Buenos Aires – Para pemimpin ekonomi dunia sepakat untuk pertama kalinya mereformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang telah berusia 23 tahun. Para kepala negara dan kepala pemerintahan mendukung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang telah berulang kali menyebut organisasi itu sebagai ‘bencana’. Dalam hal ini dan beberapa poin lainnya, Trump bisa dikatakan membawa kemenangan besar dari pertemuan ber-profil-tinggi itu.

Pada KTT G-20 di Buenos Aires, Argentina, para pemimpin mengakhiri pertemuan dua hari mereka pada 1 Desember 2018 dengan sebuah komunike yang mengakui bahwa badan perdagangan dunia perlu diperbaiki.

“Sistem [multilateral] saat ini kurang dari sasarannya dan ada ruang untuk perbaikan,” kata pernyataan itu. “Kami, oleh karena itu, mendukung reformasi yang diperlukan bagi WTO untuk meningkatkan fungsinya. Kami akan meninjau kemajuan pada KTT kami berikutnya.”

Trump sebelumnya mengkritik organisasi itu karena aturannya yang ketinggalan jaman. Peraturan yang telah menjadi tidak berfungsi dalam mengatur sengketa perdagangan global.

Pemerintahan Trump baru-baru ini memblokir penunjukan hakim baru untuk Badan Banding WTO. Kebijakan itu melumpuhkan sistem penyelesaian sengketa organisasi itu. Namun, ini bukan pertama kalinya Amerika Serikat melakukan langkah semacam itu. Pemerintahan Obama juga pernah memblokir pengangkatan kembali hakim WTO karena keputusan yang tidak disetujui Washington.

Trump sebelumnya mengancam akan menarik Amerika Serikat dari WTO. Dia mengklaim bahwa lembaga itu memperlakukan negaranya dengan tidak adil.

“Kami kehilangan tuntutan hukum, hampir semua tuntutan hukum, di WTO,” klaim Trum, ketika diwawancara Fox News.

Istilah ‘Perlindungan Perdagangan’
Para pemimpin G-20 juga setuju untuk pertama kalinya menyampaikan janji untuk berdiri bersama komunike guna melawan proteksionisme perdagangan, berdasarkan permintaan AS. Bahasa menentang proteksionisme adalah bagian yang bertahan lama dari pernyataan-pernyataan pertemuan sebelumnya. Negara-negara G-20 sebelumnya menyatakan bahwa, “Tanggung jawab untuk menolak proteksionisme dalam segala bentuknya adalah salah satu nilai utama mereka.

Tiongkok, sementara itu, berhasil mengecualikan frase ‘praktik perdagangan tidak adil’. Istilah atau Frase yang ditentangnya pada KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik pada November karena kekhawatiran akan mengasingkan Beijing.

Pada KTT APEC baru-baru ini di Papua Nugini, para pemimpin gagal menyepakati pernyataan bersama untuk pertama kalinya dalam sejarah kelompok itu karena perpecahan atas istilah perdagangan.

Memantau Utang
Komunike G-20 juga membahas meningkatnya kekhawatiran sehubungan dengan praktik pembiayaan, termasuk pendanaan infrastruktur.

“Kami menyerukan kepada IMF dan Bank Dunia untuk bekerja dengan peminjam dan kreditur untuk meningkatkan pencatatan, pemantauan, dan pelaporan transparan kewajiban utang publik dan swasta,” kata pernyataan KTT.

Pemerintahan Trump telah menjadi kritikus vokal dari rencana pengembangan internasional Beijing yang ambisius, Belt and Road Initiative (BRI). Terutama terkait dengan bagaimana BRI adalah ‘jebakan utang’ bagi banyak negara berkembang di Asia Tengah dan Selatan.

Untuk menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa, BRI melibatkan proyek-proyek konstruksi besar yang dibiayai terutama melalui berbagai pemerintah lokal Tiongkok dan lembaga-lembaga yang dikendalikan negara. Kritikus khawatir bahwa Tiongkok menggunakan ‘diplomasi utang’ untuk mendapatkan pengaruh politik dan ekonomi atas negara lain, atau diamnya mereka terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin sebelumnya memperingatkan tentang krisis utang yang menjulang di kawasan Asia-Pasifik dan menuding Tiongkok, serta menyebutnya sebagai ‘kreditur (pengancam) kedaulatan negara yang tidak transparan’.

Para pemimpin G-20 setuju untuk mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kerentanan utang di negara-negara berpenghasilan rendah.

“Kami akan bekerja untuk meningkatkan transparansi utang dan keberlanjutan, serta meningkatkan praktik pembiayaan berkelanjutan,” kata pernyataan itu.

Pembicaraan Bilateral
Trump, yang membuat perdagangan sebagai isu sentral untuk agenda G-20-nya, mengadakan pertemuan bilateral dengan mitra dagang utama di KTT itu.

Dia menghadiri pertemuan trilateral pertama antara Amerika Serikat, Jepang, dan India. Para pemimpin membahas penguatan kemitraan dan berupaya mewujudkan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Pertemuan itu dipandang sebagai kerja sama melawan Tiongkok, karena ketiga negara ini mengkhawatirkan kekuatan Beijing yang sedang meningkat.

Trump juga mengadakan pertemuan bilateral dengan Kanselir Jerman Angela Merkel di sela-sela KTT untuk membahas “perdagangan, masalah multilateral, dan juga perdagangan yang adil serta Organisasi Perdagangan Dunia.”

Trump telah menghadapi kritik atas kebijakan perdagangannya dari para pemimpin Eropa termasuk Merkel pada KTT Kelompok Tujuh tahun ini yang diadakan di Kanada pada bulan Juni. Pemimpin Jerman itu mengejek Trump dengan memposting foto di internet sambil menatap presiden AS selama pertemuan puncak, yang berubah menjadi pertengkaran diplomatik.

Namun, Trump dan Merkel memiliki nada berbeda di G-20. Selama konferensi pers bersama, Trump yang menyebut Merkel sebagai ‘teman saya’, mengatakan bahwa kedua pemimpin memiliki ‘hubungan kerja yang hebat’.

“Kami telah membuat kemajuan luar biasa di G-20 dengan banyak negara,” kata Trump.

Selain itu, Trump mengadakan pertemuan makan malam bilateral dengan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, di mana kedua pihak mengumumkan ‘gencatan perang dagangan’. Xi setuju untuk membuat reformasi struktural dalam tiga bulan ke depan untuk mengatasi kekhawatiran lama Washington tentang praktik tidak adil rezim komunis seperti transfer teknologi paksa, pencurian kekayaan intelektual, dan hambatan non-tarif. (EMEL AKAN/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds