Universitas Shangluo, di Provinsi Shaanxi Tiongkok barat laut, menderita wabah tuberkulosis mulai awal November, namun universitas dan pemerintah setempat telah menyembunyikan epidemi tersebut sampai seorang mahasiswa baru-baru ini memaparkannya kepada sebuah kantor berita.

Pada 29 November, seorang mahasiswa tahun kedua di Universitas Shangluo mengatakan kepada The Paper, sebuah media yang dikelola negara di Shanghai, bahwa para mahasiswa di kampus tersebut telah mengidap tuberkulosis pada awal bulan. Kebanyakan pengidap adalah mahasiswa senior yang tinggal di kompleks asrama yang sama.

“Universitas belum memberi tahu kami berapa banyak orang yang sakit, atau bagaimana wabah itu terjadi. Kami hanya tahu bahwa asrama dan koridor yang terinfeksi telah didekontaminasi,” kata mahasiswa tersebut kepada The Paper.

Dia mengatakan bahwa pada 20 November, pengelola kampus mengatur agar semua orang di universitas melakukan pemeriksaan X-ray paru-paru di dalam sebuah kendaraan pencegahan epidemi, tetapi tidak memberitahu mereka alasan pemeriksaan tersebut. Banyak orang telah memposting pesan di papan buletin sekolah untuk mengungkapkan kekhawatiran tentang wabah dan kemarahan mereka dengan Universitas Shangluo karena menyembunyikan informasi tersebut.

Menanggapi pertanyaan tentang wabah tuberkulosis, kepala medis Universitas Shangluo hanya mengatakan bahwa sekolah telah mendesinfeksikan kampus dan asrama, dan juga telah mengatur agar mahasiswa melakukan pemeriksaan pencegahan epidemi.

Seorang pejabat pemerintah lokal Distrik Shangzhou, tempat Universitas Shangluo berada, mengatakan bahwa wabah tersebut telah terkendali dan tidak ada infeksi berskala besar.

Ketika universitas dan pemerintah setempat dipaksa untuk mengakui epidemi tuberkulosis setelah berita tersebut telah tersiar ke media hampir satu bulan kemudian, publik telah mempertanyakan apakah epidemi itu benar-benar telah dikendalikan.

Sekolah-sekolah dan kampus di Tiongkok sering menutupi wabah penyakit dan skandal-skandal terkait kesehatan lainnya.

Sekolah Menengah No. 4 Taojiang di Provinsi Hunan menyembunyikan wabah tuberkulosis selama hampir setahun mulai tahun 2016.

Pada tahun 2016, Kelas 364 di sekolah tersebut memiliki beberapa siswa yang diberhentikan dari sekolah karena sakit. Tetapi baru pada bulan Agustus 2017 sekolah mengatur para siswa di kelas untuk mengambil tes darah yang menemukan tujuh siswa telah terinfeksi tuberkulosis. Sekolah menetapkan Kelas 364 untuk terus melakukan kegiatan sampai 18 Agustus. Terlepas dari kenyataan bahwa 89 siswa telah dikirim pulang dengan cuti sakit, siswa di kelas-kelas lain tetap tidak menyadari situasi tersebut.

Pada 19 Agustus, sebagian besar orang tua telah memeriksakan anak-anak mereka dan menemukan puluhan siswa didiagnosis menderita tuberkulosis. Dari Agustus hingga September, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Kabupaten Taojiang melakukan tes untuk semua siswa di sekolah. Lebih dari 30 siswa ditemukan telah terinfeksi dan lebih dari 20 didiagnosis dengan tuberkulosis. Pada bulan November, 14 siswa lagi didiagnosis dengan penyakit ini. Menurut statistik tentang jumlah siswa yang terinfeksi dan orang tua mereka, setidaknya 50 siswa telah didiagnosis dengan tuberkulosis, 42 di antaranya berasal dari Kelas 364.

Media Tiongkok akhirnya melaporkan tentang epidemi tersebut pada 15 November namun CDC Kabupaten Taojiang menolak untuk mengungkapkan rinciannya. (ran)

Rekomendasi video:

Siswa siswa SMA di Tiongkok Mencoba Bunuh Diri, Gegara Wabah TBC yang Diabaikan

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds