Nicole Hao/The Epochtimes/ La Gran Época

Erabaru.net. Aksi penyampaian pendapat secara damai untum memprotes pelanggaran HAM oleh rezim komunis Tiongkok yang digelar menjelang KTT G-20 di Buenos Aires, Argentina, ditindak petugas. Peserta aksi damai ditangkap dan ditahan setelah diberitahu oleh polisi bahwa mereka tidak diperkenankan memprotes rezim komunis Tiongkok.

Kronologi kejadian, Praktisi dari latihan spiritual Falun Gong ini berkumpul pada 29 November 2018 di dekat Hotel Sheraton Buenos Aires, di mana pemimpin Tiongkok Xi Jinping menginap. Aksi ini memprotes penindasan rezim komunis yang telah berlangsung selama 19 tahun.

Sekitar belasan demonstran berdiri di belakang barikade pagar besi dan membentang dua spanduk yang menyerukan diakhirinya penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok.

Rekaman kejadian yang didapat oleh The Epoch Times menunjukkan beberapa polisi berusaha merampas spanduk yang menjelma menjadi drama mirip “tarik tambang” dengan polisi di satu sisi dan demonstran.

Seorang praktisi Falun Gong laki-laki akan dipiting oleh polisi Argentina. (Screenshot via YouTube)


Peserta aksi terdengar memohon polisi agar tak meneruskannya, sementara polisi terlihat berbicara dengan para demonstran.

Seorang peserta aksi yang terlibat dalam insiden itu, Natividad Almaraz (25) mengatakan seorang polisi pria mengatakan kepadanya bahwa mereka diberitahu  tidak diizinkan berada di sana karena mereka memprotes rezim Tiongkok.

Aksi protes damai ini dikelilingi oleh ratusan pendukung Partai Komunis Tiongkok (PKT), mengenakan kemeja polo merah dan melambai-lambaikan bendera bintang lima PKT. Kelompok-kelompok semacam itu diketahui dikoordinir oleh kedutaan Tiongkok setempat ketika para pemimpin PKT melakukan kunjungan kenegaraan.

Seorang petugas polisi memberlakukan seorang praktisi Falun Gong memitingnya dengan tongkat. (Screenshot via YouTube)


Berdasarkan video yang diperoleh, seorang pria dari kelompok pro-PKT menyodorkan tiang bendera ke dalam pergumulan sebagai upaya nyata agar demonstran melepaskan spanduk mereka.

Kemudian, beberapa anggota kelompok pro PKT dapat dilihat dengan cepat merampas selebaran yang dijatuhkan dari tas seorang praktisi Falun Gong.

Selama insiden itu, seorang petugas polisi pria dapat dilihat menggunakan tongkatnya untuk memukul tangan demonstran yang sedang memegang spanduk.

Seorang peserta laki-laki dalam kelompok pro-Beijing menyodok praktisi Falun Gong dengan tiang bendera ketika polisi berusaha menarik spanduk praktisi, di Buenos Aires, Argentina, menjelang KTT G-20. (Screenshot via YouTube)


Petugas yang sama nantinya dapat terlihat menggunakan tongkatnya memiting seorang demonstran laki-laki untuk mencoba membuatnya melepaskan spanduk.

Spanduk itu akhirnya dirampas oleh polisi. Demonstran akhirnya digiring dan dibawa ke daerah terdekat.

Ketika seorang polisi menuntun seorang demonstran laki-laki, seorang pria yang mengenakan jas, yang dianggap sebagai petugas bertanggung jawab, menunjuk ke tas demonstran dan berkata, “Dia memiliki bom di sana.” Polisi kemudian terlihat mencari tas dan mengembalikannya kepada pemilik setelah menemukan tidak ada yang mencurigakan.

Pada satu titik, petugas yang bertanggung jawab memberitahu juru kamera, “[Dia atau dia menyerang seorang petugas polisi,” sebagai pembenaran nyata untuk penangkapan).

Sembilan demonstran ditangkap dan ditahan semalam di sebuah kantor polisi setempat. Mereka dibebaskan pada sore hari keesokan harinya tanpa tuduhan.

Para pendukung Partai Komunis Tiongkok merampas flyer dari tas praktisi Falun Gong yang jatuh ke tanah pada 29 November di Buenos Aires, Argentina. (Screenshot / via YouTube)


Polisi setempat tidak menanggapi permintaan dari The Epoch Times untuk dimintai keterangan.

Pesanan dari Atas

Almaraz mengatakan seorang petugas polisi wanita usia insiden tersebut mengatakan kepada dia, bahwa dirinya tidak bisa membantu para demonstran karena perintah untuk menghentikan mereka datang dari atas, dan ada banyak korupsi.

“Polisi wanita itu memberitahu saya, ‘Saya tahu apa yang dilakukan [praktisi Falun Gong] baik,'” kata Almaraz.

Fu Liwei, praktisi Falun Gong Argentina lainnya yang hadir dalam insiden itu, mengatakan bahwa ketika dia tiba, staf dari Kedutaan Besar Tiongkok mengikutinya dan meminta polisi untuk menangkapnya.

“Saya bertanya kepada seorang petugas polisi, ‘Apakah Anda mengawasi saya atau melindungi saya?’ Dia berkata, ‘Keduanya,” kata Fu.

Sebastian Arcusin, salah satu praktisi yang ditangkap, mengatakan para demonstran tidak melakukan tindakan ilegal — mereka melakukan protes damai dan menyerukan diakhirinya penganiayaan di Tiongkok.

“Di Tiongkok, rekan praktisi kami dianiaya. Mereka disiksa. Organ mereka dirampas. Itu genosida! ”Kata Arcusin.

“Kami di sini untuk mereka. Kami meminta untuk menghentikan penganiayaan ini,” tambahnya.

Himpunan Falun Dafa di Argentina mengatakan dalam sebuah pernyataan pada 30 November: “Itu legal bagi praktisi Falun Gong untuk mengajukan petisi damai di sana. Kami akan mengambil tindakan hukum terhadap para pelaku [insiden]. “

Falun Dafa, juga dikenal sebagai Falun Gong, terdiri dari lima latihan meditasi dan didasarkan pada prinsip-prinsip Sejati, Baik, Sabar.

Menurut Minghui.org, Falun Gong dipraktikkan oleh puluhan juta orang di lebih dari 110 negara di seluruh dunia.

Sekjen Partai Komunis Tiongkok (PKT) Jiang Zemin memulai penganiayaan pada tahun 1999. Tindakan brutal dan represip menyebabkan kematian dikonfirmasi lebih dari 4.200 praktisi Falun Gong di Tiongkok. Nyawa mereka terengut akibat penyiksaan dan pelecehan, meskipun angka sebenarnya diduga jauh lebih tinggi.

Sejumlah besar praktisi diduga telah dibunuh setelah organ tubuh mereka dirampas. Peneliti menggambarkan pengambilan organ tubuh secara paksa ini sebagai genosida.

KTT G-20 Tahun 2018 digelar di Buenos Aires, Argentina, dari 30 November hingga 1 Desember. (asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds