oleh ntd.com

Bagaimana perasaan Anda jika setiap gerakan— termasuk apa yang Anda beli di supermarket, dan dengan siapa Anda bertemu — diawasi?

Itu sudah menjadi kenyataan di Tiongkok, negara pengawas terbesar di dunia, yang telah memasang lebih dari 200 juta kamera pengenalan wajah, dan memiliki rencana untuk memasang 400 juta lagi untuk memastikan setiap ruang publik dipantau.

©Shutterstock | Zapp2Photo

Big Brother’ Sedang Mengawasimu

Sebagaimana diketahui ‘Big Brother’ adalah tokoh fiksi dalam novel Nineteen Eighty-Four karya George Orwell.

Ia konon merupakan pemimpin negara Oceania, sebuah negara totalitarian yang dikendalikan oleh partai Ingsoc. Rakyat di negara tersebut selalu diingatkan dengan slogan “Big Brother sedang mengawasimu” di layar.

Istilah kekinian ‘Big Brother’ telah masuk ke dalam kosa kata modern sebagai sinonim untuk penyalahgunaan wewenang pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kebebasan sipil dan pengintaian massal.

Kembali ke topik, rezim Komunis Tiongkok menyatakan rencana ‘perengut privasi’ mereka bertujuan “memungkinkan orang-orang yang terpercaya berpergian ke mana-mana di bawah ‘Langit’ sementara merumitkan orang-orang yang didiskreditkan ketika hanya menentukan satu langkah.”

Sekarang, negara tekno-otoriter yang menyeramkan ini (Distopia) memiliki kemampuan memilih seseorang dari kerumunan 60.000 orang. Itu bukan kabar menyenangkan jika Anda tidak memiliki rekam jejak ‘baik’ versi buku catatan milik Partai Komunis.

©Getty Images | NICOLAS ASFOURI

Gagal di ‘Jari’ Partai dan Divonis

Jaringan pengawasan di mana-mana milik Komunis Tiongkok bekerja sama dengan “sistem kredit” yang hina, dibentuk untuk memberikan ‘reward’ bagi yang berperilaku ‘baik’ dan menghukum bagi yang berperilaku ‘buruk’.

Pada tahun 2020, rencana jahat ini akan beroperasi penuh. Dan, seperti umumnya yang berlaku di negara komunis manapun, rakyat tidak memiliki yang bisa mereka katakan atas masalah ini.

‘Reward’ bagi perilaku yang baik dapat berarti Anda dapat memesan hotel tanpa membayar deposit, dan mungkin mendapatkan diskon pembayaran.

Hukumannya jauh lebih banyak, dari memperlambat kecepatan internet Anda, melarang perjalanan dengan pesawat atau kereta api, melarang anak-anak Anda mengikuti sekolah tertentu, melarang Anda mendapatkan pekerjaan tertentu, menghentikan Anda dari membeli makanan tertentu dengan transaksi elektronik. Itu hanya beberapa contoh saja …

©Shutterstock | MONOPOLY919

Sebagai analogi sederhana tentang bagaimana seseorang dapat memperoleh atau kehilangan poin, membeli popok akan diberi reward dengan poin, karena hal itu dianggap tindakan yang bertanggung jawab. Membeli alkohol secara legal, bagaimanapun, akan menyebabkan Anda kehilangan poin.

Sosok yang Masuk Kategori

Seseorang berada dalam kriteria ke dalam tiga kategori menurut poin mereka: Terpercaya, Rata-rata, dan Tidak Bisa Dipercaya.

Bagi suku Uighur di wilayah Xinjiang barat laut Tiongkok, bagaimanapun, mereka digolongkan ke dalam dua kategori saja: rata-rata, dan tidak bisa dipercaya.

Dengan kata lain, bagi Partai Komunis, tidak ada yang namanya “Uighur yang dapat dipercaya.”

Jurnalis ABC mewawancarai filmmaker, Tahir Hamut, yang berhasil melarikan diri dari Tiongkok pada tahun 2017 untuk mengajukan suaka politik di Amerika Serikat … sebuah langkah yang menggergaji dua saudara laki-lakinya dan saudara iparnya di Xinjiang segera ‘menghilang’ setelah itu.

Isyarat Target Perampasan Organ Tubuh

Setiap suku Uighur harus dipindai wajah dan sidik jari mereka.  Ketika Hamut masih di rumah, dia dipanggil untuk diambil biometriknya dan dipindai sebagai database. Itu bukan prosedur normal sama sekali, setidaknya bagi suku Uighur.

“Kami mendapat telepon dari kantor polisi yang menginstruksikan kami untuk datang,” kenang Hamut.

“Kami dibawa ke ruang bawah tanah. Ada rantai dan belenggu yang tergantung di sel, dan kursi besi yang disebut ‘kursi harimau’ di mana para kriminal diikat. Kami masuk ke dalam dan ada sekitar 20 hingga 30 orang di sana. Kami semua orang Uighur. ”

Ilustrasi– Getty Images | GREG BAKER


“Ketika giliran kami, istri saya dan saya … pertama mereka mengambil darah dari kami.” Setelah itu, pemindaian menyeluruh wajah dari semua sudut diambil.

Hamut mungkin tidak tahu alasan mengapa polisi mengambil darah mereka, tetapi setidaknya, itu bukan untuk tes kesehatan, mengingat perlakuan kasar yang didapatkan Uighur.

Presiden Kongres Uighur se-Dunia, Dolkun Isa kepada Parlemen Inggris pada 13 Desember 2017 berbicara tentang pengambilan organ paksa di Tiongkok.

“Kami juga sangat terganggu oleh laporan pihak berwenang Tiongkok yang mengumpulkan sampel darah dari populasi Uighur di Turkestan Timur,” kata Isa, sebagaimana tercantum di situs web Kongres Uyghur.

Tak Semata Suku Uighur

Menurut Jurnalis investigasi, Ethan Gutmann bahwa polisi juga mengambil darah dari praktisi Falun Gong.

“Polisi datang, mengetuk pintu mereka, dan kemudian melakukan tes darah — yang jelas dimaksudkan untuk pencocokan jaringan darah,” kata Gutmann kepada The Epoch Times.

Gutmann sebagai penulis “Bloody Harvest/The Slaughter : An Update,” mengatakan laporan yang memberatkan penuh bukti tentang pengambilan organ paksa di Tiongkok, sindikat kriminal yang diatur oleh Partai Komunis China, bekerja sama dengan industri medis, polisi, militer, dan departemen ekstra-kehakiman, Kantor 610 yang terkenal kejam.

Praktisi Falun Gong, yang merupakan praktisi meditasi yang damai, adalah target utama untuk pengambilan organ, karena organ mereka yang sehat. Pihak berwenang tahu mereka tidak merokok, tidak minum alkohol, dan menjalani hidup yang relatif sehat.

©The Epoch Times | Youzhi Ma


Mengingat begitu massifnya sistem pengawasan di Tiongkok , begitu Negara mengetahui jenis jaringan darah seseorang dan fitur wajah mereka, tidak sulit bagi polisi untuk menciduk orang itu dari kerumunan dan menculik mereka sebelum transplantasi terjadwal. Mereka tidak perlu sepenuhnya bergantung pada pelacakan orang melalui ponsel.

Ini adalah sistem membunuh atas dasar orderan untuk “tidak dapat dipercaya” di Republik Rakyat Tiongkok.

Suasana Mencekam

Saat ABC melaporkan tentang sistem kredit Tiongkok, jurnalis Matthew Carney dan kru kameranya dimonitor oleh enam pengamat sepanjang waktu, di samping gerakan mereka semakin dibatasi oleh 8–10 penjaga bersenjata.

Mereka diperingatkan untuk tidak berinteraksi dengan penduduk setempat, khususnya di Xinjiang, dan kadang-kadang rekaman mereka diperiksa dan dihapus.

Terjadi ketegangan, catat Carney, dan mewawancarai penduduk setempat tentang pemikiran mereka tentang sistem kredit dan pengawasan yang sangat mengganggu benar-benar terlarang.

“Yang jelas adalah bahwa ada tindakan keras yang brutal dan represif terjadi di sini, dan teknologi berada di pusatnya,” kata Carney.

Sistem pengawasan yang ada di mana-mana dan canggih di Tiongkok cocok dengan otoritas komunis. Apalagi, hanya mengendalikan kontrol secara mutlak.

Setelah Xi Jinping menjadi ketua seumur hidup, itu tidak akan lama lagi sebelum Tiongkok menjadi rezim diktator sepenuhnya, baik secara online maupun offline. (asr)

https://www.facebook.com/ABCForeignCorrespondent/videos/282309782384915/

Artikel Ini sudah tayang di ntd.com dengan judul “Chilling technological advancements have turned China into a dystopian digital dictatorship.”

*Distopia : tempat khayalan yang segala sesuatunya sangat buruk dan tidak menyenangkan serta semua orang tidak bahagia atau ketakutan, lawan dari utopia (Kamus kbbi.kemdikbud.go.id)

 

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds