pewarisan ilmu PTT, yaitu “Guru membimbing langsung muridnya”, “Diajarkan secara lisan dari hati ke hati” dan “Berkultivasi akhlak”.

3. Banyak pelaku PTT lebih memperhatikan reputasi dan keuntungan serta sangat komersil, pada dasarnya tidak memiliki latar belakang kesadaran dan tujuan mulia untuk menjadi tabib agung.

4. Sebagai akibat dari pencemaran lingkungan yang semakin serius, tak pelak bahan baku herbal untuk resep PTT mengandung sejumlah racun. selain itu, demi kepentingan ekonomi, pabrik herbal PTT menggunakan cara ilegal memproduksi jamu atau tablet PTT. Semua faktor tersebut telah memperlemah daya sembuh herbal dan lambat laun kehilangan kepercayaan dari masyarakat.

PTT mengalami kemerosotan, bukan berarti PTT-nya yang tidak baik, melainkan manusia pelaku PTT-nya yang tidak beres. Namun sinar cermelang kebudayaan PTT tradisional yang sejati akan senantiasa menyinari planet kita ini! (TYS/WHS/asr)

Artikel Ini Terbit di Epochtimes versi Bahasa Indonesia Edisi 580 dan 581

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds